Ada momen ketika kita merasa cukup. Alhamdulillah. Sampai kita melihat sesuatu yang membuat perasaan itu berubah. Bisa dari unggahan media sosial, cerita teman, atau pencapaian orang lain yang tiba-tiba terasa dekat. Dari situ, tanpa banyak disadari, pikiran mulai bergerak ke arah yang berbeda.

Perbandingan sering muncul di situasi yang terlihat sederhana. Kita melihat seseorang dengan pekerjaan yang lebih stabil, hubungan yang terlihat bahagia, atau kehidupan yang tampak lebih rapi. Apa yang awalnya hanya dilihat, perlahan berubah menjadi sesuatu yang dinilai.

Di titik itu, fokus tidak lagi pada apa yang kita miliki. Tapi pada apa yang terlihat dimiliki oleh orang lain. Dan tanpa sadar, ukuran diri mulai bergeser.

Contoh yang paling sering terjadi ada di sekitar kita. Teman yang dulu satu kelas tiba-tiba sudah menikah lebih dulu, lalu tanpa sadar kita mulai bertanya pada diri sendiri. Bukan karena kita ingin hal yang sama, tapi karena merasa seperti tertinggal dari sesuatu yang tidak pernah kita sepakati.

Contoh lain muncul di dunia kerja. Ada teman yang kariernya terlihat melesat lebih cepat, promosi lebih dulu, atau punya pencapaian yang lebih terlihat. Dari situ, perasaan yang muncul bukan selalu iri, tapi seperti ada dorongan untuk membandingkan arah hidup sendiri.

Baca Juga: ‘Gue Emang Gini, Ada Masalah?’ Kenapa Kita Sering Bersembunyi di Balik Label Diri?

Otak yang Mencari Posisi

Dalam psikologi, membandingkan diri bukan sesuatu yang aneh. Justru ini adalah cara alami otak untuk memahami posisi kita di lingkungan sosial. Kita mencoba melihat di mana kita berada, apakah kita 'cukup', atau masih perlu menyesuaikan.

Masalahnya, perbandingan ini jarang benar-benar seimbang. Kita sering membandingkan bagian dalam diri kita dengan bagian luar dari orang lain. Apa yang kita rasakan dibandingkan dengan apa yang mereka tampilkan.

Di era media sosial, perbedaan ini menjadi semakin besar. Kita melihat versi terbaik dari banyak orang, dalam waktu yang bersamaan. Pencapaian, momen bahagia, dan sisi yang sudah dipilih dengan hati-hati menjadi konsumsi harian.

Dari situ, muncul ilusi bahwa semua orang bergerak lebih cepat. Bahwa orang lain sudah sampai di titik tertentu, sementara kita masih di tempat yang sama. Perasaan ini terasa nyata, meski dasar perbandingannya tidak selalu utuh.

Padahal, yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita. Tapi karena terlihat terus-menerus, ia terasa seperti gambaran utuh. Dari situlah tekanan mulai terbentuk tanpa kita sadari.

Baca Juga: Cerita ke Teman, Tapi Malah Jadi Lelah, Ini Kenapa?

Dari Refleksi Menjadi Tekanan

Awalnya, perbandingan bisa menjadi alat refleksi. Kita melihat sesuatu, lalu bertanya apakah kita ingin menuju arah yang sama. Dalam kondisi ini, perbandingan bisa membantu kita berkembang.

Namun ketika dilakukan terus-menerus, fungsinya bisa berubah. Ia tidak lagi membantu, tapi justru menekan. Kita mulai merasa kurang, bahkan ketika sebenarnya tidak ada yang salah.

Perasaan ini sering muncul tanpa alasan yang jelas. Bukan karena kita gagal, tapi karena kita merasa tertinggal. Dan perasaan tertinggal itu sering tidak punya ukuran yang pasti.

Di sinilah perbandingan menjadi melelahkan. Kita tidak lagi melihat diri sendiri secara utuh, tapi melalui potongan-potongan yang dibandingkan dengan orang lain. Hasilnya, apa pun yang kita miliki terasa belum cukup.

Yang jarang disadari, kita tidak selalu harus berhenti membandingkan. Tapi kita bisa mulai mengubah cara kita melakukannya. Bukan untuk menjatuhkan diri, tapi untuk memahami apa yang benar-benar kita inginkan.

Karena tidak semua yang terlihat menarik, benar-benar relevan untuk kita. Dan tidak semua yang dimiliki orang lain, perlu kita jadikan ukuran. Dari situ, kita bisa mulai mengambil jarak secara perlahan.

Mungkin, di situlah titik awalnya. Ketika kita mulai kembali melihat diri sendiri, tanpa harus selalu melihat ke arah orang lain. Dan perlahan, perbandingan tidak lagi menjadi beban. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]