Di banyak momen, kita terlihat seperti tahu apa yang sedang dijalani. Pilihan terasa jelas, arah terlihat ada, dan langkah seperti sudah direncanakan. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, tidak semua yang dijalani benar-benar terasa milik sendiri.

Ada fase ketika seseorang mulai menyadari bahwa banyak keputusan yang diambil bukan berasal dari dirinya. Cara berbicara, cara berpikir, bahkan cara menentukan arah hidup sering kali terbentuk dari apa yang dilihat, didengar, dan dianggap benar oleh lingkungan.

Di titik ini, kelelahan mulai muncul. Bukan karena terlalu banyak melakukan hal, tapi karena terlalu lama menjalani sesuatu yang tidak sepenuhnya berasal dari diri sendiri.

Fenomena ini semakin terasa di tengah arus konten yang terus mendorong orang untuk menjadi versi tertentu. Versi yang lebih produktif, lebih rapi, lebih terarah, dan terlihat lebih berhasil. Tanpa disadari, standar itu mulai diikuti, bahkan sebelum benar-benar dipertanyakan.

Baca Juga: Kita Sering Merasa Salah Jalan, Tapi Memangnya Sudah Tahu Mau ke Mana?

Kita Tidak Selalu Menjadi Diri Sendiri

Menjadi orang lain tidak selalu terlihat jelas. Ia tidak selalu berarti berpura-pura atau meniru secara langsung. Dalam banyak kasus, ia muncul dalam bentuk yang lebih halus.

Kita mulai mengadopsi cara berpikir tertentu karena terlihat berhasil. Kita mengikuti pola hidup tertentu karena terlihat lebih diterima. Dari situ, terbentuk versi diri yang sebenarnya adalah hasil dari penyesuaian.

Carl Rogers, dalam On Becoming a Person, menjelaskan bahwa banyak individu hidup berdasarkan "conditions of worth" atau kondisi yang membuat mereka merasa layak di mata orang lain. Artinya, seseorang cenderung menjadi versi yang dianggap diterima, bukan versi yang benar-benar ia kenal.

Dalam jangka pendek, hal ini tidak selalu terasa bermasalah. Bahkan bisa terlihat seperti kemajuan. Namun dalam jangka panjang, muncul jarak antara diri yang dijalani dan diri yang sebenarnya ingin dipahami.

Jarak ini tidak selalu terlihat, tapi cukup untuk menciptakan rasa lelah yang tidak jelas sumbernya.

Baca Juga: Bukan Tidak Bisa, Kita Hanya Tak Terbiasa Menunda

Saat Kelelahan Itu Bukan Soal Aktivitas

Banyak orang mengira kelelahan datang dari terlalu banyak pekerjaan atau tanggung jawab. Padahal, ada jenis lelah yang berbeda, yaitu lelah karena terus menyesuaikan diri.

Ketika seseorang terus berada dalam peran yang tidak sepenuhnya ia pahami, energi yang dikeluarkan tidak hanya untuk bertindak, tapi juga untuk menjaga konsistensi peran tersebut. Dari luar terlihat normal, tapi di dalamnya terasa berat.

Psikolog sosial Erich Fromm, dalam bukunya To Have or To Be?, menyinggung bagaimana manusia modern sering kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri karena terlalu fokus kepada bagaimana ia terlihat di mata orang lain. Dalam kondisi ini, identitas menjadi sesuatu yang dibangun dari luar, bukan ditemukan dari dalam.

Inilah yang membuat banyak orang merasa kosong, meskipun terlihat berjalan di jalur yang benar. Bukan karena arah hidupnya salah, tapi karena arah itu tidak benar-benar dipilih.

Di titik ini, mengenal diri sendiri bukan lagi pilihan tambahan. Ia menjadi sesuatu yang perlu dilakukan, justru setelah semua hal lain terasa berjalan.

Mungkin masalahnya bukan karena kita belum berkembang. Tapi karena kita terlalu lama berkembang ke arah yang tidak pernah benar-benar kita pahami. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.