Keputusan sudah dibuat. Namun pikiran belum tentu ikut tenang. Setelah memilih, kita justru bisa semakin sibuk mencari alasan bahwa pilihan tadi memang benar.

Seseorang baru saja membeli ponsel setelah berminggu-minggu membandingkan dua merek. Begitu transaksi selesai, ia mulai lebih sering membaca ulasan positif tentang produk pilihannya dan melewati komentar yang menyoroti kekurangannya. Pilihan sudah dibuat, tetapi pembuktian seolah belum selesai.

Hal serupa bisa terjadi pada pekerjaan, hubungan, tempat tinggal, sekolah anak, bahkan keputusan sederhana seperti memilih restoran. Setelah menentukan satu pilihan, kita sering kembali mencari alasan yang membuat keputusan tersebut terasa semakin masuk akal. Bukan selalu karena pilihannya buruk, melainkan karena pikiran manusia tidak terlalu nyaman hidup bersama keraguan.

Psikologi sudah lama mempelajari kecenderungan semacam ini melalui teori cognitive dissonance. Leon Festinger menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan tindakan dapat menghasilkan ketegangan psikologis yang mendorong manusia mencari cara untuk menguranginya. Setelah keputusan sulit dibuat, salah satu caranya adalah membuat pilihan yang diambil terasa lebih benar daripada sebelumnya. 

Baca Juga: Kenapa Kita Terkadang Terus Memikirkan Percakapan yang Sudah Selesai Berjam-jam Lalu?

Setelah Memilih, Kita Bisa Mulai Mengubah Cara Melihat Pilihannya

Eksperimen klasik Jack Brehm pada 1956 memperlihatkan pola yang menarik. Peserta diminta memilih antara dua barang yang sebelumnya mereka nilai hampir sama menariknya. Setelah memilih, barang yang dipilih cenderung dinilai lebih tinggi, sementara pilihan yang ditinggalkan dinilai lebih rendah. 

Pola ini dikenal sebagai spreading of alternatives. Setelah keputusan sulit, pikiran seolah memperlebar jarak antara pilihan yang tadinya hampir seimbang. Opsi yang dipilih menjadi terlihat semakin baik, sedangkan opsi yang dilepas perlahan terasa semakin tidak menarik. 

Bayangkan seseorang menerima tawaran kerja A dan menolak pekerjaan B. Sebelum memutuskan, keduanya sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan. Setelah tanda tangan kontrak, ia mungkin mulai lebih sering memikirkan budaya kerja yang menarik di perusahaan A dan mengingat kekurangan perusahaan B yang sebelumnya tidak terlalu mengganggu.

Perubahan itu dapat membantu secara psikologis karena terus-menerus meragukan keputusan akan melelahkan. Tidak mungkin setiap hari kita membuka kembali semua kemungkinan yang sudah dilewati. Pikiran membutuhkan cukup banyak kepastian agar hidup bisa terus bergerak.

Masalah muncul ketika kebutuhan merasa benar mulai mengalahkan kebutuhan melihat kenyataan. Informasi yang bertentangan dengan keputusan bisa dianggap tidak penting, sementara bukti yang mendukungnya diberi perhatian lebih besar. Dari sini pembenaran bukan lagi sekadar cara menenangkan diri, tetapi dapat mengurangi kemampuan belajar dari kesalahan.

Baca Juga: Kenapa Kita Bisa Cemas Menunggu Balasan Pesan yang Sebenarnya Biasa Saja?

Ingatan Kita Sendiri Pun Bisa Ikut Membela Keputusan

Mara Mather, Eldar Shafir, dan Marcia Johnson menemukan fenomena yang bahkan lebih halus. Dalam penelitian mengenai choice-supportive memory, peserta cenderung mengingat lebih banyak karakteristik positif sebagai milik pilihan yang mereka ambil dan lebih banyak karakteristik negatif sebagai milik pilihan yang tidak dipilih. Sebagian atribusi tersebut bahkan terjadi secara keliru. 

Artinya, pembenaran tidak selalu terjadi dengan sengaja. Dikutip dari Association for Psychological Science, kita bisa benar-benar merasa mengingat bahwa pilihan yang diambil sejak awal memang lebih baik, padahal sebagian memori sudah ikut dipengaruhi keputusan tersebut. Para peneliti mencatat pola semacam ini dapat membantu mengurangi penyesalan, tetapi juga berpotensi mengganggu akurasi ingatan dan kemampuan belajar dari pengalaman. 

Ini menjelaskan mengapa perdebatan setelah sebuah keputusan kadang terasa begitu sulit. Seseorang bukan hanya mempertahankan pilihannya, tetapi bisa mempunyai ingatan berbeda tentang bagaimana pilihan itu dibuat. Fakta yang dahulu terasa ambigu perlahan disusun ulang menjadi cerita yang lebih rapi.

Pembenaran juga semakin kuat ketika keputusan membutuhkan biaya besar. Semakin banyak uang, waktu, tenaga, atau reputasi yang sudah dikeluarkan, semakin berat mengakui kemungkinan bahwa keputusan tersebut kurang tepat. Mengubah pikiran kemudian terasa seperti mengakui bahwa semua investasi sebelumnya sia-sia.

Namun, mengakui keputusan kurang tepat tidak selalu berarti keputusan awal dibuat secara bodoh. Manusia mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia pada saat itu, sementara keadaan dapat berubah dan informasi baru terus datang. Keputusan yang masuk akal kemarin bisa menjadi kurang tepat hari ini tanpa harus mengubah masa lalu menjadi kegagalan.

Karena itu, salah satu cara melihat pembenaran adalah dengan memisahkan dua pertanyaan. Pertama, apakah keputusan tersebut masuk akal ketika dibuat? Kedua, apakah masih masuk akal dipertahankan sekarang? Dua pertanyaan tersebut terdengar mirip, tetapi jawabannya bisa berbeda.

Mencari alasan setelah memilih memang membantu kita hidup dengan keputusan. Namun ada jarak antara berdamai dengan pilihan dan terus-menerus memaksa kenyataan agar cocok dengannya. Kemampuan mengubah pikiran bukan bukti bahwa keputusan sebelumnya sia-sia, melainkan tanda bahwa kita masih bersedia memperbarui pemahaman ketika informasi baru datang.

Mungkin pikiran memang membutuhkan sedikit pembenaran agar tidak terus dikejar penyesalan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kebutuhan merasa benar membuat kita kehilangan kemampuan mengakui sesuatu yang sederhana: pilihan pernah terasa tepat, tetapi manusia tetap boleh belajar bahwa hari ini ia melihatnya dengan cara berbeda. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.