Sudah berbulan-bulan tidak digunakan, tetapi setiap kali hendak dibuang selalu muncul alasan baru untuk mempertahankannya. Mengapa barang yang tak terpakai tetap terasa berharga?

Sebuah jaket sudah dua tahun tidak keluar dari lemari. Ukurannya mungkin tidak lagi pas, modelnya jarang dipilih, dan setiap kali merapikan pakaian barang itu selalu berada di tumpukan yang sama. Tapi, ketika tiba waktunya menentukan apakah jaket tersebut akan dilepas, keputusan mendadak terasa tidak sederhana.

Barang lain mempunyai cerita serupa. Kabel perangkat yang sudah tidak diketahui pasangannya, kotak telepon genggam lama, peralatan olahraga yang hanya digunakan beberapa kali, atau peralatan dapur yang dibeli karena suatu hari ingin mencoba resep tertentu. Semuanya jarang dipakai, tetapi kalimat yang muncul hampir selalu sama: “Siapa tahu nanti perlu.”

Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menumpuk barang. Cara manusia menilai sesuatu dapat berubah setelah benda itu menjadi miliknya. Nilai sebuah barang ternyata tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering ia digunakan.

Baca Juga: Semakin Dewasa, Kok Rasanya Semakin Sulit Punya Sahabat Baru?

Begitu Menjadi Milik Kita, Barang Bisa Terasa Lebih Berharga

Ekonom perilaku Richard Thaler memperkenalkan istilah endowment effect untuk menggambarkan kecenderungan manusia memberikan nilai lebih tinggi kepada sesuatu setelah benda tersebut menjadi miliknya. Penelitian Daniel Kahneman, Jack Knetsch, dan Thaler kemudian memperlihatkan bahwa orang sering meminta harga lebih tinggi untuk melepaskan benda yang sudah dimiliki dibandingkan jumlah yang bersedia mereka bayar untuk mendapatkannya.

Pola tersebut membantu menjelaskan mengapa sebuah barang terasa berbeda setelah beberapa tahun berada di rumah. Ketika melihatnya di toko, kita mungkin tidak akan tertarik membelinya lagi. Namun ketika benda yang sama sudah menjadi milik sendiri, keputusan membuangnya terasa seperti kehilangan sesuatu.

Ada pula pengaruh biaya yang pernah dikeluarkan. Sepatu olahraga yang mahal tetapi jarang digunakan bisa terasa terlalu sayang untuk diberikan kepada orang lain karena masih teringat berapa uang yang dahulu dibayarkan. Padahal uang tersebut tetap sudah dikeluarkan, baik sepatu terus disimpan maupun dilepas.

Dalam ekonomi perilaku, kecenderungan mempertahankan keputusan karena sumber daya sudah telanjur dikeluarkan dikenal sebagai sunk cost effect. Hal Arkes dan Catherine Blumer dalam penelitian klasik mereka menunjukkan bahwa investasi biaya sebelumnya dapat memengaruhi keputusan berikutnya, meskipun biaya masa lalu sebenarnya tidak dapat dipulihkan. Barang akhirnya dipertahankan bukan karena masih dibutuhkan, tetapi karena membuangnya terasa seperti mengakui bahwa pembelian dahulu tidak menghasilkan manfaat sebesar yang dibayangkan.

Baca Juga: Benarkah Waktu Terasa Makin Cepat Berlalu?

“Siapa Tahu Nanti Perlu” Membuat Masa Depan Sulit Dikalahkan

Alasan paling kuat justru sering datang dari masa depan yang belum terjadi. Printer lama mungkin suatu hari dibutuhkan, pakaian tersebut mungkin akan muat lagi, dan perkakas yang tidak pernah dipakai mungkin berguna ketika ada sesuatu yang rusak. Kemungkinannya kecil, tetapi tidak pernah benar-benar nol.

Masalahnya, kemungkinan masa depan sangat mudah dibayangkan tanpa harus dibuktikan. Kita dapat menciptakan skenario penggunaan untuk hampir semua barang jika diberi waktu cukup lama. Benda yang tidak pernah disentuh tiga tahun terakhir pun tetap memperoleh alasan untuk bertahan karena ‘nanti’ tidak mempunyai tanggal yang jelas.

Keputusan menjadi lebih sulit ketika barang juga mewakili versi diri yang ingin diwujudkan. Kamera yang jarang digunakan dapat menjadi simbol keinginan belajar fotografi, sepatu lari mengingatkan rencana hidup lebih sehat, sementara buku-buku yang belum dibaca membawa gambaran tentang diri yang ingin membaca lebih banyak. Membuang barang terkadang terasa seperti ikut melepaskan rencana tersebut.

Karena itu, pertanyaan “kapan terakhir dipakai?” memang membantu, tetapi belum tentu cukup. Pertanyaan lain mungkin lebih jujur: jika barang ini tidak berada di rumah sekarang, apakah benda yang sama akan dibeli kembali hari ini? Jika jawabannya tidak, alasan mempertahankannya mungkin bukan lagi kebutuhan aktual.

Bukan berarti semua barang yang jarang digunakan harus dibuang. Ada peralatan yang memang hanya dibutuhkan sesekali, dokumen yang perlu disimpan, atau benda mahal yang masuk akal dipertahankan. Yang perlu dibedakan adalah jarang digunakan karena sifat kebutuhannya memang jarang, dengan jarang digunakan karena kegunaannya sebenarnya sudah selesai.

Mungkin rasa sayang terhadap barang bukan selalu tanda bahwa benda tersebut masih berguna. Bisa jadi ia muncul karena benda itu sudah menjadi milik, pernah membutuhkan biaya, atau masih membawa kemungkinan yang belum rela dilepaskan. Itulah sebabnya lemari bisa tetap penuh oleh barang yang hampir tidak pernah disentuh: yang disimpan ternyata bukan hanya bendanya, tetapi juga keputusan lama dan berbagai kemungkinan tentang masa depan. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.