Liburan dulu identik dengan menjauh dari pekerjaan. Sekarang, banyak orang pergi mencari tenang sambil tetap membawa pekerjaan ke mana-mana.
Fenomena ini semakin sering terlihat di hotel, kafe, sampai tempat wisata. Banyak orang memesan kamar dengan pemandangan bagus, tetapi meja kecil di dekat jendela tetap dipenuhi laptop, kabel pengisi daya, dan notifikasi pekerjaan yang terus berjalan.
Batas antara bekerja dan beristirahat perlahan menjadi semakin kabur. Orang memang pergi untuk mencari suasana baru, tetapi pikirannya sering tetap tertahan pada rutinitas yang belum selesai.
Perubahan ini berkembang sejak budaya kerja digital menjadi semakin fleksibel. Teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja, tetapi di saat yang sama membuat banyak orang sulit benar-benar lepas dari pekerjaannya sendiri.
Dalam bukunya The Burnout Society [2015], filsuf Byung-Chul Han menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam tekanan untuk terus aktif dan produktif. Tekanan itu tidak selalu datang dari kantor, tetapi juga dari dorongan internal untuk terus bergerak dan merasa berguna.
Akibatnya, banyak orang mulai kesulitan menikmati lorong waktu kosong tanpa rasa bersalah.
Baca Juga: Capek Sedikit Langsung Cari Healing, Apa Kita Sudah Lupa Cara Istirahat?
Banyak Orang Tidak Lagi Pergi untuk Liburan Penuh, Tapi Sekadar Mengganti Suasana
Fenomena workcation dan healing trip berkembang karena manusia modern semakin sulit memiliki jeda total. Banyak pekerjaan sekarang tetap berjalan meski seseorang sedang berada di luar kota. Ada orang yang tetap membuka email saat sarapan hotel. Ada juga yang membawa laptop ke pinggir kolam renang hanya untuk memastikan pekerjaannya tidak tertinggal terlalu jauh.
Kondisi ini membuat liburan berubah bentuk. Pergi bukan lagi tentang benar-benar berhenti, tetapi tentang bekerja dengan suasana yang terasa sedikit lebih tenang.
Psikolog Dr. Saundra Dalton-Smith dalam Sacred Rest [2017] menjelaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan istirahat yang utuh, bukan sekadar perpindahan tempat. Ketika pikiran tetap berada dalam mode siaga, tubuh sering gagal merasakan pemulihan secara penuh.
Karena itu, tidak sedikit orang yang pulang dari liburan tetapi tetap merasa lelah. Tubuh memang sempat berpindah lokasi, tetapi tekanan mentalnya tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Media sosial juga ikut membentuk budaya ini. Banyak orang melihat liburan produktif sebagai sesuatu yang ideal. Foto laptop di dekat pantai atau meja kerja dengan pemandangan alam sering dipandang sebagai simbol kebebasan hidup modern.
Padahal di balik tampilannya yang menarik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia semakin sulit benar-benar memisahkan dirinya dari pekerjaan.
Baca Juga: Tidak Semua Hari Harus Produktif untuk Tetap Berarti
Laptop yang Terus Dibawa Kadang Menunjukkan Bahwa Pikiran Tidak Pernah Benar-Benar Pulang
Tidak semua orang membawa laptop saat liburan karena terpaksa. Ada juga yang sudah terlalu terbiasa hidup dalam ritme cepat sampai merasa cemas ketika benar-benar diam.
Dalam Deep Work [2016] Profesor psikologi Cal Newport menjelaskan bahwa kehidupan digital modern membuat manusia terus terhubung dengan pekerjaan dan distraksi tanpa henti. Akibatnya, kemampuan untuk fokus dan beristirahat perlahan ikut terganggu.
Kondisi itu membuat banyak orang merasa harus selalu tersedia. Bahkan ketika sedang mencoba menikmati waktu santai, ada dorongan untuk tetap membuka pekerjaan ‘sebentar saja’. Hal kecil seperti itu lama-lama membentuk kebiasaan baru. Liburan tidak lagi menjadi ruang untuk benar-benar berhenti, melainkan hanya perpindahan lokasi dari rutinitas yang sama.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang pergi healing tetapi tetap membawa laptop. Bukan karena mereka tidak ingin beristirahat, melainkan karena kehidupan modern membuat manusia semakin sulit merasa tenang ketika benar-benar melepaskan semuanya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.