Banyak orang memimpikan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh. Ada yang ingin melihat pegunungan di luar negeri, menikmati pantai yang belum pernah dikunjungi, atau menjelajahi kota-kota dengan budaya yang berbeda. 

Tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Namun, di tengah impian tentang destinasi yang jauh, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar mengenal kota tempat kita tinggal?

Anehnya, kita sering lebih hafal jalan-jalan di kota tujuan liburan daripada sudut-sudut menarik di lingkungan sendiri. Kita rela berjalan kaki berjam-jam saat berwisata ke kota lain, tetapi jarang menyempatkan diri menyusuri taman, museum, gang tua, atau pasar tradisional yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah.

Boleh jadi, masalahnya bukan karena kota kita tidak menarik. Bisa jadi, kita hanya terlalu terbiasa melihatnya setiap hari.

Baca Juga: Mengapa Ada Kota yang Terasa Akrab, Padahal Baru Pertama Dikunjungi?

Kedekatan Sering Membuat Kita Kehilangan Rasa Ingin Tahu

Ada sebuah kecenderungan yang menarik dalam diri manusia. Semakin akrab kita dengan sesuatu, semakin kecil rasa penasaran kita terhadapnya.

Jalan yang setiap hari dilewati hanya menjadi rute menuju kantor. Bangunan tua yang berdiri di sudut kota berubah menjadi latar belakang yang nyaris tidak pernah diperhatikan. Kedai kecil yang sudah puluhan tahun buka seringkali justru kalah menarik dibandingkan tempat baru yang sedang ramai dibicarakan.

Ketika bepergian ke kota lain, sikap kita berubah. Kita berjalan lebih pelan, memperhatikan detail bangunan, mencoba makanan lokal, bahkan berhenti untuk membaca papan informasi yang mungkin terlihat biasa bagi warga setempat.

Padahal, jika cara pandang yang sama dibawa pulang ke kota sendiri, mungkin kita akan menemukan banyak hal yang selama ini luput dari perhatian. Perjalanan tidak selalu dimulai dari jarak yang jauh. Kadang, ia dimulai dari keputusan untuk melihat tempat yang sudah akrab dengan mata yang lebih ingin tahu.

Baca Juga: Tempat Wisata Sekarang Cepat Viral, Cepat Penuh, Cepat Rusak, Lalu Cepat Dilupakan

Menjadi Turis Membuat Kita Hadir Sepenuhnya

Psikolog Ellen Langer dari Harvard University dikenal melalui konsep mindfulness, yaitu kemampuan untuk benar-benar hadir dan memperhatikan apa yang sedang dialami. Salah satu penyebab hari-hari terasa berlalu begitu cepat adalah karena kita menjalani banyak rutinitas dengan cara yang hampir otomatis.

Jadi ‘turis’ di kota sendiri dapat memutus pola itu. Ketika kita sengaja memilih berjalan di kawasan yang belum pernah dijelajahi, masuk ke museum yang selama ini hanya dilewati, atau mencicipi warung yang selalu tampak ramai tetapi belum pernah dicoba, perhatian kita kembali aktif. Kita mulai melihat detail, mendengar suara-suara yang biasanya terabaikan, dan menemukan cerita di balik tempat-tempat yang selama ini terasa biasa.

Pengalaman seperti ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang kota tempat tinggal. Ia juga menghadirkan perasaan segar yang sering dicari saat bepergian jauh. Mungkin, esensi sebuah perjalanan memang bukan sekadar berpindah tempat. Perjalanan adalah tentang membuka ruang bagi rasa ingin tahu.

Barangkali karena itulah tidak semua perjalanan harus jauh. Kadang, kota yang setiap hari kita tinggali masih menyimpan begitu banyak cerita yang belum sempat kita dengarkan. Kita hanya perlu melambat, berjalan tanpa terburu-buru, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk melihatnya sebagai seorang tamu, bukan sekadar warga yang sedang lewat.

Siapa tahu, destinasi yang selama ini kita cari ternyata tidak berada ratusan kilometer dari rumah. Ia sudah ada di depan mata, menunggu untuk ditemukan dengan cara pandang yang baru. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.