Pengantar Redaksi - Edisi Ketiga

Selamat datang kembali di Pojok Bedah, rubrik yang lahir dari keinginan untuk membedah perjalanan para ahli secara mendalam, santai, dan mudah dicerna. Dua edisi sebelumnya, Eva Evilia telah mengupas tuntas perjalanan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.—dari masa kecil dengan sepatu besi, hingga perjuangannya membangun pabrik di tengah suka dan duka. Jika Anda melewatkan salah satunya, kami sarankan untuk membaca Edisi Pertama dan Edisi Kedua terlebih dahulu, karena perjalanan kali ini adalah bagian penutup yang tak kalah penting: bagaimana apt. Cahya kembali ke akar ilmunya, merawat mimpi besar untuk kosmetik Indonesia, dan memaknai setengah abad hidupnya dengan penuh syukur.


Kali ini, Eva kembali berbincang dengan apt. Cahya untuk menggali bagian ketiga dan terakhir dari wawancara mereka: keputusannya kembali kuliah S2 Farmasi di tengah pandemi, lahirnya Beautylatory sebagai ruang edukasi kosmetik, berdirinya Lunaray Beauty Factory sebagai rumah produksi yang membawa visi inovasi, hingga kolaborasi dengan akademisi untuk mengembangkan bahan baku lokal. Tidak ketinggalan, Eva juga menyelami momen ketika Cahya kembali ke akar profesinya sebagai apoteker melalui Apotek Parahyangan Suite—sebuah simpul yang menghubungkan 25 tahun perjalanan kosmetik dengan niat awalnya untuk melayani.

Edisi penutup ini diakhiri dengan pesan apt. Cahya untuk mereka yang sedang berjalan di jalannya masing-masing: bahwa tidak semua langkah perlu terlihat besar, dan setiap proses yang dijalani dengan sabar, doa, dan tawakal tidak pernah benar-benar sia-sia. Selamat menikmati perjalanan terakhir ini, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.


BAGIAN 3: "Kembali ke Akar, Menjadi Tuan Rumah" 


KK: Setelah 20 tahun meninggalkan bangku akademis, Teh Cahya memutuskan kembali kuliah S2 Farmasi Unpad di tengah pandemi. Apa yang mendorong Teteh kembali belajar, dan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa di usia yang tidak lagi muda? 

Cahya: Pandemi membuat ritme hidup terasa berbeda. Waktu tetap berjalan 24 jam, tetapi ada hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan mulai mendapatkan ruang. Saya melihat bahwa masih banyak ilmu yang belum saya punya.


Pada Oktober 2020, pintu itu terbuka—saya kembali menjadi mahasiswa S2 Farmasi Unpad dengan konsentrasi kosmetik. Saya datang bukan sebagai mahasiswa yang benar-benar baru mengenal kosmetik—di belakang saya sudah ada pengalaman R&D, formulasi, brand, makloon, customer, packaging, pabrik, izin, dan banyak percakapan dengan pelaku industri. Tapi di ruang kuliah, pengalaman itu tetap harus bertemu lagi dengan jadwal, tugas, sistem akademik, dan aturan belajar.


Saya harus menata waktu antara pekerjaan, pabrik, keluarga, dan kuliah. Saya juga harus belajar lagi mengikuti sistem informasi, kelas daring, dan ritme kuliah masa kini. Tapi saya nggak berjalan sendirian—di angkatan saya hanya berempat, dan kami saling menjaga ritme. Kiky, teman seangkatan yang usianya terpaut jauh, menjadi bestie rasa sepupu yang mengingatkan jadwal dan membantu saya membaca dunia kuliah masa kini. Kembali kuliah mengajarkan saya bahwa belajar nggak pernah selesai, dan usia bukan halangan untuk terus bertumbuh.


KK: Tesis S2 Teh Cahya sangat idealis—Teteh membuat bahan baku kosmetik, menguji efikasinya terhadap manusia, lalu menghasilkan produk jadi yang ternotifikasi di Badan POM. Mengapa Teh Cahya memilih pendekatan "hulu-hilir" ini, dan apa maknanya bagi Anda?

Cahya: Saya ingin penelitian saya nggak berhenti sebagai tulisan saja. Saya membuat bahan baku kosmetik, menguji efikasinya terhadap manusia, lalu menghasilkan produk jadi yang ternotifikasi di Badan POM. Rangkaian itu membuat proses akademik bersentuhan langsung dengan bahan, manusia, produk, dan regulasi. Dari proses itu, muncul pikiran tentang kosmetik Indonesia dan bahan bakunya—bahwa jika ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, inovasi perlu dibuat, dibuktikan, dan disebarluaskan melalui jurnal penelitian.


Saya mulai melihat pentingnya istilah hulu dan hilir. Di hulu ada riset, bahan baku, uji in vitro, uji in vivo, dan pembuktian. Di hilir ada formula, produk, brand, customer, pasar, dan manusia yang benar-benar memakai. Jika riset hanya berhenti di hulu, ia bisa menjadi tulisan yang belum tentu menyentuh pengguna. Jika produk hanya berlari di hilir, ia bisa kehilangan dasar yang membuatnya aman dan bisa dipertanggungjawabkan. Saya ingin menjadi jembatan antara dua ruang itu. Tesis saya adalah perwujudan dari keyakinan bahwa science dan beauty bisa berjalan bersama.


KK: Beautylatory lahir sebagai ruang pengalaman dan edukasi kosmetik, tetapi harus berpindah tempat beberapa kali. Apa yang membuat konsep itu terus Teh Cahya perjuangkan meskipun menghadapi tantangan?

Cahya: Beautylatory lahir di Cihampelas pada Desember 2020 sebagai ruang make your own cosmetic in mini laboratory. Namun pandemi membuat ruang gerak masyarakat terbatas. September 2021, Beautylatory Store 1 Cihampelas akhirnya tutup. Di balik penutupan itu ada karyawan, tim media dan konten, tim Kopilatory, dan orang-orang yang sebelumnya bekerja di ruang itu.

Tapi kemudian Allah memberi kesempatan lain—sebuah tempat baru ditemukan di Dago. Kami pindah, tetapi bentuknya nggak sama. Pengalaman make your own cosmetic nggak lagi dibawa sepenuhnya. Tempat di Dago bertahan sekitar satu tahun, lalu Beautylatory bergerak lagi sampai akhirnya berada bersama RSIA Parahyangan. Perpindahan itu menunjukkan bahwa konsep awal nggak langsung menemukan tempat yang paling sesuai. Ia perlu melewati ruang, waktu, dan keadaan yang berbeda sebelum menemukan bentuk berikutnya. Saya terus memperjuangkannya karena saya percaya bahwa ilmu perlu memiliki wajah yang bisa ditemui pengguna. Kosmetik nggak boleh hanya menjadi produk di rak; ia perlu menjadi pengalaman, edukasi, dan ruang belajar bagi masyarakat.


KK: Lunaray Beauty Factory diresmikan pada Juli 2023. Apa visi Teh Cahya untuk pabrik ini, dan bagaimana pengalaman sebelumnya mempersiapkan Teteh untuk membangun pabrik dari awal?

Cahya: Lunaray Beauty Factory [LBF] lahir setelah saya melewati pengalaman panjang di dunia pabrikasi. Pengalaman dari Wardah, AFU, Surya Permata, Dian Indah Abadi, S2, dan Beautylatory jadi bekal yang sudah ada sebelum pabrik ini berjalan.


LBF membawa visi untuk inovasi dan kreativitas dalam industri kosmetik, tetapi tetap ditempatkan bersama norma undang-undang dan kemanusiaan. Di LBF, ide harus bertemu proses. Produk nggak cukup hanya punya konsep, nama, atau arah pasar—ia harus masuk ke formula, bahan, alur kerja, produksi, pencatatan, dan legalitas.


Beberapa karyawan yang sudah lama bergabung sejak Dian Indah membawa pengalaman yang sudah terasah ke pabrik baru ini. LBF menjadi ruang untuk menata proses dengan kebutuhan yang berbeda. Jika Dian Indah adalah fase membangun ulang pabrik yang sudah ada, LBF hadir sebagai pabrik baru yang membawa arah inovasi dan kreativitas. Saya nggak memulai dari nol—saya membawa semua pelajaran dari setiap fase sebelumnya. LBF adalah rumah produksi dalam perjalanan 25 tahun saya di kosmetik.


KK: Teh Cahya sangat vokal tentang pentingnya kolaborasi antara akademisi dan industri, terutama dalam pengembangan bahan baku lokal. Mengapa ini penting bagi masa depan kosmetik Indonesia?  

Cahya: Indonesia memiliki banyak bahan alam yang potensial. Tapi bahan alam nggak otomatis jadi bahan baku yang siap dipakai oleh industri. Sebuah bahan perlu dimulai dari literasi—apa yang sudah diteliti, bagian mana yang digunakan, kandungan apa yang penting, dan risiko apa yang perlu diperhatikan. Setelah literasi, bahan perlu masuk ke tahap ekstraksi, uji stabilitas, dan formulasi.

Kampus memiliki peneliti, laboratorium, instrumen, mahasiswa, dan tradisi membaca data. Industri memiliki kebutuhan produk, pengalaman pabrik, pemahaman pasar, dan tuntutan agar hasil riset bisa digunakan secara nyata. Pertemuan dua dunia itu nggak selalu otomatis—bahasa akademik dan bahasa industri sering berbeda. Karena itu, diperlukan ruang yang bisa membantu keduanya duduk bersama.

Saya hadir dalam kerja sama itu sebagai praktisi industri, membawa pengalaman dari R&D, formulasi, pabrik, customer, dan legalitas. Ketika dunia akademik dan dunia industri saling mendengarkan, pengetahuan nggak berhenti sebagai publikasi, tetapi memiliki peluang untuk benar-benar menjadi solusi. Jika kita ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, inovasi perlu dibuat, dibuktikan, dan disebarluaskan.


KK: Setelah 25 tahun di kosmetik, Teh Cahya kembali ke akar sebagai apoteker melalui Apotek Parahyangan Suite. Apa yang membuat Teteh memutuskan untuk kembali ke pelayanan farmasi, dan apa makna apotek bagi perjalanan hidup Teh Cahya?

Cahya: Mamah pernah menyimpan harapan sederhana tentang jalan Farmasi saya—jika kelak saya menjadi apoteker, Mamah membayangkan jalan itu bisa bersambung ke apotek. Setelah lulus, tujuan pertama yang terlintas dalam catatan saya adalah memberi pelayanan berupa informasi obat kepada pasien.


Akan tetapi hidup membawa saya ke arah lain terlebih dahulu—jalan kosmetik—tetapi itu nggak memutus akar Farmasi saya. Saya tetap membawa cara berpikir apoteker dalam membaca bahan, manfaat, keamanan, dan cara pakai.

Ketika Apotek Parahyangan Suite muncul dalam catatan 2026, bagian lama dari perjalanan itu kembali tersentuh. Apotek ini hadir setelah saya melewati 25 tahun perjalanan di dunia kosmetik. Ia nggak datang sebagai awal baru yang kosong, tetapi sebagai ruang yang masih berhubungan dengan profesi awal saya. Di apotek, saya kembali bersentuhan dengan pelayanan farmasi, pencegahan, dan kebutuhan harian masyarakat. Mamah menyebut rasa syukurnya ketika melihat bahwa sekarang sudah ada apotek. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup menjadi tanda bahwa ada harapan lama yang kembali muncul dalam perjalanan saya.


KK: Teh Cahya menulis tentang pentingnya "menjadi tuan rumah di negeri sendiri". Apa arti kalimat itu bagi Teteh secara pribadi, dan apa yang masih harus dikerjakan untuk mewujudkannya?

Cahya: Menjadi tuan rumah di negeri sendiri bukan hanya tentang bahan baku atau riset. Ia juga menyentuh kemasan, legalitas, pameran, customer, pabrik, produk baru, dan cara belajar yang terus bergerak. Dalam catatan saya, makna itu justru terlihat dalam pekerjaan sehari-hari: terus belajar, memperbaiki kemasan, memahami aspek legalitas, mengikuti pameran, menjaga hubungan dengan pelanggan, dan membuka peluang-peluang baru.


Saya belajar dari luar—pameran internasional, tren, kemasan, bahan—tetapi saya nggak ingin hanya menjadi pengikut. Saya ingin melihat kebutuhan Indonesia dengan lebih jelas dan menjawabnya dengan produk yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari langkah-langkah sederhana itulah, arah besar yang saya cita-citakan perlahan mulai menemukan bentuknya. Masih banyak yang harus dikerjakan—bahan baku, riset, kemasan, legalitas, dan edukasi konsumen—tetapi saya percaya bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menjadikan kosmetik Indonesia tuan rumah di negeri sendiri.


KK: Dalam perjalanan, Teh Cahya bertemu banyak orang yang menjadi bagian dari cerita—dari Teh Siti, Bu Agus, Pak Henry, hingga tim di Dian Indah dan LBF. Apa yang Teteh pelajari tentang kepemimpinan dari hubungan-hubungan itu?

Cahya: Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, tetapi tentang hubungan. Dari Teh Siti, saya belajar bagaimana seorang senior memberi jalan kepada junior dengan kepercayaan. Dari Bu Agus, saya belajar bahwa customer yang marah pun tetap perlu dilayani dengan baik. Dari Pak Henry, saya belajar bahwa komunikasi yang baik dan tanggung jawab adalah fondasi kepercayaan. Dari tim di Dian Indah dan LBF—Rina, Dede, Andri, Ijal, dan banyak lainnya—saya belajar bahwa kepercayaan harus diberikan, tetapi juga harus diikuti dengan ruang untuk belajar dan memperbaiki diri.


Saya juga belajar bahwa ketegasan perlu dijaga agar nggak menghilangkan rasa manusia. Tim bukan hanya bagian dari sistem; mereka adalah orang-orang yang juga sedang belajar, bekerja, dan membawa kehidupan masing-masing. Kepemimpinan bagi saya adalah tentang bagaimana kita hadir, memberi ruang, dan tetap menjaga arah ketika usaha semakin besar. Dan yang paling penting: kepemimpinan adalah tentang bagaimana kita membuat orang lain merasa bahwa mereka juga bagian dari perjalanan ini.


KK: Anak-anak Teh Cahya, Raka dan Raika, mulai membaca perjalanan Teteh dengan cara yang lebih dewasa. Apa yang mereka lihat dari Teh Cahya yang mungkin tidak mereka pahami saat masih kecil?

Cahya: Raka mulai melihat bahwa banyak hal dalam hidupnya adalah pengalaman pertama saya sebagai ibu. Ia bukan hanya dibesarkan oleh seorang ibu yang sudah tahu semua jawaban—ia juga tumbuh bersama seorang ibu yang sedang belajar memahami anak pertamanya. Rai membaca saya dari sisi yang lebih dekat dengan percakapan. Baginya, saya bukan hanya ibu, tetapi juga tempat bercerita. Setelah dewasa, ia mulai melihat bahwa orang yang selama ini mendengarkan dirinya juga memiliki banyak hal yang ia simpan sendiri.


Anak-anak saya mulai melihat bahwa di balik kesibukan yang dulu hanya tampak sebagai pekerjaan, ada tanggung jawab yang nggak ringan. Mereka juga melihat bahwa perbedaan cara pandang antara Papap dan Mamah kadang membuat keputusan perlu dibicarakan lebih lama, tetapi dari perbedaan itulah mereka belajar bahwa kedewasaan bukan berarti semua hal menjadi mudah. Saya nggak perlu menempatkan seluruh perjalanan hidup saya sebagai beban yang harus diteruskan persis. Yang lebih penting adalah nilai baik yang pernah mereka lihat bisa tetap menemukan bentuknya di jalan masing-masing.


KK: Di usia 50 tahun, dengan semua perjalanan yang telah Teh Cahya lalui—dari sepatu besi hingga pabrik, dari kehilangan hingga kebangkitan—apa pesan Teteh untuk mereka yang sedang berjalan di jalan mereka sendiri?

Cahya: Setiap orang memiliki jalan yang nggak selalu bisa dijelaskan sejak awal. Ada langkah yang tampak kecil ketika pertama kali dijalani, dan ada peristiwa yang baru mulai terbaca setelah waktu memberi jarak. Nggak semua pintu terlihat besar sejak awal—tetapi setiap pintu yang terbuka, sekecil apa pun, bisa membawa kita ke tempat yang nggak pernah kita bayangkan. Saya ingin mengatakan bahwa ikhtiar dan hasil adalah dua hal yang berbeda. Manusia tetap perlu bergerak, bekerja, belajar, dan melakukan yang terbaik. Tapi hasil akhirnya tetap harus dikembalikan kepada Allah. Ada juga luka yang nggak hilang hanya karena hidup terus berjalan, tetapi kita tetap perlu menentukan bagaimana membawa luka itu dalam langkah berikutnya.

Untuk mereka yang sedang berjalan, nggak semua langkah perlu langsung terlihat besar. Nggak semua proses perlu dimengerti oleh orang lain. Ada bagian hidup yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang menjalaninya. Saya berdoa agar setiap langkah yang kita ambil—sekecil apa pun—menjadi jalan untuk lebih banyak memperbaiki diri, menjaga amanah, dan menyenangkan Sang Maha Pemberi nikmat. Bismillah, mana yang terbaik menurut Allah. [][selesai]


Sebuah Memoir 25|50 dapat diakses di sini