Beberapa hari terakhir, perhatian warga Bandung tertuju pada penebangan sejumlah pohon di Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau. Pohon-pohon yang selama bertahun-tahun memberi keteduhan itu mendadak hilang, memunculkan pertanyaan sekaligus protes dari masyarakat. Peristiwa tersebut mengingatkan kita pada satu hal yang sering terjadi: pohon baru terasa sangat penting ketika ia sudah tidak lagi ada.

Bagi sebagian orang, pohon di tepi jalan mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap pemandangan kota. Selama masih berdiri, kehadirannya jarang diperhatikan. Orang berlalu-lalang setiap hari tanpa benar-benar menyadari manfaat yang diberikannya.

Namun, ketika batang-batang itu tumbang dan tajuk rindangnya menghilang, suasana jalan seketika berubah. Trotoar terasa lebih terik. Orang berjalan lebih cepat mencari bayangan. Pengendara motor mulai merasakan sengatan matahari yang sebelumnya tertahan oleh dedaunan.

Kasus penebangan pohon di Jalan LLRE Martadinata, Bandung, yang memicu perhatian publik dalam beberapa hari terakhir menjadi contoh nyata bagaimana ruang hijau sering baru disadari nilainya setelah berkurang. Peristiwa tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai perizinan, pengelolaan pohon di ruang publik, serta pentingnya menjaga pepohonan sebagai bagian dari infrastruktur kota.

Baca Juga: Nyamuk Selalu Dianggap Musuh, Tapi Mengapa Mereka Tetap Ada di Alam? 

Pohon Memberikan Jasa yang Sering Tidak Terlihat

Manfaat pohon tidak selalu bisa dirasakan secara langsung, tetapi dampaknya sangat nyata. Kanopi pohon membantu menurunkan suhu permukaan jalan dengan memberikan keteduhan. Daunnya menyerap sebagian polutan di udara, menghasilkan oksigen, meredam kebisingan, sekaligus membantu menyerap air hujan sehingga mengurangi limpasan air di kawasan perkotaan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa [FAO] menyebut pohon di kawasan perkotaan sebagai bagian penting dari infrastruktur hijau yang berperan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bukan hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga kesehatan dan kenyamanan warga.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki tutupan pohon lebih baik cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan area yang didominasi beton dan aspal. Di tengah perubahan iklim yang membuat gelombang panas semakin sering terjadi, keberadaan pohon menjadi salah satu cara alami untuk membantu kota tetap nyaman dihuni.

Ironisnya, manfaat-manfaat itu sering tidak terlihat karena bekerja secara perlahan setiap hari. Kita lebih mudah menyadari panas setelah pohonnya hilang daripada mensyukuri kesejukan ketika pohonnya masih berdiri.

Baca Juga: Dini Hari Terasa Sangat Dingin, Siang Justru Terik. Apa yang Sedang Terjadi dengan Cuaca?

Menanam Pohon Lebih Mudah daripada Menumbuhkan Pohon Besar

Ketika sebuah pohon tua ditebang, penggantinya memang bisa ditanam kembali. Namun, menumbuhkan pohon hingga mampu memberikan keteduhan yang sama membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Karena itu, menjaga pohon yang sudah tumbuh besar sering kali jauh lebih bernilai daripada sekadar menggantinya dengan bibit baru. Pohon dewasa telah membentuk ekosistem kecil bagi burung, serangga, dan berbagai organisme lain. Ia juga telah menjadi bagian dari wajah sebuah kota yang tidak dapat digantikan dalam waktu singkat.

Kota-kota yang nyaman bukan hanya dibangun dengan jalan yang lebar atau gedung yang tinggi. Mereka juga membutuhkan ruang hijau yang cukup agar manusia dapat hidup berdampingan dengan alam, bukan sekadar menguasainya.

Barangkali, peristiwa di Jalan Riau bukan hanya tentang beberapa batang pohon yang hilang. Ia menjadi pengingat bahwa kesejukan yang kita nikmati setiap hari sering datang dari hal-hal yang nyaris tidak pernah kita perhatikan. Ketika pohon masih berdiri, ia bekerja dalam diam. Dan ketika ia tak lagi ada, barulah kita menyadari betapa besar perannya dalam membuat sebuah kota tetap layak untuk ditinggali. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.