Ketika suasana hati sedang tidak baik-baik saja, ada lagu-lagu tertentu yang tiba-tiba ingin kita dengarkan. Bukan karena sedang populer, melainkan karena terasa memahami apa yang sulit kita ungkapkan.

Pernahkah Anda merasa tidak sedang mencari lagu apa pun, tetapi tiba-tiba satu judul muncul begitu saja di kepala? Jari kemudian membuka aplikasi musik, mengetik nama lagu itu, lalu membiarkannya mengalun. Anehnya, lagu yang sama sering muncul setiap kali kita sedang sedih, kecewa, atau merasa kehilangan semangat.

Fenomena ini dialami banyak orang. Bahkan, ada lagu yang hanya didengarkan pada momen-momen tertentu, seolah memiliki tugas khusus menemani ketika hidup terasa lebih berat. Pertanyaannya, mengapa otak kita seperti menyimpan 'daftar putar' untuk keadaan emosional tertentu?

Jawabannya bukan semata-mata karena kita menyukai lagu tersebut. Musik memiliki hubungan yang sangat erat dengan cara otak menyimpan pengalaman, mengingat emosi, dan membangun makna dari perjalanan hidup seseorang.

Baca Juga: Ada Lagu yang Terus Berputar di Kepala, Apa Alasan Otak Melakukannya?

Otak Tidak Hanya Mengingat Lagunya, tetapi Juga Perasaan yang Pernah Menyertainya

Saat pertama kali mendengar sebuah lagu, otak tidak hanya memproses melodi dan lirik. Pada saat yang sama, ia juga merekam suasana, tempat, orang-orang yang bersama kita, hingga emosi yang sedang dirasakan ketika lagu itu diputar.

Psikolog dan peneliti musik Dr. Petr Janata dari University of California, Davis, menjelaskan bahwa musik memiliki kemampuan yang kuat untuk memicu kembali memori autobiografis, yaitu kenangan yang berkaitan dengan pengalaman hidup seseorang. Dalam penelitiannya yang dipublikasikan di Memory [2009], ia menemukan bahwa musik dapat mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan ingatan sekaligus emosi.

Itulah sebabnya, sebuah lagu lama mampu membawa seseorang kembali pada masa tertentu dalam hidupnya. Bukan karena lagu itu memiliki kekuatan ajaib, melainkan karena otak telah menghubungkan lagu tersebut dengan pengalaman emosional yang pernah terjadi.

Ketika kesedihan datang lagi, otak cenderung mencari sesuatu yang terasa akrab. Lagu yang dulu pernah menemani kita menghadapi emosi serupa pun kembali muncul, seolah memahami apa yang sedang kita rasakan.

Baca Juga: Lagu yang Ingin Kita Dengar Saat Dunia Berakhir

Kadang Kita Bukan Sedang Mencari Lagu, tetapi Mencari Perasaan yang Pernah Diberikannya

Banyak orang mengira mereka memutar lagu karena menyukai melodinya. Padahal, yang sering dicari adalah pengalaman emosional yang melekat pada lagu tersebut.

Psikolog musik Dr. Juslin melalui BRECVEMA Framework menjelaskan bahwa musik dapat membangkitkan emosi melalui berbagai mekanisme, salah satunya adalah episodic memory, yaitu ketika sebuah lagu memanggil kembali kenangan yang pernah tersimpan dalam hidup seseorang. Musik kemudian menjadi semacam 'jalan pintas' menuju perasaan yang pernah dialami, baik rasa nyaman, harapan, kehilangan, maupun kerinduan.

Menariknya, tidak semua orang memilih lagu ceria ketika sedang sedih. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang justru merasa lebih tenang ketika mendengarkan lagu yang memiliki nuansa emosional serupa dengan suasana hatinya. Lagu itu bukan memperburuk kesedihan, tetapi membuat mereka merasa dipahami. Seolah ada seseorang yang berkata, 'Apa yang sedang kamu rasakan juga pernah dirasakan orang lain.'

Mungkin itulah alasan mengapa lagu tertentu terus kembali hadir pada waktu-waktu yang sama. Bukan karena algoritma aplikasi musik mengenal kita lebih baik daripada diri sendiri, melainkan karena otak telah lama menyimpan hubungan antara lagu dan pengalaman hidup yang pernah dilalui.

Barangkali, setiap orang memang memiliki lagu-lagu yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali diperdengarkan. Ketika hidup terasa berat, yang kita cari mungkin bukan sekadar melodi atau liriknya. Kita sedang mencari rasa yang pernah dititipkan di dalamnya—rasa bahwa kita pernah mampu melewati hari-hari sulit, dan mungkin, kali ini pun kita akan mampu melaluinya lagi. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.