Dulu, rasanya mudah sekali punya teman. Ada yang duduk di sebelah kita setiap hari, ada yang tiba-tiba mengajak makan, ada yang bisa diajak pergi tanpa perlu membuat janji jauh-jauh hari. Setelah dewasa, nomor di ponsel mungkin justru semakin banyak, tetapi orang yang benar-benar bisa kita hubungi ketika hidup sedang berantakan terasa semakin sedikit.
Ada masa ketika pertemanan terbentuk hampir tanpa usaha. Sekolah, kampus, kantor, lingkungan tempat tinggal, atau sekadar kebiasaan bertemu membuat dua orang bisa menjadi dekat tanpa pernah membicarakan bagaimana hubungan itu dimulai. Waktu seolah selalu tersedia, sehingga percakapan yang awalnya sederhana bisa tumbuh menjadi cerita panjang tentang hidup.
Kemudian kehidupan berubah. Ada pekerjaan yang menyita hari, pasangan yang membutuhkan perhatian, keluarga yang harus diurus, dan tubuh yang mulai lebih menghargai tidur daripada ajakan nongkrong tengah malam. Pertemanan tidak selalu hilang karena konflik; sering kali ia hanya berjalan lebih pelan karena masing-masing orang sedang sibuk menjalani hidupnya sendiri.
Menariknya, jumlah orang yang kita kenal bisa terus bertambah. Kita bertemu lebih banyak orang melalui pekerjaan, komunitas, media sosial, perjalanan, dan berbagai lingkaran kehidupan baru. Namun, kedekatan membutuhkan sesuatu yang berbeda dari sekadar pertemuan, yaitu waktu, perhatian, rasa aman, dan kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam.
Baca Juga: Barang Itu Terlihat Penting Saat Dibeli, Lalu Terlupakan Beberapa Minggu Kemudian
Kita Mulai Memilih Kepada Siapa Cerita Disimpan
Ada perbedaan antara seseorang yang menyenangkan untuk diajak makan malam dan seseorang yang ingin kita hubungi ketika menerima kabar buruk. Keduanya sama-sama teman, tetapi kedekatannya tidak berada di tempat yang sama.
Psikolog Dr. Robin Dunbar, melalui penelitiannya mengenai ukuran dan struktur jejaring sosial manusia, menjelaskan bahwa kapasitas hubungan sosial manusia memiliki keterbatasan. Dalam penelitian yang diterbitkan di Human Nature [2018], Dunbar menunjukkan bahwa hubungan dalam jejaring sosial manusia tersusun dalam lapisan kedekatan yang berbeda, dengan jumlah orang yang semakin sedikit ketika tingkat kedekatan meningkat.
Artinya, manusia memang dapat mengenal banyak orang, tetapi tidak mungkin memberikan perhatian emosional yang sama kepada semuanya. Ada orang yang hanya kita kenal namanya, ada yang sesekali kita ajak berbincang, ada yang menjadi teman dekat, lalu ada lingkaran yang jauh lebih kecil yang benar-benar kita anggap sebagai tempat pulang.
Mungkin karena itu, bertambahnya usia tidak selalu membuat kita kehilangan teman. Kita hanya semakin memahami bahwa kedekatan memiliki harga yang harus dibayar dalam bentuk waktu dan perhatian.
Baca Juga: Rumah Sudah Rapi, Kok Pikiran Masih Terasa Berantakan?
Kedekatan Tidak Selalu Diukur dari Seberapa Sering Bertemu
Ada persahabatan yang mampu bertahan meski percakapan hanya terjadi beberapa bulan sekali. Ketika bertemu kembali, tidak ada rasa canggung yang perlu dipaksa hilang karena keduanya masih mengenali cara satu sama lain bercerita, bercanda, bahkan diam.
Sebaliknya, ada pula hubungan yang terlihat sangat dekat karena hampir setiap hari berkomunikasi, tetapi perlahan terasa asing ketika kehidupan berubah. Frekuensi pertemuan memang dapat membantu menjaga kedekatan, tetapi kualitas hubungan juga ditentukan oleh rasa aman dan kemampuan untuk hadir secara emosional.
Psikolog Dr. Julianne Holt-Lunstad, yang banyak meneliti hubungan sosial dan kesehatan, menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial memiliki kaitan penting dengan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Dalam kajian yang diterbitkan di Perspectives on Psychological Science [2017], ia bersama koleganya menekankan bahwa hubungan sosial bukan sekadar jumlah orang yang ada di sekitar kita, melainkan juga bagaimana hubungan tersebut memberikan dukungan dan rasa terhubung.
Karena itu, memiliki banyak kenalan tidak selalu berarti seseorang merasa ditemani. Seseorang bisa berada di tengah banyak orang dan tetap tidak memiliki tempat untuk mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja."
Mungkin inilah salah satu perubahan yang terasa ketika dewasa. Kita tidak lagi mencari sebanyak mungkin orang untuk mengisi waktu, tetapi mulai menghargai beberapa orang yang membuat kita tidak perlu berpura-pura menjadi siapa-siapa.
Baca Juga: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-Benar Tidak Melakukan Apa-Apa?
Ada Pertemanan yang Tidak Hilang, Hanya Berubah Bentuk
Tidak semua pertemanan yang menjauh harus dianggap gagal. Ada teman yang dulu hampir setiap hari bersama, lalu kini hanya bertukar kabar ketika ulang tahun. Ada yang dahulu menjadi tempat bercerita, tetapi sekarang masing-masing sudah memiliki keluarga, pekerjaan, dan kehidupan yang membuat pertemuan semakin jarang.
Hubungan seperti itu tetap pernah berarti. Ia pernah menjadi bagian dari satu fase kehidupan dan meninggalkan sesuatu yang tidak harus terus dipertahankan dalam bentuk yang sama.
Kedewasaan mungkin justru mengajarkan kita bahwa kedekatan tidak selalu berarti memiliki akses penuh terhadap hidup seseorang. Kita bisa tetap menyayangi seorang teman meski tidak tahu semua detail kehidupannya, dan kita bisa tetap merasa dekat meski jarang bertemu.
Yang berubah bukan selalu jumlah teman, melainkan cara kita memaknai pertemanan. Kita mulai tahu bahwa tidak semua percakapan harus dibagikan kepada banyak orang, tidak semua kesedihan membutuhkan penonton, dan tidak semua kebahagiaan harus diumumkan.
Di antara begitu banyak nama yang tersimpan di ponsel, mungkin hanya beberapa yang benar-benar kita cari ketika dunia terasa terlalu ramai. Mereka bukan selalu orang yang paling sering hadir, melainkan orang yang membuat kita merasa aman untuk datang kembali sebagai diri sendiri.
Dan mungkin, menjadi dewasa memang bukan tentang memiliki lingkaran pertemanan yang semakin besar. Ia lebih mirip perjalanan untuk mengenali siapa yang tetap ingin kita jaga ketika waktu, jarak, kesibukan, dan perubahan hidup perlahan mengubah cara kita bertemu. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.