Usia dua puluhan sering digambarkan sebagai masa paling bebas dalam hidup. Masa ketika seseorang bisa mencoba banyak hal, membangun karier, dan menemukan jati diri. Namun di balik gambaran ideal itu, banyak orang justru merasa bingung, cemas, bahkan kehilangan arah.
Istilah quarter life crisis sering muncul di media sosial dalam bentuk meme atau candaan tentang orang yang tiba-tiba ingin resign, pindah kota, atau mempertanyakan pilihan hidupnya. Meski terdengar ringan, pengalaman ini sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar fase galau biasa.
Banyak profesional muda merasakan tekanan yang tidak selalu terlihat: ekspektasi keluarga, perbandingan dengan teman sebaya, hingga rasa takut tertinggal dalam karier maupun kehidupan pribadi.
Baca Juga: Mengelola Ekspektasi Keluarga
Ketika Perbandingan Hidup Menjadi Tekanan Sunyi
Salah satu hal yang jarang dibicarakan dari quarter life crisis adalah bagaimana perbandingan sosial bekerja secara diam-diam. Media sosial membuat perjalanan hidup orang lain terlihat begitu jelas: siapa yang sudah menikah, siapa yang mendapat promosi, siapa yang berhasil memulai bisnis.
Tanpa disadari, informasi tersebut membentuk standar tidak tertulis tentang apa yang ‘seharusnya’ sudah dicapai pada usia tertentu.
Menurut psikolog Dr. Oliver Robinson dari University of Greenwich, fase krisis usia seperempat abad sering muncul ketika seseorang mulai mengevaluasi kembali arah hidupnya. Dalam wawancaranya yang dikutip The Guardian, Robinson menjelaskan bahwa periode usia dua puluhan adalah masa ketika identitas dewasa mulai dibangun, sehingga rasa tidak pasti menjadi sangat kuat.
Situasi ini membuat banyak orang merasa tertinggal, padahal setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda.
Ironisnya, tekanan tersebut sering terjadi dalam diam. Banyak orang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang bergulat dengan keraguan besar tentang masa depan.
Baca Juga: Mental Load pada Profesional Muda yang Sering Tak Terlihat
Krisis yang Sebenarnya Bisa Menjadi Titik Balik
Meski terasa tidak nyaman, quarter life crisis tak selalu berarti sesuatu yang negatif. Bagi sebagian orang, fase ini justru menjadi momen penting untuk meninjau ulang nilai, prioritas, dan tujuan hidup.
Menurut psikolog klinis Meg Jay, penulis buku The Defining Decade, usia dua puluhan adalah periode ketika keputusan kecil dapat membawa dampak besar dalam jangka panjang. Dalam berbagai wawancaranya di Harvard Business Review, Jay menekankan pentingnya menggunakan masa ini untuk bereksperimen sekaligus membangun fondasi kehidupan.
Alih-alih melihat krisis sebagai kegagalan, banyak ahli psikologi melihatnya sebagai proses pertumbuhan. Keraguan yang muncul justru dapat membantu seseorang mengenali apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.
Bagi banyak orang, quarter life crisis bukanlah tanda bahwa hidup sedang berantakan. Ia sering kali hanya penanda bahwa seseorang sedang belajar memahami arah hidupnya dengan lebih jujur. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]