Beberapa tahun terakhir, istilah healing jadi sangat akrab di kehidupan sehari-hari. Sedikit penat ingin pergi jauh. Baru merasa lelah sedikit sudah mulai mencari tempat tenang, kafe estetik, atau liburan singkat. 

Tidak ada yang salah dengan itu. Namun di tengah budaya yang terus ramai membicarakan healing, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apa kita sebenarnya mulai lupa bagaimana cara benar-benar beristirahat?

Banyak orang sekarang merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar selesai. Bangun tidur masih terasa capek, bekerja sambil memikirkan banyak hal, lalu malamnya tetap sulit merasa tenang meski tubuh sudah diam.

Masalahnya, kelelahan modern tidak selalu berasal dari aktivitas fisik. Pikiran manusia sekarang jarang benar-benar berhenti. Notifikasi terus masuk, media sosial terus bergerak, dan otak terus menerima informasi bahkan saat tubuh sedang mencoba beristirahat.

Psikolog klinis dan penulis Dr. Saundra Dalton-Smith dalam bukunya Sacred Rest [2017] menjelaskan bahwa banyak orang sebenarnya bukan kurang tidur, melainkan kurang istirahat yang benar. Menurutnya, manusia modern mengalami kelelahan emosional, mental, sosial, bahkan digital secara bersamaan.

Karena itu, liburan singkat sering tidak benar-benar menyelesaikan rasa lelah. Tubuh mungkin berpindah tempat, tapi pikiran tetap membawa tekanan yang sama ke mana-mana.

Baca Juga: Tidak Semua Hari Harus Produktif untuk Tetap Berarti

Banyak Orang Pergi untuk Healing, Tapi Tidak Pernah Memberi Jeda pada Pikirannya

Fenomena ini terlihat jelas saat banyak orang tetap sibuk mendokumentasikan liburannya sendiri. Pergi untuk mencari tenang, tapi tetap memikirkan unggahan media sosial, pekerjaan yang belum selesai, atau notifikasi yang terus muncul.

Akhirnya, istirahat berubah menjadi aktivitas lain yang tetap melelahkan.

Dalam bukunya The Anxious Generation [2024], profesor psikologi sosial Jonathan Haidt menjelaskan bahwa kehidupan digital modern membuat manusia sangat sulit memiliki ruang mental yang benar-benar tenang. Otak terus berada dalam kondisi siaga karena terlalu sering menerima stimulasi tanpa jeda.

Kondisi ini membuat banyak orang merasa harus terus ‘produktif’, bahkan saat sedang berusaha beristirahat. Ada rasa bersalah ketika terlalu lama diam, tidak membalas pesan, atau tidak melakukan sesuatu yang dianggap berguna.

Padahal, tubuh manusia membutuhkan jeda yang nyata. Tidak semua rasa lelah harus diselesaikan dengan pergi jauh atau menghabiskan banyak uang. Kadang yang dibutuhkan justru waktu tenang tanpa tuntutan apa pun.

Psikolog dan penulis Dr. Alex Soojung-Kim Pang dalam bukunya Rest: Why You Get More Done When You Work Less [2016] menjelaskan bahwa istirahat bukan lawan dari produktivitas. Tubuh dan otak justru bekerja lebih baik ketika manusia memiliki ruang untuk benar-benar berhenti sejenak.

Baca Juga: Gaya Belanja Berubah, Dari Butuh ke Ikut yang Terlihat Bernilai

Istirahat Tidak Selalu Harus Terlihat Menarik

Ada hal sederhana yang perlahan mulai hilang dari kehidupan banyak orang: kemampuan menikmati jeda kecil tanpa merasa harus terlihat sibuk. Dulu, duduk diam di teras rumah, berjalan santai, atau tidur lebih cepat bukan sesuatu yang terasa aneh. Sekarang, banyak orang merasa harus mencari pengalaman tertentu agar istirahat terasa ‘berhasil’.

Padahal tubuh tidak selalu meminta sesuatu yang besar. Kadang tubuh hanya ingin diberi kesempatan bernapas tanpa tekanan, tanpa target, dan tanpa kebutuhan untuk terus terlihat aktif. Kita mungkin akan menyebut ini sebagai bentuk kelelahan yang sunyi. Tubuh terlihat baik-baik saja, tapi pikiran terlalu lama bekerja tanpa benar-benar diberi ruang tenang.

Karena itu, mungkin masalahnya bukan orang sekarang terlalu sering mencari healing. Bisa jadi, banyak orang memang sudah terlalu lama hidup tanpa benar-benar mengenal apa arti istirahat yang sesungguhnya. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.