Ada banyak hal yang kita perjuangkan mati-matian untuk mendapatkannya. Anehnya, setelah menjadi bagian dari hidup, kita justru mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Tidak banyak orang yang sengaja meremehkan apa yang dimilikinya. Sebagian besar justru mengalami sesuatu yang jauh lebih halus. Mereka terbiasa. Terbiasa memiliki orang tua yang selalu menanyakan kabar. Terbiasa dengan pasangan yang selalu menunggu di rumah. Terbiasa dengan tubuh yang sehat, pekerjaan yang stabil, atau sahabat yang selalu bersedia mendengar cerita.

Karena terlalu sering hadir, semua itu perlahan kehilangan kesan istimewanya. Kita mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang memang seharusnya ada. Hingga suatu hari, ketika salah satunya berubah, menjauh, atau bahkan hilang, barulah muncul kesadaran bahwa selama ini kita hidup berdampingan dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang pernah disadari.

Fenomena inilah yang sering dikenal sebagai sikap take it for granted. Namun, psikologi melihatnya bukan semata-mata sebagai tanda seseorang tidak tahu berterima kasih. Ada mekanisme dalam diri manusia yang membuat kita mudah beradaptasi terhadap hal-hal baik yang terus-menerus hadir.

Baca Juga: Internet Mengajarkan Pengetahuan, Pengalaman Mengajarkan Kebijaksanaan, Anda Pilih yang Mana?

Otak Manusia Cepat Menjadikan Hal Baik sebagai Sesuatu yang Biasa

Dalam psikologi, terdapat konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia kembali ke tingkat kepuasan yang relatif stabil setelah mengalami perubahan, termasuk ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang dahulu terasa istimewa lambat laun menjadi bagian dari rutinitas.

Psikolog Dr. Sonja Lyubomirsky, dalam bukunya The How of Happiness, menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi terhadap perubahan positif. Kemampuan ini sebenarnya membantu kita bertahan menghadapi berbagai situasi hidup. Namun, ada konsekuensinya. Kita menjadi lebih sulit merasakan penghargaan terhadap hal-hal yang sudah terlalu akrab.

Itulah sebabnya rumah yang dulu begitu diimpikan akhirnya terasa biasa. Pekerjaan yang dahulu diperjuangkan mulai dipenuhi keluhan. Bahkan perhatian dari orang-orang terdekat perlahan dianggap sebagai sesuatu yang memang menjadi kewajiban mereka.

Padahal, kenyataannya tidak demikian. Tidak ada hubungan yang dapat bertahan hanya karena kebiasaan. Tidak ada kesehatan yang dijamin akan selalu baik. Tidak ada kesempatan yang pasti datang dua kali. Yang berubah seringkali bukan nilai dari hal-hal tersebut, melainkan cara kita memandangnya.

Psikolog Prof. Robert A. Emmons dari University of California, Davis, yang banyak meneliti tentang rasa syukur, menjelaskan dalam Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier bahwa rasa syukur bukan sekadar emosi sesaat. Ia merupakan cara memandang kehidupan yang membantu seseorang tetap menyadari nilai dari apa yang telah dimiliki, meskipun semua itu telah menjadi bagian dari keseharian.

Baca Juga: Yang Sulit Setelah Terpuruk Bukan tentang Melangkah Lagi, Tetapi Percaya kepada Diri Sendiri

Menghargai Tidak Harus Menunggu Kehilangan

Seringkali hidup memberikan pelajaran melalui kehilangan. Namun, bukan berarti kehilangan harus selalu menjadi guru utama. Ada cara yang lebih bijaksana, yaitu melatih diri untuk melihat kembali apa yang selama ini hadir tanpa banyak menarik perhatian.

Mengucapkan terima kasih kepada orang yang setiap hari membantu kita, meluangkan waktu berbicara dengan orang tua tanpa terburu-buru, atau berhenti sejenak untuk menyadari bahwa tubuh masih mampu bekerja dengan baik merupakan bentuk penghargaan yang sederhana. Nilainya mungkin tidak langsung terasa besar, tetapi kebiasaan seperti inilah yang menjaga hubungan, kesehatan, dan kebahagiaan tetap hidup.

Sikap menghargai juga tidak berarti selalu merasa puas atau berhenti memiliki keinginan untuk berkembang. Manusia tetap boleh memiliki cita-cita, mengejar pencapaian baru, dan memperbaiki kualitas hidupnya. Bedanya, ia tidak lagi mengorbankan kemampuan menikmati apa yang sudah dimiliki hanya karena sibuk mengejar apa yang belum dimiliki.

Di era yang bergerak sangat cepat, kita mudah terdorong untuk terus melihat ke depan. Media sosial memperlihatkan pencapaian orang lain setiap hari. Dunia bisnis menuntut pertumbuhan. Karier mengajak kita menetapkan target berikutnya. Tanpa disadari, perhatian kita lebih banyak tertuju pada kekurangan daripada kelimpahan yang sebenarnya sudah hadir di sekitar.

Barangkali itulah mengapa rasa kehilangan sering terasa begitu menyakitkan. Bukan semata-mata karena sesuatu itu pergi, tetapi karena kita baru benar-benar melihat nilainya ketika kesempatan untuk menikmatinya sudah berkurang.

Yang selalu ada memang mudah terlupakan. Namun, hidup tidak pernah menjanjikan bahwa sesuatu yang hadir hari ini akan tetap berada di tempat yang sama esok hari. Mungkin, salah satu bentuk kedewasaan bukan hanya kemampuan memperoleh lebih banyak, melainkan kemampuan tetap melihat keistimewaan dari hal-hal yang telah lama menemani perjalanan hidup kita. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.