Bangun pagi kembali dianggap simbol hidup produktif. Namun di saat yang sama, banyak orang justru tidur terlalu larut dan memaksa tubuh bekerja tanpa istirahat cukup.
Fenomena ini semakin sering terlihat di media sosial. Konten tentang morning routine, olahraga subuh, dan produktivitas pagi terus bermunculan dengan kesan hidup yang lebih sehat dan teratur.
Tidak ada yang salah dengan bangun lebih pagi. Masalahnya, banyak orang mencoba mengikuti pola tersebut tanpa benar-benar memperbaiki waktu tidurnya sendiri.
Akibatnya, tubuh kehilangan jam istirahat yang sebenarnya jauh lebih penting dibanding sekadar jam bangun. Orang terlihat disiplin di luar, tetapi tubuhnya perlahan bekerja dalam kondisi lelah yang terus menumpuk.
Profesor neurosains dan pakar tidur Matthew Walker dalam Why We Sleep [2017] menjelaskan bahwa tidur bukan aktivitas pasif, melainkan proses biologis penting yang membantu otak memperbaiki memori, emosi, metabolisme, dan daya tahan tubuh. Ketika waktu tidur terus dipotong, tubuh tetap menyimpan dampaknya meski seseorang merasa ‘baik-baik saja’.
Karena itu, bangun jam 5 pagi tidak otomatis sehat jika tubuh baru tidur pukul 1 malam hampir setiap hari.
Baca Juga: Di Tengah Banyak Hal, Apa yang Perlu Kita Perhatikan Hari Ini?
Tubuh Punya Jam Alami yang Tidak Bisa Dipaksa Terus-Menerus
Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme biologis yang dikenal sebagai circadian rhythm. Sistem ini membantu mengatur kapan tubuh merasa segar, kapan hormon bekerja optimal, dan kapan otak membutuhkan istirahat.
Ketika seseorang terus tidur terlalu larut tetapi tetap memaksa bangun pagi, ritme alami tubuh mulai terganggu. Dampaknya tidak selalu langsung terasa dalam satu atau dua hari, tetapi perlahan muncul dalam bentuk mudah lelah, sulit fokus, suasana hati tidak stabil, sampai penurunan daya tahan tubuh.
Dokter spesialis tidur Dr. Rafael Pelayo dari Stanford Sleep Medicine Center dalam How to Sleep [2020] menjelaskan bahwa kualitas tidur jauh lebih penting dibanding sekadar jumlah jam di tempat tidur. Tubuh membutuhkan siklus tidur yang utuh agar proses pemulihan bisa berjalan optimal.
Itu sebabnya banyak orang tetap merasa lelah meski sudah tidur beberapa jam. Tidur yang terlalu pendek atau tidak teratur membuat otak dan tubuh gagal mendapatkan fase pemulihan yang dibutuhkan.
Lalu bagaimana dengan tidur siang? Dalam kondisi tertentu, tidur siang memang dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan memperbaiki konsentrasi sementara. Namun tidur siang bukan pengganti penuh untuk kekurangan tidur malam yang berlangsung terus-menerus.
Profesor psikologi kesehatan Dr. Shelby Harris dalam The Women’s Guide to Overcoming Insomnia [2019] menjelaskan bahwa tidur malam tetap menjadi fondasi utama pemulihan tubuh karena sebagian besar proses biologis penting terjadi dalam siklus tidur panjang di malam hari.
Baca Juga: Kita Sering Sibuk Memperbaiki, Tapi Jarang Mengenali Diri Sendiri
Banyak Orang Mengejar Produktivitas, Tapi Tubuhnya Tidak Pernah Benar-Benar Pulih
Budaya produktivitas modern sering membuat manusia merasa bersalah ketika bangun terlalu siang atau tidur terlalu lama. Padahal kebutuhan tidur setiap orang tidak selalu sama. Ada orang yang memang bisa berfungsi baik dengan tidur lebih singkat, tetapi banyak juga yang diam-diam mengalami kelelahan kronis karena tubuhnya terus dipaksa menyesuaikan standar hidup tertentu.
Kurang tidur yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan konsentrasi, tekanan emosional, metabolisme terganggu, sampai masalah kesehatan jangka panjang seperti hipertensi dan penurunan sistem imun.
Hal yang cukup berbahaya adalah tubuh manusia bisa terbiasa hidup dalam kondisi lelah. Seseorang mungkin merasa dirinya normal-normal saja, padahal kemampuan fokus dan stabilitas emosinya sebenarnya sudah menurun perlahan.
Mungkin itu sebabnya tren bangun pagi sekarang perlu dilihat lebih utuh. Bangun lebih awal memang bisa membantu ritme hidup terasa lebih teratur, tetapi tubuh tetap membutuhkan istirahat yang cukup agar semua itu tidak berubah menjadi tekanan baru yang diam-diam menguras kesehatan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.