Anak sekarang lebih sering diajak bicara, didengar, dan divalidasi. Bagi sebagian orang, itu terlihat lembek. Namun apakah disiplin memang sedang menghilang?

Pemandangan semacam ini semakin mudah ditemukan. Ketika anak menangis karena keinginannya ditolak, orangtua berjongkok, mendengarkan, lalu mencoba menjelaskan alasan di balik keputusan mereka. Bagi generasi yang dahulu lebih akrab dengan kalimat “pokoknya menurut”, percakapan panjang seperti itu mungkin terasa asing.

Komentar kemudian muncul: orangtua sekarang terlalu lembek. Anak terlalu banyak diajak bernegosiasi, terlalu dijaga perasaannya, dan terlalu sedikit merasakan kerasnya konsekuensi. Namun persoalannya menjadi berbeda jika yang sedang kita lihat sebenarnya bukan hilangnya disiplin, melainkan perubahan cara disiplin diberikan.

Dikutip dari American Psychological Association [APA], psikologi perkembangan sejak lama menunjukkan bahwa pola asuh tidak cukup dibedakan menjadi keras dan lembut. Ada dua dimensi penting di dalamnya: seberapa responsif dan hangat orangtua terhadap anak serta seberapa kuat batas dan tuntutan yang diberikan. Kombinasi keduanya menghasilkan bentuk pengasuhan yang berbeda. 

Baca Juga: Kita Sudah Mengambil Keputusan, Mengapa Masih Terus Mencari Pembenaran?

Mendengarkan Anak Tidak Sama dengan Membiarkannya Menentukan Segalanya

Diana Baumrind menjadi salah satu tokoh penting dalam penelitian mengenai pola asuh. Dalam kerangka yang kemudian banyak dikembangkan, pola authoritative menggabungkan kehangatan dan respons terhadap anak dengan batas yang tegas. Orangtua mendengarkan sudut pandang anak, menjelaskan aturan, dan membuka ruang diskusi, tetapi bukan berarti selalu menerima keinginan anak. 

Ini berbeda dengan pola permissive. Orangtua permisif juga dapat sangat hangat dan menyayangi anak, tetapi cenderung kurang menetapkan batas yang tegas serta lebih sedikit menuntut perilaku yang sesuai dengan perkembangan anak. Jadi, kelembutan dalam cara berbicara sebenarnya tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang sedang mendidik secara permisif. 

Menariknya, sesuatu yang sekarang populer sebagai gentle parenting juga belum mempunyai definisi ilmiah yang sesederhana unggahan media sosial. Studi sistematis yang dilansir dari PubMed terhadap 100 orangtua yang diterbitkan pada 2024 menemukan pendekatan ini banyak menekankan afeksi serta regulasi emosi orangtua dan anak. Penelitian tersebut juga menemukan perhatian terhadap batas, meskipun cara orangtua menerapkan batas tersebut tidak seragam. 

Maka seorang ayah yang berkata, “Ayah tahu kamu kecewa, tetapi hari ini kita tidak membeli mainan,” tidak otomatis sedang bersikap lembek. Ia mengakui perasaan anak tanpa mengubah keputusannya. Anak boleh kecewa, sementara batas tetap berdiri.

Justru bagian terakhir itulah yang sering terlupakan ketika pembicaraan tentang validasi emosi menjadi populer. Memahami mengapa anak marah tidak mengharuskan orangtua menghilangkan semua penyebab kemarahannya. Ada perbedaan besar antara membantu anak menghadapi rasa kecewa dengan memastikan anak tidak pernah merasa kecewa.

Baca Juga: Kenapa Kita Terkadang Terus Memikirkan Percakapan yang Sudah Selesai Berjam-jam Lalu?

Mungkin yang Berubah Bukan Ketegasan, Melainkan Cara Menunjukkannya

Sebagian kebingungan muncul karena ketegasan dahulu lebih mudah dikenali. Suara tinggi, hukuman, perintah, atau keputusan tanpa diskusi terlihat jelas sebagai otoritas. Ketika orangtua masa kini memilih menjelaskan aturan dengan tenang, otoritas tersebut mungkin tidak lagi terlihat dalam bentuk yang sama.

Padahal penelitian mengenai authoritative parenting justru menempatkan kehangatan dan disiplin tegas dalam satu pendekatan. Literatur APA menggambarkannya sebagai perpaduan dukungan emosional, standar yang tinggi tetapi sesuai, pemberian otonomi, dan komunikasi dua arah. Sejumlah penelitian lintas budaya juga menghubungkan pola ini dengan berbagai hasil perkembangan anak yang positif, meskipun kekuatan hubungannya dapat berbeda menurut konteks budaya. 

Di sisi lain, kekhawatiran mengenai orangtua yang terlalu permisif juga tidak perlu ditertawakan. Batas memang mempunyai fungsi perkembangan. Anak perlu perlahan belajar bahwa keinginan tidak selalu terpenuhi, perilaku mempunyai konsekuensi, orang lain mempunyai kebutuhan, dan beberapa aturan tetap berlaku meskipun ia sedang tidak menyukainya.

Kesulitannya adalah orangtua pun harus mampu bertahan menghadapi reaksi anak. Menetapkan batas kadang berarti melihat anak menangis, marah, atau kecewa tanpa buru-buru menghapus perasaan tersebut dengan memberikan apa yang diminta. Kehangatan orangtua diuji bukan hanya ketika anak bahagia, tetapi juga ketika ia tidak menyukai keputusan mereka.

Karena itu, pertanyaan tentang apakah orangtua sekarang lebih lembek mungkin terlalu sederhana. Kita juga sedang menyaksikan generasi orangtua yang mempunyai lebih banyak bahasa untuk membicarakan emosi, mendengarkan perspektif anak, dan mempertanyakan cara disiplin yang dahulu dianggap biasa. Pada saat yang sama, pendekatan baru tetap dapat tergelincir menjadi permisif ketika empati tidak lagi disertai batas.

Tidak semua cara lama harus dibuang hanya karena lama, sebagaimana tidak semua pendekatan baru otomatis lebih baik karena terdengar lebih ramah. Penelitian pola asuh sendiri terus berkembang dan perlu mempertimbangkan temperamen anak, hubungan dua arah antara anak dan orangtua, serta konteks budaya keluarga. Bahkan kerangka authoritative parenting terus dikaji agar tidak diperlakukan sebagai rumus tunggal untuk setiap keluarga. 

Mungkin yang sedang berubah adalah gambaran kita tentang orangtua yang tegas. Ketegasan tidak selalu membutuhkan bentakan, sebagaimana kelembutan tidak harus berarti menyerah. Orangtua bisa mendengarkan tangisan anak, mengakui kekecewaannya, memeluknya, lalu tetap mengatakan tidak.

Jika demikian, sebagian yang terlihat sebagai orangtua semakin lembek mungkin sebenarnya adalah usaha mencari bentuk disiplin yang berbeda. Tantangannya bukan kembali menjadi lebih keras, melainkan memastikan empati tidak kehilangan batas dan batas tidak kehilangan empati. Sebab anak membutuhkan keduanya untuk belajar bahwa perasaannya penting, tetapi dunia tidak selalu harus berubah mengikuti perasaannya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.