Tempat nongkrong sekarang semakin ramai. Orang bisa duduk bersama berjam-jam, tetapi setelah pulang, banyak yang tetap merasa hubungannya tidak benar-benar dekat.

Fenomena ini semakin sering terasa dalam kehidupan sosial modern. Kafe penuh hampir setiap malam, obrolan berlangsung panjang, foto bersama diunggah ke media sosial, tetapi ada rasa kosong yang kadang muncul setelah semuanya selesai.

Banyak orang tetap bertemu, tetap bercanda, dan tetap terlihat akrab. Namun hubungan emosional yang benar-benar dalam terasa semakin sulit ditemukan.

Kondisi tersebut bukan berarti manusia modern tidak punya teman. Masalahnya, kedekatan sekarang sering hadir dalam bentuk aktivitas bersama, tetapi tidak selalu dalam bentuk keterhubungan emosional yang utuh.

Profesor MIT Sherry Turkle dalam Alone Together [2011] menjelaskan bahwa manusia modern semakin sering ‘bersama tanpa benar-benar hadir’. Teknologi membuat orang terus terkoneksi, tetapi perhatian mereka terbagi ke banyak arah sekaligus.

Hal itu terasa sangat dekat dengan budaya nongkrong sekarang. Semua orang duduk di meja yang sama, tetapi sebagian pikirannya tetap sibuk dengan layar, notifikasi, dan dunia digital masing-masing.

Baca Juga: Orang Sekarang Pergi Healing, Tapi Tetap Bawa Laptop

Nongkrong Sekarang Kadang Jadi Tempat Mengusir Lelah, Bukan Tempat Benar-Benar Bercerita

Ada perubahan kecil dalam cara manusia berkumpul hari ini. Dulu, nongkrong sering menjadi ruang untuk berbagi cerita panjang dan mendengar satu sama lain dengan lebih utuh.

Sekarang, banyak pertemuan sosial berjalan di tengah ritme hidup yang sangat cepat. Orang datang dalam kondisi lelah, pikirannya penuh, dan energinya sudah terkuras sejak sebelum bertemu.

Akibatnya, percakapan sering bergerak di permukaan. Topiknya ramai, candanya ada, tetapi sedikit yang benar-benar membuka dirinya lebih dalam.

Dalam Lost Connections [2018], penulis dan jurnalis Johann Hari menjelaskan bahwa salah satu penyebab meningkatnya rasa sepi modern adalah hilangnya koneksi emosional yang bermakna antarindividu. Manusia tetap dikelilingi banyak orang, tetapi tidak selalu merasa dipahami.

Fenomena itu membuat banyak orang pulang dari nongkrong dengan perasaan aneh. Secara sosial mereka tidak sendirian, tetapi secara emosional masih merasa jauh.

Di sisi lain, budaya media sosial juga ikut memengaruhi cara orang menikmati kebersamaan. Tidak sedikit momen nongkrong yang perlahan berubah menjadi aktivitas dokumentasi: memotret makanan, membuat story, atau merekam suasana untuk dibagikan.

Semua itu memang tidak salah. Namun ketika perhatian terlalu sering berpindah ke layar, kualitas kehadiran dalam percakapan ikut berkurang sedikit demi sedikit.

Baca Juga: Capek Sedikit Langsung Cari Healing, Apa Kita Sudah Lupa Cara Istirahat?

Kedekatan Emosional Membutuhkan Perhatian yang Tidak Bisa Dibagi Terus-Menerus

Hubungan yang terasa dekat sebenarnya dibangun dari hal-hal sederhana: mendengar dengan fokus, merasa aman untuk cerita, dan hadir penuh dalam percakapan.

Masalahnya, kehidupan modern membuat perhatian manusia semakin mudah pecah. Bahkan saat sedang berkumpul, banyak orang tetap merasa harus memeriksa ponsel, membalas pesan, atau mengikuti hal lain di media sosial.

Dr. Vivek Murthy dalam Together [2020] menjelaskan bahwa kesepian modern sering muncul bukan karena kurangnya interaksi sosial, tetapi karena kurangnya hubungan yang terasa tulus dan penuh perhatian.

Hal itu membuat manusia sekarang semakin sering mengalami “keramaian yang sepi.” Aktivitas sosial tetap ada, tetapi rasa terhubungnya tidak selalu ikut tumbuh.

Mungkin itu sebabnya banyak orang bisa nongkrong lama, tetapi saat bubar tetap merasa tidak benar-benar dekat. Bukan karena pertemuannya tidak menyenangkan, melainkan karena kedekatan emosional membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar duduk bersama di tempat yang sama. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.