Tempat yang sama muncul berkali-kali di layar. Kita mulai membayangkan berada di sana. Namun sebenarnya, apa yang membuat kita ingin datang?

Sebuah pantai mendadak memenuhi media sosial. Orang berfoto dari sudut yang hampir sama, menggunakan latar yang sama, lalu meninggalkan komentar bahwa tempat itu harus masuk daftar perjalanan berikutnya. Beberapa bulan kemudian, jalan menuju lokasi tersebut dipenuhi orang yang rupanya mendapatkan gagasan perjalanan dari sumber serupa.

Tidak ada yang aneh dengan itu. Rekomendasi memang selalu menjadi bagian dari cara manusia memilih tempat wisata, baik melalui cerita teman, majalah perjalanan, buku panduan, maupun televisi. Media sosial hanya membuat proses tersebut jauh lebih cepat, visual, dan berulang.

Namun, ada sesuatu yang menarik ketika sebuah destinasi menjadi viral. Kita dapat mulai menginginkan sebuah perjalanan bahkan sebelum mengetahui banyak hal tentang tempat yang akan didatangi. Keinginan itu muncul lebih dahulu, sementara alasan untuk pergi menyusul kemudian.

Baca Juga: Kenapa Tempat yang Kita Kunjungi untuk Kedua Kalinya Bisa Terasa Sangat Berbeda?

Ketika Algoritma Ikut Menentukan Tempat yang Ingin Kita Datangi

Media sosial kini memainkan peran nyata dalam pembentukan citra destinasi. Penelitian mengenai konten perjalanan di media sosial menunjukkan bahwa materi yang dibuat pengguna dapat memengaruhi persepsi terhadap sebuah destinasi sekaligus niat seseorang untuk mengunjunginya. Foto dan video tidak hanya mendokumentasikan perjalanan, tetapi dapat ikut menciptakan perjalanan berikutnya.

Fenomena tersebut mudah dipahami. Kita mungkin tidak pernah mencari sebuah danau, desa, atau kafe tertentu, tetapi algoritma menghadirkannya berkali-kali karena orang dengan pola ketertarikan serupa menyukai konten tersebut. Setelah cukup sering melihatnya, tempat yang sebelumnya asing mulai terasa familier.

Psikologi mengenal mere-exposure effect, yakni kecenderungan manusia mengembangkan preferensi lebih positif terhadap sesuatu setelah berulang kali terpapar. Konsep yang banyak dikaitkan dengan penelitian Robert Zajonc ini tidak khusus berbicara tentang pariwisata. Namun ia membantu menjelaskan mengapa sesuatu yang terus terlihat dapat terasa semakin menarik.

Media sosial menambahkan unsur lain: social proof. Ketika ribuan orang datang, mengunggah foto, dan mengatakan suatu tempat menarik, popularitas itu sendiri dapat menjadi informasi bagi calon pengunjung. Kita belum pernah berada di sana, tetapi keramaian perhatian membuat tempat tersebut terasa layak diperhitungkan.

Kemudian muncul dorongan yang lebih akrab disebut fear of missing out atau FOMO. Penelitian Andrew Przybylski dan koleganya menggambarkan FOMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman menyenangkan ketika kita tidak ikut berada di dalamnya. Media sosial menyediakan panggung yang sangat efektif untuk memperlihatkan pengalaman tersebut.

Destinasi viral akhirnya bukan hanya sebuah lokasi. Ia menjadi sesuatu yang sedang dibicarakan, dilakukan, dan dimiliki sebagai pengalaman oleh banyak orang. Pergi ke sana dapat memberi sensasi ikut berada dalam percakapan yang sama.

Baca Juga: Pantai Tidak Selalu Paling Dekat, Tetapi Mengapa Banyak Orang Selalu Ingin Kembali?

Kita Ingin Mengalami Tempatnya atau Membawa Pulang Buktinya?

Tentu tidak berarti orang yang mengunjungi destinasi viral hanya mengejar pengakuan. Sebuah tempat bisa menjadi viral karena memang indah, unik, mudah dijangkau, memiliki budaya menarik, atau menawarkan pengalaman yang sebelumnya belum banyak diketahui. Popularitas bahkan dapat membuka perhatian terhadap destinasi yang selama bertahun-tahun berada di luar jalur wisata utama.

Namun media sosial mempunyai kemampuan untuk membentuk ekspektasi sebelum perjalanan dimulai. Kita sudah mengetahui sudut terbaik untuk memotret, waktu ketika cahaya terlihat paling indah, bahkan pakaian seperti apa yang tampak cocok dengan latarnya. Dalam keadaan tertentu, pengalaman perjalanan mulai mempunyai semacam skenario sebelum kita tiba.

Masalahnya, destinasi nyata tidak selalu bekerja seperti unggahan berdurasi 30 detik. Pantai mempunyai cuaca, pasar mempunyai bau dan suara, gunung bisa berkabut, sementara tempat yang tampak kosong dalam sebuah foto mungkin sebenarnya dipenuhi pengunjung. Foto menunjukkan sebuah bingkai, sedangkan perjalanan berlangsung di luar bingkai tersebut.

Di sinilah ekspektasi dapat bertemu kenyataan dengan cara yang tidak selalu menyenangkan. Kita datang mencari pemandangan yang sudah tersimpan dalam kepala, kemudian kecewa karena cahaya berbeda, antrean panjang, atau tempatnya terasa lebih kecil daripada yang terlihat di layar. Padahal belum tentu destinasinya buruk; bisa jadi standar pengalaman kita sudah dibentuk oleh representasi yang sangat terpilih.

Ada pula perubahan kecil dalam cara kita berada di sebuah tempat. Kamera dahulu digunakan untuk menyimpan pengalaman yang sedang terjadi. Sekarang, pada beberapa perjalanan, mendapatkan gambar tertentu dapat menjadi bagian dari tujuan pengalaman itu sendiri.

Sekali lagi, memotret bukan sesuatu yang salah. Foto dapat membantu mengingat perjalanan, membagikan cerita, bahkan membuat orang lain menemukan tempat yang sebelumnya tidak mereka kenal. Persoalannya menjadi menarik ketika keberhasilan perjalanan mulai diukur dari apakah kita berhasil menghasilkan versi gambar yang sudah dibayangkan sebelumnya.

Mungkin karena itu pertanyaan “kita mencari apa?” layak diajukan sebelum berangkat. Jika jawabannya memang ingin melihat tempat yang sedang ramai dibicarakan, tidak ada yang keliru dengan itu. Jika ingin membuat foto yang bagus, alasan tersebut pun sah sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Namun mengetahui alasan membuat kita mempunyai kesempatan untuk melihat lebih banyak ketika sudah tiba. Setelah mengambil foto di titik yang viral, mungkin ada jalan lain yang belum ramai, makanan lokal yang tidak muncul di feed, percakapan dengan warga, atau pemandangan yang tidak cukup spektakuler untuk algoritma tetapi justru paling lama tinggal dalam ingatan.

Destinasi viral tidak kehilangan nilai hanya karena banyak orang ingin mendatanginya. Popularitas bahkan dapat menjadi pintu pertama untuk mengenal sebuah tempat. Yang mungkin perlu dijaga adalah agar perjalanan tidak selesai hanya dengan menemukan kembali gambar yang sebelumnya sudah kita lihat di layar.

Sebab ada perbedaan antara datang untuk memastikan sebuah tempat memang seperti yang terlihat di media sosial dan datang dengan cukup banyak rasa ingin tahu untuk menemukan sesuatu yang belum pernah diperlihatkan kepada kita. Barangkali perjalanan menjadi lebih menarik ketika destinasi boleh memberikan jawabannya sendiri, bukan hanya memenuhi gambar yang sudah lebih dahulu kita bawa di kepala. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.