JATINANGOR – Industri kosmetik Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi berbagai produk kecantikan, Indonesia kini memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai negara yang mampu melahirkan inovasi, riset, hingga pelaku industri kosmetik yang berdaya saing.
Semangat itulah yang diangkat Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran [Unpad] melalui Seminar Kosmetik bertajuk "Inovasi dan Teknologi di Bidang Kosmetik dalam Mendukung Kemajuan Industri Kosmetik Nasional" yang digelar di Kampus Jatinangor, Rabu [01/07]. Seminar yang terbuka untuk umum tersebut dihadiri sejumlah dosen, praktisi industri, dan mahasiswa ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dunia akademik mulai membangun ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, hingga kewirausahaan di bidang kosmetik.
Berbeda dari seminar ilmiah pada umumnya, rangkaian kegiatan disusun untuk menunjukkan perjalanan sebuah inovasi sejak lahir di laboratorium hingga berpeluang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Mulai dari pembahasan perkembangan pendidikan kosmetik, hilirisasi hasil riset, pengalaman alumni di industri, peluncuran buku, pemanfaatan kecerdasan buatan melalui LABCOS AI, hingga pengenalan konsep Cosmepreneur bagi mahasiswa menjadi satu kesatuan yang saling terhubung.
Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Satukan Akademisi dan Industri Kosmetik dalam Collaboration Day 2026
Kampus Tak Lagi Hanya Menghasilkan Lulusan
Dalam seminar tersebut, Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad yang juga Ketua Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik, Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, memaparkan perkembangan pendidikan kosmetik yang kini tidak lagi berhenti pada penguasaan ilmu formulasi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.
Sementara itu, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menjelaskan pentingnya kolaborasi dan hilirisasi riset agar berbagai hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat maupun industri kosmetik nasional.
Perspektif dunia industri turut dihadirkan melalui pemaparan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, S.Si., M.Farm., yang membagikan pengalaman perjalanan kariernya dari dunia kampus hingga menjadi pelaku industri kosmetik. Kehadiran pemilik sekaligus komisaris Lunaray Beauty Factory ini menunjukkan bahwa lulusan farmasi memiliki peluang yang semakin luas, tidak hanya sebagai peneliti atau apoteker, tetapi juga sebagai inovator dan wirausahawan di sektor kosmetik.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Produk
Salah satu benang merah yang terlihat sepanjang seminar adalah pentingnya membangun ekosistem. Pendidikan menjadi fondasi, riset melahirkan inovasi, industri menjadi mitra hilirisasi, sementara kewirausahaan membuka ruang agar inovasi tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat.
Pendekatan tersebut juga tercermin melalui peluncuran buku yang membahas inovasi di bidang kosmetik, pengenalan LABCOS AI sebagai bagian dari pemanfaatan teknologi, serta sesi Cosmepreneur yang memperkenalkan peluang mahasiswa untuk terlibat dalam ekosistem industri kosmetik sejak masih berada di bangku kuliah.
Menyiapkan Masa Depan Industri Kosmetik Indonesia
Pertumbuhan industri kosmetik nasional membutuhkan lebih dari sekadar produk baru. Dibutuhkan sumber daya manusia yang memahami sains, mampu melakukan penelitian, mengembangkan teknologi, hingga menghubungkannya dengan kebutuhan industri dan pasar.
Melalui seminar ini, Fakultas Farmasi Unpad memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak lagi berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas. Kampus juga didorong menjadi tempat lahirnya inovasi yang siap dikembangkan bersama industri. Ketika pendidikan, riset, teknologi, dan kewirausahaan mulai berjalan dalam satu ekosistem, peluang bagi industri kosmetik Indonesia untuk terus berkembang menjadi semakin terbuka.
Baca Juga: Umur Boleh Sama, Mengapa Kondisi Kulit Bisa Berbeda?
Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu
Salah satu agenda utama dalam Seminar Kosmetik 2026 adalah peluncuran lima buku yang tergabung dalam seri Cosmeticverse. Berbeda dengan peluncuran buku pada umumnya, kelima buku tersebut dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan ilmu yang menggambarkan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, dikembangkan, diproduksi, hingga dipercaya oleh masyarakat.
Sebagai narasumber seminar, Prof. Dr. Keri Lestari M.Si., S.Si., Apt. mengajak peserta untuk menjelajah dan menyelami dunia kosmetik melalui kelima buku tersebut.
“Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia,” sebut Guru Besar di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Unpad itu.
Buku pertama, bertajuk Dunia Kosmetik [Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si., Wendra Wilendra, M.MT.], memberikan fondasi menyeluruh mengenai dunia kosmetik modern, mulai dari ilmu dasar, sistem, ekosistem, hingga dinamika industri yang terus berkembang. Buku ini menjadi pintu masuk bagi mahasiswa, akademisi, maupun praktisi yang ingin memahami industri kosmetik secara lebih komprehensif.
Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas [Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. rer. nat Anis Yohana Chaerunisaa,M.Si., Apt., Wendra Wilendra, M.MT.], sebuah karya yang memetakan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku kosmetik. Buku ini memperlihatkan besarnya potensi tanaman lokal Indonesia untuk dikembangkan menjadi bahan aktif kosmetik berbasis riset ilmiah.
Selanjutnya, The Phytocosmetic Journey [Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., Wendra Wilendra, M.MT.] mengajak pembaca mengikuti perjalanan ilmiah mulai dari eksplorasi bahan alam, proses penelitian, pengembangan formulasi, hingga penerapannya menjadi produk kosmetik yang memiliki nilai tambah.
Tahapan berikutnya dijelaskan melalui The Cosmetic Code [Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. Keri Lestari M.Si., S.Si., Apt., dr. Diah Puspitosari, Sp.DVE., Wendra Wilendra, M.MT.], yang menguraikan bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi produk kosmetik melalui pendekatan formulasi, teknologi, inovasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen.
Sebagai penutup rangkaian tersebut, The Invisible Quality [Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., M.Si., Wendra Wilendra, M.MT.] mengangkat aspek yang sering tidak terlihat oleh konsumen, tetapi justru menjadi fondasi utama industri kosmetik modern, yaitu budaya mutu, sistem kualitas, integritas data, penerapan CPKB, serta bagaimana kepercayaan konsumen dibangun melalui proses yang konsisten. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]