Perasaan kurang sering datang di momen yang sederhana. Saat melihat orang lain membeli sesuatu, mengunggah pencapaian, atau menjalani gaya hidup tertentu, ada jeda kecil yang membuat kita membandingkan. Dari sana, muncul pertanyaan yang jarang diucapkan: yang terasa kurang itu apa sebenarnya.

Di banyak situasi, perbandingan tidak selalu dilakukan secara sadar. Ia muncul cepat, hampir otomatis, seiring dengan apa yang terlihat setiap hari di layar. Apa yang dimiliki orang lain menjadi cermin, meskipun kita tidak benar-benar meminta untuk melihatnya.

Ketika perbandingan ini terjadi berulang, rasa kurang bisa terasa semakin nyata. Bukan karena apa yang dimiliki berkurang, tetapi karena standar yang digunakan perlahan berubah. Dari sini, penilaian terhadap diri mulai bergeser.

Apa yang awalnya terlihat seperti soal barang, perlahan masuk ke ruang yang lebih dalam. Dari sekadar harga, menjadi soal nilai diri.

Baca Juga: Lihat Harga Dulu, Baru Menilai, Kenapa Kita Sering Begitu

Perbandingan Sosial yang Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Dalam psikologi, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain dijelaskan melalui teori social comparison dari Leon Festinger. Ia menyebutkan bahwa manusia secara alami menilai dirinya dengan melihat orang lain, terutama ketika tidak ada tolok ukur yang jelas.

Di era media sosial, proses ini terjadi lebih sering dan lebih cepat. Konten yang muncul bukan sekadar informasi, tetapi juga potongan kehidupan yang sudah dipilih untuk ditampilkan. Dari sini, perbandingan tidak terjadi di ruang yang netral, tetapi di ruang yang sudah dikurasi.

Ketika seseorang melihat gaya hidup, barang, atau pencapaian orang lain, yang dibandingkan bukan hanya objeknya. Yang ikut dibandingkan adalah posisi diri di dalamnya. Dari sini, perasaan kurang tidak selalu datang dari kekurangan nyata, tetapi dari cara melihat.

Penelitian dari psikolog Ethan Kross menunjukkan bahwa paparan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecenderungan perbandingan sosial, yang pada akhirnya berpengaruh pada kesejahteraan emosional. Apa yang terlihat sederhana di permukaan, ternyata punya dampak yang cukup dalam.

Di titik ini, perbandingan tidak lagi sekadar proses berpikir. Ia mulai memengaruhi perasaan.

Baca Juga: Kenapa Penilaian Kita Lebih Sering Ditentukan dari Harga?

Ketika Harga Menjadi Bahasa Nilai Diri

Harga sering menjadi simbol yang mudah dipahami. Mahal terasa lebih bernilai, murah terasa biasa saja. Ketika simbol ini digunakan dalam perbandingan, ia tidak berhenti pada barang, tetapi bisa meluas ke cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Psikolog Roy Baumeister menjelaskan bahwa harga diri [self-esteem] terbentuk dari bagaimana seseorang menilai dirinya dalam konteks sosial. Ketika penilaian diri terlalu bergantung pada perbandingan eksternal, harga diri menjadi lebih mudah naik dan turun.

Dalam konteks ini, melihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih mahal atau lebih ‘tinggi’ bisa memicu perasaan kurang, meskipun kebutuhan dasar sebenarnya sudah terpenuhi. Dari sini, barang menjadi perantara, bukan sumber utama.

Masalahnya, ketika harga dijadikan acuan nilai diri, standar menjadi tidak stabil. Ia bergantung pada apa yang terlihat di luar, bukan pada apa yang dimiliki di dalam. Dari sini, rasa cukup menjadi semakin sulit ditemukan.

Di titik ini, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan apakah orang lain memiliki lebih banyak. Tapi bagaimana cara kita mengaitkan apa yang mereka miliki dengan nilai diri kita sendiri.

Karena bisa jadi, yang terasa kurang bukan barangnya. Tapi cara kita menilai diri di tengah banyaknya perbandingan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.