Di layar, wajah terasa makin seragam. Di luar layar, wajah tetap hidup dengan tekstur dan jejaknya sendiri. Di antara keduanya, cara kita melihat kecantikan ikut berubah.

Fenomena ini makin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Wajah yang dianggap menarik tidak lagi hanya dibentuk oleh riasan, tetapi juga oleh algoritma, pencahayaan, dan ritme visual yang terus diulang. Dari sini, kecantikan tidak hanya dilihat, tetapi dipelajari sebagai pola.

Di satu sisi, tren clean girl aesthetic terus menguat. Tampilan ini menekankan kulit yang terlihat bersih, riasan tipis, rambut rapi, dan kesan tenang yang seolah datang tanpa usaha. Padahal, di balik kesan effortless itu, ada proses yang tetap sangat terkurasi.

Di sisi lain, muncul gelombang yang berbeda. Banyak orang mulai menampilkan real face mereka tanpa filter, tanpa pencahayaan yang menipu, dan tanpa usaha menyamarkan jerawat, pori, atau tekstur kulit. Pilihan ini bukan sekadar soal tampilan, tetapi juga soal cara menolak standar yang terasa terlalu sempit.

Baca Juga: ‘Introvert’, ‘Healing’, ‘Toxic’, Kenapa Kita Gemar Memberi Label pada Segalanya?

Standar yang Dibentuk, Bukan Ditemukan

Apa yang dianggap cantik tidak pernah benar-benar hadir sendirian. Ia dibentuk oleh budaya visual, diperkuat oleh industri, lalu diulang sampai terasa normal. Ketika satu jenis wajah tampil lebih sering, ia perlahan berubah menjadi acuan tanpa perlu diumumkan sebagai aturan.

Dalam The Beauty Myth, Naomi Wolf menulis, “The beauty myth is always actually prescribing behaviour and not appearance.” Kalimat itu penting karena menunjukkan bahwa standar kecantikan sering kali tidak berhenti pada wajah. Ia juga mengarahkan cara orang bersikap, tampil, dan menempatkan diri di hadapan orang lain.

Di titik ini, clean girl aesthetic tak bisa dibaca hanya sebagai tren riasan. Ia adalah paket visual yang membawa nilai tertentu: rapi, terkendali, sehat, tenang, dan seolah tidak berlebihan. Ketika paket ini terus diulang, ia mulai terasa seperti wajah yang paling layak untuk ditampilkan.

Namun ukuran seperti itu tidak selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam banyak konteks lokal, wajah yang lebih nyata justru terasa lebih akrab. Kulit dengan tekstur, warna yang tidak rata, dan ekspresi yang tidak selalu tenang sering kali lebih jujur menggambarkan manusia daripada wajah yang terlalu dipoles.

Martha Tilaar, melalui Kecantikan Perempuan Timur, menunjukkan bahwa kecantikan di Timur tak pernah lepas dari adat, ritual, tubuh, dan pengalaman hidup yang membentuknya. Perspektif ini penting karena mengingatkan bahwa kecantikan tidak lahir dari satu pusat yang sama. Ia tumbuh dari kebudayaan yang berbeda, lalu dibaca dengan ukuran yang juga berbeda.

Baca Juga: Kenapa Tradisi Lebaran Selalu Dirindukan?

Wajah yang Sama, Cara Melihat yang Berbeda

Ketika seseorang tampil dengan wajah tanpa filter, reaksinya bisa bertolak belakang. Ada yang melihatnya sebagai keberanian, ada yang menganggapnya kurang rapi, dan ada yang merasa itu lebih manusiawi. Penilaian itu tidak datang dari wajah itu sendiri, tetapi dari kebiasaan melihat yang sudah lebih dulu terbentuk.

Hal yang sama terjadi pada tampilan clean girl. Bagi sebagian orang, ia terlihat segar dan menenangkan. Bagi yang lain, ia terasa terlalu seragam, terlalu aman, dan terlalu dekat dengan standar yang sulit dijangkau.

Dalam On Photography, Susan Sontag menulis bahwa fotografi membuat gambar, bukan dunia nyata, perlahan menjadi ukuran tentang apa yang dianggap indah. Ketika logika itu pindah ke media sosial, wajah pun tidak lagi dinilai hanya dari apa yang ada, tetapi dari seberapa dekat ia dengan gambar yang sudah lebih dulu dianggap ideal.

Karena itu, kecantikan tidak pernah benar-benar berdiri sebagai sesuatu yang tetap. Ia bergerak mengikuti budaya, teknologi, dan kebiasaan menatap yang sedang dominan. Wajah yang sama bisa dianggap cantik di satu ruang, tetapi terasa biasa saja di ruang yang lain.

Yang berubah seringkali bukan wajahnya. Yang berubah adalah sudut pandang yang digunakan untuk menilainya. Di situlah perdebatan antara clean girl dan real face menjadi lebih dari sekadar soal gaya, karena yang dipertaruhkan sebenarnya adalah cara kita memaknai wajah manusia.

Ketika ruang untuk wajah yang lebih nyata mulai terbuka, standar lama memang tidak langsung hilang. Namun celah itu penting. Ia membuat kecantikan tidak lagi harus datang dari satu bentuk yang sama, dan memberi kesempatan bagi wajah untuk dilihat tanpa selalu dipaksa menjadi versi yang lebih patuh. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.