Ada masa ketika membeli sesuatu terasa seperti jawaban. Barang datang, perasaan ikut naik, dan ada jeda singkat di mana semuanya terasa cukup. Tapi tidak lama setelah itu, rasa yang sama perlahan kembali, seperti belum benar-benar selesai.
Di banyak keseharian, belanja bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Ia menjadi bagian dari cara kita mengatur perasaan, memberi hadiah pada diri sendiri, atau sekadar mengisi waktu yang terasa kosong. Dari luar, semuanya terlihat wajar. Tapi di dalamnya, ada sesuatu yang sering tidak ikut terisi.
Kita punya lebih banyak barang dibanding sebelumnya. Pilihan semakin banyak, akses semakin mudah, dan proses membeli hampir tidak punya jeda. Namun di tengah semua itu, rasa cukup justru terasa semakin jauh.
Ada yang menarik dari cara kita membeli hari ini. Bukan hanya soal apa yang dibeli, tapi bagaimana kita mengaitkannya dengan perasaan. Barang menjadi lebih dari sekadar fungsi, ia menjadi harapan kecil bahwa sesuatu akan terasa lebih baik.
Baca Juga: Gaya Hidup dan Konsumsi, Kita Membutuhkan atau Sekadar Mengikuti?
Ketika Membeli Menjadi Cara Mengisi
Dalam banyak momen, keputusan membeli tidak selalu datang dari kebutuhan yang jelas. Ada dorongan yang lebih halus, seperti ingin merasa lebih tenang, lebih pantas, atau sekadar tidak tertinggal. Dari sini, belanja menjadi respons, bukan rencana.
Media sosial ikut mempercepat ritme ini. Apa yang terlihat menarik, langsung terasa ingin dimiliki. Kita tidak selalu punya waktu untuk bertanya apakah itu benar-benar dibutuhkan. Yang lebih sering terjadi, kita hanya tidak ingin melewatkan sesuatu.
Psikolog Barry Schwartz dalam The Paradox of Choice menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sulit seseorang merasa puas dengan apa yang ia miliki. Dari sini, memiliki lebih banyak tidak selalu berarti merasa lebih cukup.
Di titik ini, belanja tidak lagi berhenti pada barang. Ia masuk ke ruang perbandingan, di mana apa yang kita punya selalu berdampingan dengan apa yang belum kita miliki. Dari sana, rasa kurang mulai terbentuk tanpa kita sadari.
Apa yang awalnya terasa menyenangkan, perlahan menjadi sesuatu yang perlu diulang. Karena rasa yang dihasilkan tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Baca Juga: Terasa Kosong, Siapa Bilang Hidup Kita Terlihat Ideal?
Rasa Cukup yang Tidak Pernah Selesai
Menariknya, rasa kurang tidak selalu hilang ketika kita mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Ia hanya bergeser. Setelah satu hal terpenuhi, muncul hal lain yang terasa lebih penting. Dari sini, siklus terus berjalan.
Sosiolog Zygmunt Bauman dalam konsep liquid modernity menggambarkan bagaimana kehidupan modern membuat segala sesuatu terasa sementara, termasuk kepuasan. Apa yang hari ini terasa cukup, besok bisa terasa biasa saja.
Dalam kondisi ini, belanja menjadi seperti upaya untuk mengejar sesuatu yang terus bergerak. Kita mendekat, tapi tidak pernah benar-benar sampai. Dari luar, terlihat aktif. Dari dalam, terasa berulang.
Mungkin yang kita cari bukan barangnya. Tapi rasa tenang yang kita bayangkan akan datang setelahnya. Masalahnya, rasa itu tidak selalu tinggal.
Di titik ini, mungkin yang perlu dilihat bukan seberapa banyak kita membeli. Tapi mengapa kita terus merasa perlu. Karena bisa jadi, yang kurang bukan apa yang kita miliki, tapi sesuatu yang tidak bisa dibeli. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.