Banyak orang sekarang punya daftar pekerjaan yang terus bertambah. Namun di saat yang sama, energi mental mereka justru terasa semakin cepat habis.

Fenomena ini semakin sering dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang bangun pagi dengan jadwal penuh, target banyak, dan daftar tugas yang tersusun rapi, tetapi baru siang sedikit sudah merasa lelah secara emosional.

Menariknya, rasa lelah itu tidak selalu datang dari pekerjaan besar. Kadang tubuh terasa capek bahkan sebelum semua tugas benar-benar dimulai.

Kondisi tersebut muncul karena manusia modern tidak hanya bekerja secara fisik, tetapi juga terus aktif secara mental hampir sepanjang hari. Pikiran dipenuhi notifikasi, informasi, target pribadi, media sosial, dan tekanan untuk terus produktif.

Psikolog dan penulis Dr. Emily Nagoski bersama Amelia Nagoski dalam Burnout: The Secret to Unlocking the Stress Cycle [2019] menjelaskan bahwa tubuh manusia sebenarnya membutuhkan siklus pemulihan yang utuh untuk menyelesaikan stres. Masalahnya, banyak orang sekarang terus bergerak dari satu tekanan ke tekanan lain tanpa benar-benar memberi ruang bagi tubuh dan pikirannya untuk pulih.

Akibatnya, rasa lelah perlahan berubah menjadi kondisi yang dianggap normal.

Baca Juga: Bangun Jam 5 Pagi Jadi Tren Lagi, Tapi Banyak Orang Tidurnya Jam 1 Malam

Banyak Orang Tidak Kehabisan Waktu, Tapi Kehabisan Kapasitas Mental

Teknologi memang membuat hidup terasa lebih praktis. Kalender digital, aplikasi pengingat, sampai to do list membantu banyak orang mengatur aktivitas dengan lebih rapi.

Namun di sisi lain, semua itu juga membuat manusia terus sadar terhadap hal-hal yang belum selesai. Daftar pekerjaan tidak pernah benar-benar kosong karena selalu ada target baru yang muncul setelah target sebelumnya selesai.

Dalam The Paradox of Choice [2004], Profesor psikologi Dr. Barry Schwartz menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan dan tuntutan dapat membuat manusia mengalami kelelahan mental lebih cepat. Otak terus bekerja mengambil keputusan kecil sepanjang hari tanpa benar-benar berhenti.

Hal itu terasa sangat dekat dengan kehidupan modern sekarang. Banyak orang terlihat diam secara fisik, tetapi pikirannya terus aktif bahkan ketika sedang mencoba beristirahat. Tidak sedikit yang akhirnya merasa bersalah ketika tidak produktif. Duduk santai terasa seperti membuang waktu, tidur siang dianggap malas, dan hari tanpa pencapaian terasa seperti kegagalan kecil.

Padahal tubuh manusia tidak dirancang untuk terus berada dalam mode siaga tanpa jeda.

Psikiater Dr. Judith Orloff dalam Emotional Freedom [2011] menjelaskan bahwa kelelahan emosional sering muncul ketika seseorang terlalu lama memaksakan dirinya tetap aktif tanpa mendengarkan kebutuhan tubuh dan pikirannya sendiri.

Baca Juga: Di Tengah Banyak Hal, Apa yang Perlu Kita Perhatikan Hari Ini?

Istirahat Sekarang Sering Terlihat Ada, Tapi Pikiran Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Banyak orang merasa dirinya sudah beristirahat karena tidak sedang bekerja. Padahal otaknya tetap terus menerima rangsangan dari layar, notifikasi, video pendek, dan informasi yang bergerak tanpa henti. Akibatnya, tubuh memang berhenti sejenak, tetapi pikiran tidak pernah benar-benar tenang.

Dalam Why We Sleep [2017], Profesor neurosains Matthew Walker menjelaskan bahwa otak membutuhkan tidur dan jeda mental yang cukup untuk memulihkan konsentrasi, emosi, dan kemampuan berpikir manusia. Ketika tubuh terus dipaksa aktif tanpa pemulihan yang baik, energi mental akan semakin cepat habis meski aktivitas fisik tidak terlalu berat.

Kondisi ini membuat banyak orang merasa hidupnya selalu penuh, tetapi sulit benar-benar menikmati apa yang sedang dijalani. Daftar tugas terus bertambah, sementara kapasitas emosionalnya perlahan menurun tanpa disadari.

Mungkin itu sebabnya to do list sekarang semakin panjang, tetapi energi manusia terasa semakin pendek. Bukan karena orang modern lebih lemah, melainkan karena hidup hari ini membuat pikiran hampir tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.