Hidup mungkin sudah bergerak cukup jauh. Anehnya, penilaian terhadap diri sendiri kadang masih menggunakan ukuran yang dibuat bertahun-tahun lalu.

Dahulu seseorang mungkin dikenal pemalu dan sulit berbicara di depan banyak orang. Bertahun-tahun kemudian, ia sudah memimpin rapat, melakukan presentasi, dan berani menyampaikan pendapat ketika tidak setuju. Namun ketika diminta menggambarkan dirinya, kalimat yang keluar masih sama: “Aku memang nggak pandai ngomong.”

Ada pula orang yang pernah gagal menjalankan bisnis, mengalami hubungan yang buruk, memiliki prestasi akademik biasa saja, atau membuat keputusan yang sampai sekarang masih disesali. Banyak hal telah terjadi sesudahnya, tetapi satu pengalaman lama tetap dipakai seperti alat ukur permanen. Diri yang sekarang terus diperiksa menggunakan kesimpulan yang dibuat oleh diri yang sudah lama berlalu.

Manusia memang membutuhkan gambaran mengenai siapa dirinya. Persoalannya, gambaran tersebut tidak selalu diperbarui secepat perubahan yang benar-benar terjadi. Kadang hidup sudah berganti halaman, sementara cara membaca diri sendiri masih tertinggal beberapa bab di belakang.

Baca Juga: Yang Selalu Ada Seringkali Baru Terasa Berharga Saat Sudah Tidak Ada, Mengapa?

Kita Berubah, Tetapi Cerita tentang Diri Belum Tentu Ikut Berubah

Psikolog Dan McAdams dari Northwestern University banyak meneliti apa yang disebut narrative identity. Menurut pendekatan ini, manusia membangun identitas melalui cerita internal yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kehidupan sekarang dan bayangan mengenai masa depan. Cerita tersebut membantu memberikan rasa kesinambungan terhadap kehidupan yang sebenarnya terus berubah.

Masalahnya, sebuah cerita dapat menjadi terlalu kuat. Seseorang yang berkali-kali mendengar dirinya “tidak berbakat matematika” sejak sekolah mungkin membawa identitas itu sampai dewasa, meski pekerjaannya sekarang membuatnya terbiasa membaca angka dan mengambil keputusan berdasarkan data. Pengalaman baru bertambah, tetapi label lama tetap mendapatkan hak istimewa untuk mendefinisikan dirinya.

Psikolog Hazel Markus dari Stanford University juga memperkenalkan konsep self-schema, yakni struktur pengetahuan mengenai diri yang membantu manusia mengorganisasi dan menafsirkan informasi tentang dirinya sendiri. Self-schema membuat proses memahami diri lebih efisien, tetapi juga dapat memengaruhi informasi mana yang lebih mudah diperhatikan dan diingat. Seseorang yang sudah meyakini dirinya tidak percaya diri, misalnya, bisa lebih mudah mengingat satu presentasi yang berantakan dibandingkan sepuluh kesempatan ketika ia berbicara dengan baik.

Itulah sebabnya perubahan tidak selalu langsung terasa sebagai perubahan. Kemajuan sering datang dalam bentuk kecil yang tidak dramatis: sekarang lebih berani mengatakan tidak, lebih mampu mengendalikan pengeluaran, tidak lagi membalas pesan ketika sedang marah, atau bisa menerima kritik tanpa memikirkannya selama tiga hari. Karena tidak ada upacara yang menandai perubahan tersebut, versi lama masih terasa seperti identitas yang paling resmi.

Perbandingan dengan masa lalu sebenarnya dapat berguna ketika digunakan untuk melihat perkembangan. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu berubah menjadi vonis. Kalimat 'dulu pernah gagal' mempunyai makna berbeda dengan 'memang orang yang selalu gagal', meski keduanya berasal dari pengalaman yang sama.

Baca Juga: Yang Sulit Setelah Terpuruk Bukan tentang Melangkah Lagi, Tetapi Percaya kepada Diri Sendiri

Mengenali Diri Juga Berarti Bersedia Memperbarui Penilaian

Ada kebiasaan sederhana yang dapat membantu melihat perubahan: sesekali memeriksa kembali bukti. Bukan hanya bertanya apakah diri sudah berubah, tetapi melihat apa yang sekarang dilakukan berbeda dibandingkan satu, tiga, atau lima tahun sebelumnya. Cara menghadapi konflik, mengelola uang, memilih hubungan, bekerja, meminta maaf, sampai memperlakukan diri sendiri dapat memberikan jawaban yang lebih konkret daripada perasaan semata.

Psikolog Carol Dweck dari Stanford University melalui penelitiannya mengenai mindset menunjukkan pentingnya cara manusia memandang kemampuan dan perkembangan. Growth mindset tidak berarti seseorang cukup berpikir positif lalu otomatis berubah, melainkan memahami bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses, strategi, usaha, dan pembelajaran. Cara pandang tersebut memberi ruang bahwa keadaan seseorang hari ini tidak harus menjadi salinan keadaan dirinya pada masa lalu.

Namun memperbarui penilaian diri bukan berarti menghapus sejarah. Kesalahan tetap pernah terjadi, keputusan buruk tetap mempunyai konsekuensi, dan pengalaman menyakitkan tidak perlu dipura-pura tidak ada. Perubahan justru menjadi lebih bermakna ketika masa lalu dapat diakui tanpa terus memberinya kekuasaan untuk menentukan seluruh identitas hari ini.

Hal serupa berlaku untuk keberhasilan. Seseorang yang dahulu selalu menjadi yang terbaik di sekolah dapat kesulitan menerima bahwa hidup dewasa tidak selalu memberinya posisi serupa. Mengukur diri dengan versi lama ternyata bukan hanya membuat kekurangan terasa permanen, tetapi juga dapat membuat pencapaian masa lalu berubah menjadi tuntutan yang terus harus dikejar.

Mungkin itu sebabnya mengenali diri seharusnya menjadi pekerjaan yang dilakukan berulang kali. Pertanyaan 'siapa diri ini?' tidak harus mempunyai satu jawaban yang berlaku seumur hidup. Pengalaman bertambah, prioritas berubah, kemampuan berkembang, beberapa keyakinan ditinggalkan, dan sesuatu yang dahulu dianggap penting bisa kehilangan tempatnya.

Sesekali melihat diri yang lama tentu berguna. Dari sana terlihat perjalanan yang sudah dilewati, kesalahan yang tidak ingin diulang, serta bagian diri yang masih ingin dipertahankan. Namun versi lama lebih tepat digunakan sebagai titik pembanding daripada standar permanen.

Sebab ada kemungkinan seseorang sudah jauh lebih berani daripada yang diyakininya, lebih matang daripada yang dirasakannya, atau lebih mampu daripada kesimpulan yang dibuatnya bertahun-tahun lalu. Yang belum berubah mungkin bukan dirinya, melainkan kalimat yang selama ini digunakan untuk menjelaskan siapa dirinya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.