Kita sering merasa sedang mengikuti sesuatu yang baru. Padahal, jika dilihat lebih jauh, banyak hal yang sebenarnya hanya berputar dalam bentuk yang berbeda. Yang berubah bukan esensinya, tapi cara ia ditampilkan kembali.
Beberapa tahun lalu, gaya hidup minimalis menjadi perbincangan. Orang mulai mengurangi barang, merapikan ruang, dan mencari ketenangan dari kesederhanaan. Tidak lama kemudian, muncul tren baru yang terasa berbeda, tapi sebenarnya serupa: hidup ‘slow’, hidup ‘intentional’, atau hidup ‘mindful’.
Di permukaan, semuanya terlihat seperti arah baru. Tapi jika diperhatikan, inti pesannya tetap sama. Hanya dikemas ulang dengan istilah yang lebih segar, lebih menarik, dan lebih sesuai dengan waktu.
Baca Juga: Dari Scroll Melesat sampai Makan Serba Cepat, Kita Tak Sadar Sedang Dilatih Tak Sabar
Tren yang Terlihat Baru, Tapi Sebenarnya Berulang
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada gaya hidup. Dalam dunia fashion, tren lama sering kembali dengan nama baru. Celana baggy, warna-warna earth tone, hingga gaya vintage yang dulu dianggap usang, kini kembali dianggap keren.
Hal yang sama juga terlihat di dunia makanan. Minuman herbal yang dulu dianggap kuno, kini hadir dengan kemasan modern dan harga yang lebih tinggi. Jamu, infused water, hingga makanan fermentasi kembali populer, tapi dengan citra yang berbeda.
Di media sosial, pola ini bahkan lebih cepat. Tantangan viral datang dan pergi, lalu digantikan oleh tren serupa dengan bentuk yang sedikit berbeda. Apa yang kemarin dianggap unik, hari ini bisa terasa biasa, lalu besok muncul lagi dengan wajah baru.
Ini bukan kebetulan. Dunia bergerak dalam siklus, dan manusia punya kecenderungan untuk kembali pada hal-hal yang pernah terasa familiar. Yang membuatnya terlihat baru adalah cara ia diperkenalkan kembali.
Baca Juga: Ekspektasi Instan, Kebiasaan Kecil yang Mengubah Cara Kita Menilai Hidup
Kita Mengikuti Tren, atau Tren yang Mengikuti Kita?
Menariknya, kita sering merasa sedang memilih tren. Padahal, dalam banyak kasus, tren justru muncul karena membaca kebutuhan kita. Ketika banyak orang merasa lelah, muncul tren slow living. Ketika banyak yang ingin lebih sehat, muncul tren makanan alami.
Di sisi lain, tren juga membentuk cara kita melihat diri sendiri. Kita mulai merasa perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan. Apa yang dipakai, dimakan, atau dilakukan perlahan mengikuti arus yang sedang berjalan.
Dalam keseharian, ini terlihat dari keputusan kecil. Membeli barang karena sedang populer, mencoba gaya hidup tertentu karena banyak dibicarakan, atau merasa tertinggal saat tidak mengikuti apa yang sedang tren.
Padahal, nggak semua tren perlu diikuti. Ada yang memang relevan dengan kebutuhan, tapi ada juga yang hanya lewat tanpa benar-benar berdampak. Di sinilah pentingnya mengenali mana yang benar-benar kita butuhkan, dan mana yang hanya terasa menarik sesaat.
Hidup dalam tren yang berulang bukan sesuatu yang salah. Tapi menyadarinya bisa membantu kita mengambil jarak. Agar kita tidak hanya ikut bergerak, tapi juga tahu kenapa kita bergerak.
Di tengah semua yang terus berubah, mungkin yang perlu dijaga bukan kemampuan untuk selalu mengikuti tren. Tapi kemampuan untuk tetap mengenali diri sendiri, meski tren datang dan pergi. [][Liora Maheswari/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]