Pernah merasa sangat yakin ingin membeli sesuatu, tetapi beberapa minggu kemudian barang itu justru tergeletak di sudut rumah tanpa lagi disentuh? Fenomena ini ternyata lebih umum daripada yang kita kira.

Awalnya terasa mendesak. Botol minum baru dianggap akan membuat kita lebih rajin minum air. Sepatu olahraga diyakini menjadi awal hidup yang lebih sehat. Buku yang baru dibeli terasa seperti pintu menuju kebiasaan membaca yang lebih baik.

Namun, waktu berjalan. Botol itu mulai jarang dipakai. Sepatu hanya keluar saat akhir pekan. Buku masih tersimpan rapi dengan pembatas yang bahkan belum pernah berpindah halaman. Bukan karena barang-barang itu tidak berguna. Sering kali, yang berubah justru perasaan kita terhadap barang tersebut.

Mengapa sesuatu yang tampak begitu penting saat dibeli bisa begitu mudah terlupakan beberapa minggu kemudian?

Baca Juga: Rumah Sudah Rapi, Kok Pikiran Masih Terasa Berantakan?

Kita Sering Membeli Harapan, Bukan Sekadar Barang

Dalam psikologi konsumen, keputusan membeli tidak selalu didorong oleh kebutuhan yang nyata. Banyak pembelian dipengaruhi oleh bayangan tentang diri kita di masa depan.

Kita membeli alat memasak karena membayangkan akan lebih sering memasak di rumah. Kita membeli buku karena ingin menjadi pribadi yang lebih rajin membaca. Kita membeli perlengkapan olahraga karena membayangkan rutinitas baru yang lebih sehat.

Psikolog Dr. Hal Hershfield, profesor di University of California, Los Angeles, dalam bukunya Your Future Self [2023], menjelaskan bahwa manusia sering membuat keputusan berdasarkan gambaran tentang diri yang ingin dimiliki di masa depan. Masalahnya, gambaran tersebut belum tentu berubah menjadi kebiasaan nyata.

Akibatnya, yang terasa menyenangkan bukan hanya memiliki barang itu, tetapi juga membayangkan kehidupan baru yang seolah akan segera dimulai. Ketika rutinitas lama tetap berjalan, barang tersebut perlahan kehilangan daya tariknya.

Baca Juga: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-Benar Tidak Melakukan Apa-Apa?

Barang Bertahan Lebih Lama daripada Perasaan Saat Membelinya

Fenomena lain yang turut berperan adalah apa yang disebut psikolog sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan sesuatu yang baru. Rasa senang ketika membuka kemasan, mencoba untuk pertama kali, atau memamerkannya kepada teman biasanya hanya berlangsung sementara.

Setelah itu, barang tersebut berubah menjadi bagian dari keseharian. Otak tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa.

Psikolog Dr. Sonja Lyubomirsky, penulis The How of Happiness [2007], menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat cepat terhadap berbagai perubahan, termasuk kepemilikan barang. Karena itulah, kebahagiaan yang berasal dari benda sering kali tidak bertahan lama jika tidak diikuti oleh pengalaman atau kebiasaan yang bermakna.

Bukan berarti membeli barang baru adalah keputusan yang keliru. Ada banyak barang yang memang dibutuhkan dan memberikan manfaat nyata. Namun, sesekali kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri sebelum menekan tombol ‘beli’.

Apakah kita benar-benar membutuhkan barang itu? Atau sebenarnya kita sedang membeli harapan tentang versi diri yang ingin kita miliki?

Barangkali, pertanyaan terakhir itulah yang lebih penting. Sebab, hidup tidak selalu berubah karena apa yang berhasil kita beli. Sering kali, perubahan justru dimulai dari kebiasaan kecil yang kita lakukan berulang kali, bahkan sebelum memiliki barang yang tampaknya begitu penting. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.