Bagi sebagian orang, bepergian sendirian terdengar menyenangkan. Tak perlu menyesuaikan jadwal dengan siapa pun, bebas menentukan tujuan, dan bisa menikmati perjalanan sesuai keinginan sendiri.
Meski begitu, bagi sebagian lainnya, gagasan itu justru terasa menegangkan. Membayangkan tiba di kota yang asing tanpa teman seperjalanan sudah cukup membuat mereka mengurungkan niat. Padahal, tempat yang akan dikunjungi belum tentu berbahaya. Rencana perjalanan juga sudah disusun dengan matang. Lalu, mengapa bepergian sendirian tetap terasa berat bagi banyak orang?
Ternyata, yang sering kita hadapi bukan hanya ketakutan terhadap tempat baru, melainkan juga ketakutan untuk benar-benar berhadapan dengan diri sendiri.
Baca Juga: Tidak Semua Perjalanan Harus Jauh. Kapan Terakhir Jadi Turis di Kota Sendiri?
Perjalanan Sendirian Membuat Kita Keluar dari Zona yang Terbiasa
Saat bepergian bersama keluarga atau teman, banyak keputusan diambil secara bersama-sama. Kita saling membantu mencari arah, memilih tempat makan, atau memutuskan tujuan berikutnya. Kehadiran orang lain memberi rasa aman, bahkan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Keadaan itu berubah ketika kita bepergian sendirian. Semua keputusan berada di tangan sendiri. Mulai dari memilih transportasi, membaca peta, menghadapi kendala kecil, hingga menentukan langkah ketika rencana berubah.
Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kecemasan. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena tidak terbiasa mengandalkan diri sendiri di lingkungan yang asing.
Psikolog Dr. Susan David dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa manusia secara alami mencari kepastian karena kepastian memberi rasa aman. Ketika berada dalam situasi baru yang sulit diprediksi, otak cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai, meskipun ancaman nyata belum tentu ada.
Itulah sebabnya, bepergian sendirian sering terasa lebih menegangkan sebelum dilakukan daripada ketika benar-benar dijalani.
Baca Juga: Mengapa Ada Kota yang Terasa Akrab, Padahal Baru Pertama Dikunjungi?
Kadang, Yang Kita Temukan Bukan Hanya Tempat Baru
Menariknya, banyak orang yang akhirnya mencoba bepergian sendirian justru pulang dengan pengalaman yang sulit dijelaskan. Mereka mungkin tidak mengunjungi lebih banyak tempat dibandingkan wisatawan lain. Namun, mereka merasa lebih mengenal dirinya sendiri.
Tanpa teman untuk terus diajak berbicara, perhatian menjadi lebih terbuka terhadap sekitar. Langkah terasa lebih pelan. Kita lebih mudah mengamati wajah-wajah yang ditemui, mendengarkan suara kota, atau menikmati secangkir kopi tanpa tergesa-gesa.
Di saat yang sama, kita juga belajar menghadapi rasa cemas, mengambil keputusan sendiri, dan menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna agar sebuah perjalanan tetap menyenangkan.
Bukan berarti setiap orang harus mencoba solo traveling. Bepergian bersama orang-orang terdekat tetap memiliki kebahagiaannya sendiri. Namun, sesekali melakukan perjalanan seorang diri dapat menjadi cara untuk membangun kepercayaan terhadap diri sendiri.
Barangkali itulah yang sering ditakutkan sejak awal. Bukan semata-mata karena kotanya asing atau jalannya belum dikenal, melainkan karena kita belum pernah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berkata, "Ternyata saya bisa."
Dan ketika perjalanan itu selesai, yang berubah seringkali bukan hanya daftar tempat yang pernah dikunjungi. Ada rasa percaya diri yang tumbuh pelan-pelan, lahir dari pengalaman bahwa kita mampu melangkah, mengambil keputusan, dan menikmati dunia, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang berjalan di samping kita. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.