Banyak orang lebih mudah mengingat satu kritik daripada sepuluh pujian. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tetapi berkaitan dengan cara otak memproses pengalaman.

Pernahkah Anda menerima pujian atas pekerjaan yang telah dilakukan, tetapi spontan menjawab, "Ah, kebetulan saja," atau "Masih banyak yang kurang"? Sebaliknya, ketika seseorang melontarkan kritik kecil, pikiran justru terus memutarnya berulang-ulang hingga berhari-hari. Kalimat yang mungkin hanya diucapkan beberapa detik dapat tinggal lebih lama di kepala dibanding sederet apresiasi yang pernah diterima.

Fenomena ini dialami banyak orang. Bukan karena mereka tidak menghargai pujian, melainkan karena otak manusia memang tidak selalu memperlakukan informasi positif dan negatif dengan cara yang sama. Dalam psikologi, ada sejumlah penjelasan mengapa kritik terasa lebih mudah dipercaya, sementara pujian seringkali kita ragukan.

Yang menarik, kecenderungan ini bukan hanya memengaruhi rasa percaya diri, tetapi juga cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain, mengambil keputusan, bahkan menilai dirinya sendiri.

Baca Juga: Ambivert dan Otrovert, Mengapa Kepribadian Tidak Selalu Hitam Putih?

Otak Lebih Peka terhadap Hal Negatif daripada Hal Positif

Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah negativity bias, yaitu kecenderungan otak memberikan perhatian lebih besar pada pengalaman negatif dibanding pengalaman positif.

Psikolog Dr. Rick Hanson menjelaskan bahwa otak manusia berevolusi untuk lebih peka terhadap ancaman karena hal tersebut berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup. Dalam bukunya Buddha's Brain: The Practical Neuroscience of Happiness, Love, and Wisdom [2009], Hanson menulis bahwa pengalaman negatif cenderung menempel lebih kuat di otak, sementara pengalaman positif membutuhkan waktu lebih lama agar benar-benar tersimpan dalam ingatan.

Sederhananya, otak lebih cepat bertanya, "Apa yang salah?" daripada, "Apa yang sudah berjalan baik?" Mekanisme ini dahulu membantu manusia mengenali bahaya di alam. Namun, dalam kehidupan modern, pola yang sama membuat kritik terasa jauh lebih berkesan daripada pujian.

Itulah sebabnya, seseorang dapat menerima banyak apresiasi dalam satu hari, tetapi pikirannya justru terus kembali pada satu komentar yang bernada negatif. Bukan karena kritik tersebut pasti benar, melainkan karena otak memang memberi ‘prioritas’ lebih besar kepada informasi yang dianggap berpotensi menjadi ancaman.

Baca Juga: Kerja Keras Sering Terpinggirkan oleh Kepandaian Berbicara, Benarkah?

Pujian Sering Bertabrakan dengan Cara Kita Melihat Diri Sendiri

Selain dipengaruhi cara kerja otak, kemampuan menerima pujian juga berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Psikolog Dr. Kristin Neff, pelopor konsep self-compassion, menjelaskan bahwa banyak orang terbiasa menjadi pengkritik paling keras bagi dirinya sendiri. Dalam bukunya Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself [2011], Neff menjelaskan bahwa ketika seseorang memiliki penilaian diri yang terlalu keras, pujian dari orang lain sering terasa tidak sesuai dengan keyakinan yang sudah ia bangun tentang dirinya.

Akibatnya, pujian mudah ditolak dengan berbagai alasan. Ada yang menganggap dirinya hanya beruntung, ada yang merasa belum cukup baik, dan ada pula yang takut terlihat sombong jika menerima apresiasi. Sebaliknya, kritik justru terasa lebih "masuk akal" karena sesuai dengan suara kritis yang sudah lama hidup di dalam pikirannya.

Bukan berarti semua kritik harus diabaikan. Kritik yang disampaikan dengan baik tetap penting sebagai bahan belajar dan memperbaiki diri. Namun, ketika seseorang hanya mempercayai kritik dan terus-menerus meragukan pujian, penilaiannya terhadap diri sendiri bisa menjadi tidak seimbang.

Belajar menerima pujian bukan berarti menjadi haus akan pengakuan. Menerima apresiasi dengan tulus justru menunjukkan bahwa seseorang mampu melihat dirinya secara lebih adil. Ia menyadari masih memiliki kekurangan, tetapi juga mengakui bahwa usaha dan pencapaiannya layak dihargai.

Mungkin, itulah alasan mengapa satu kritik sering terasa lebih berat daripada banyak pujian. Bukan karena hidup kita dipenuhi hal-hal buruk, melainkan karena otak memang lebih cepat menangkap apa yang dianggap sebagai ancaman. Kesadaran inilah yang dapat membantu kita mulai bersikap lebih seimbang: menerima kritik sebagai ruang untuk bertumbuh, tanpa mengabaikan pujian yang mungkin selama ini terlalu cepat kita sangkal. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.