Ada kota yang kita datangi untuk pertama kalinya, tetapi anehnya tidak terasa asing. Baru beberapa jam tiba, kita sudah merasa nyaman berjalan di trotoarnya, betah duduk di kedai kopinya, atau menikmati ritme kehidupan di sana. 

Kita tidak mengenal siapa pun, tidak pernah tinggal di tempat itu, bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan datang ke sana. Namun, ada perasaan yang sulit dijelaskan: seolah-olah kota itu sudah lama kita kenal.

Pengalaman seperti ini ternyata cukup umum. Banyak orang mengaku pernah merasakannya. Ada yang jatuh hati pada sebuah kota kecil di pegunungan, ada yang merasa betah di kawasan kota tua yang dipenuhi bangunan bersejarah, dan ada pula yang menemukan rasa nyaman di kota yang justru sangat berbeda dengan tempat tinggalnya.

Kita sering menganggap perjalanan hanya sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Padahal, setiap perjalanan juga merupakan pertemuan antara sebuah tempat dan pengalaman hidup yang kita bawa. Karena itulah, dua orang bisa mengunjungi kota yang sama, tetapi merasakan pengalaman yang sama sekali berbeda.

Lalu, dari mana sebenarnya perasaan akrab itu datang?

Baca Juga: Tempat Wisata Sekarang Cepat Viral, Cepat Penuh, Cepat Rusak, Lalu Cepat Dilupakan

Sebuah Kota Bisa Mengingatkan Kita pada Sesuatu

Rasa akrab tidak selalu lahir dari ingatan yang jelas. Sering kali, ia muncul dari hal-hal kecil yang memicu kenangan yang tersimpan di dalam diri kita.

Jalan yang dipenuhi pepohonan mungkin mengingatkan seseorang pada kampung halamannya. Suara lonceng gereja di sudut kota bisa membangkitkan memori masa kecil. Aroma roti dari toko kecil di tepi jalan atau udara yang sejuk pada pagi hari dapat menghadirkan perasaan nyaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kita tidak selalu sadar sedang mengingat sesuatu. Namun, otak manusia memang terbiasa menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Ketika menemukan kesamaan tertentu, muncul perasaan yang akrab dan menenangkan.

Dalam psikologi lingkungan dikenal konsep place attachment, yaitu ikatan emosional antara manusia dan suatu tempat. Ikatan ini tidak selalu membutuhkan waktu yang lama. Dalam situasi tertentu, seseorang dapat merasakan kedekatan emosional dengan sebuah tempat dalam waktu yang relatif singkat karena tempat tersebut menghadirkan pengalaman yang bermakna secara pribadi.

Karena itulah, rasa akrab terhadap sebuah kota bukan sesuatu yang aneh. Sebuah tempat kadang mampu berbicara kepada ingatan dan emosi kita melalui cara-cara yang sederhana.

Baca Juga: Awalnya Cuma Liburan Biasa, Tapi Perjalanan Mengubah Cara Kita Melihat Banyak Hal

Kadang yang Kita Temukan Bukan Kotanya, Melainkan Diri Kita Sendiri

Ada alasan lain yang membuat sebuah kota terasa begitu dekat di hati. Terkadang, kota tersebut menawarkan jenis kehidupan yang selama ini kita rindukan.

Seseorang yang lelah dengan ritme kehidupan yang serba cepat mungkin merasa damai ketika mengunjungi kota yang lebih tenang. Ada pula orang yang terbiasa hidup di lingkungan padat dan bising, lalu menemukan kenyamanan ketika berada di kota yang lebih manusiawi, di mana orang-orang berjalan santai dan ruang terbuka masih mudah ditemukan.

Perasaan akrab itu bisa muncul karena kita tiba-tiba melihat kemungkinan hidup yang berbeda. Kita membayangkan seperti apa rasanya bangun setiap pagi di kota itu, berjalan di jalan-jalannya, dan menjalani keseharian di sana.

Menariknya, kota yang membuat kita jatuh hati belum tentu merupakan kota yang paling indah atau paling terkenal. Kadang-kadang, ia hanya hadir pada saat yang tepat, ketika kita sedang membutuhkan suasana tertentu dalam hidup.

Mungkin karena itulah perjalanan sering memberikan pengalaman yang lebih besar daripada sekadar berpindah tempat. Ia memberi kesempatan untuk melihat diri sendiri dari sudut yang berbeda. Jauh dari rutinitas dan berbagai kewajiban sehari-hari, kita menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang benar-benar membuat kita nyaman.

Ada kota yang kita datangi, lalu segera terlupakan. Ada pula kota yang terus tinggal dalam ingatan, meskipun kunjungan ke sana hanya berlangsung beberapa hari. Ketika sebuah kota terasa akrab padahal baru pertama dikunjungi, bisa jadi yang sedang kita temukan bukan sekadar tempat baru di peta. Bisa jadi, kita sedang bertemu dengan bagian dari diri kita yang selama ini diam-diam mencari tempat untuk merasa pulang. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.