Kita tumbuh dengan definisi laki-laki yang terasa kaku. Harus kuat, tidak banyak mengeluh, dan tidak terlalu peduli pada penampilan. Seolah-olah merawat diri adalah sesuatu yang tidak perlu, bahkan dianggap berlebihan.
Padahal, realita hari ini mulai berubah. Banyak pria mulai sadar pentingnya menjaga tubuh, kulit, dan kesehatan secara lebih utuh. Dari olahraga, pola makan, sampai skincare, semua mulai menjadi bagian dari keseharian.
Namun, di tengah perubahan itu, masih ada suara yang sama. Bahwa merawat diri membuat laki-laki terlihat kurang maskulin. Kalimat ini sering muncul, baik secara langsung maupun dalam bentuk candaan.
Baca Juga: Gaya Hidup Pria dan Keputusan yang Terlalu Cepat Diambil
Maskulinitas Lama yang Masih Bertahan
Definisi maskulinitas yang kita kenal banyak dibentuk dari masa lalu. Laki-laki dianggap harus tahan sakit, tidak terlalu peduli pada detail, dan fokus pada hal-hal yang dianggap ‘penting’. Perawatan diri sering ditempatkan di luar kategori itu.
Akibatnya, banyak pria tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan cara merawat dirinya sendiri. Bahkan hal sederhana seperti memahami kondisi kulit atau menjaga kesehatan tubuh sering dianggap tidak prioritas.
Dalam keseharian, ini terlihat dari kebiasaan yang diulang. Mengabaikan tanda kelelahan, tidak memperhatikan pola makan, atau baru peduli ketika sudah muncul masalah. Semua itu terasa normal, karena memang sudah lama dianggap begitu.
Namun, pertanyaannya sederhana. Apakah kuat berarti harus mengabaikan diri sendiri? Atau justru memahami tubuh adalah bagian dari kekuatan itu sendiri?
Baca Juga: Cara Simpel Biar Tetap Rapi Tanpa Banyak Produk
Merawat Diri Bukan Soal Penampilan Saja
Banyak orang masih mengira perawatan diri hanya soal terlihat lebih baik. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Merawat diri juga berarti menjaga kesehatan, memahami batas tubuh, dan memberi perhatian pada hal-hal yang sering diabaikan.
Contohnya sederhana. Menggunakan skincare bukan hanya soal wajah terlihat lebih bersih, tapi juga soal menjaga kesehatan kulit. Olahraga bukan hanya soal bentuk tubuh, tapi juga soal energi dan daya tahan.
Di sisi lain, tren perawatan pria memang semakin berkembang. Produk khusus pria bermunculan, konten edukasi semakin mudah diakses, dan kesadaran mulai tumbuh. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan itu memang ada, bukan sekadar tren sesaat.
Yang sering jadi masalah bukan perawatannya, tapi stigma di sekitarnya. Ada rasa ‘tidak nyaman’ untuk terlihat peduli pada diri sendiri, karena takut dinilai berbeda. Padahal, penilaian itu sering datang dari standar lama yang belum tentu relevan.
Dalam praktiknya, banyak pria mulai menemukan keseimbangannya sendiri. Mereka tetap bisa kuat, tetap bisa tegas, tapi juga tahu cara merawat dirinya. Dan itu tidak membuat mereka kehilangan apa pun.
Pada akhirnya, merawat diri bukan soal menjadi kurang laki-laki. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Karena memahami dan menjaga diri bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa seseorang tahu apa yang ia butuhkan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]