Beberapa tahun terakhir, pilihan platform Artificial Intelligence semakin banyak. Ada yang dikenal cepat menjawab, ada yang unggul dalam membuat gambar, ada juga yang terasa lebih 'manusiawi' saat diajak berdiskusi. Menariknya, banyak orang mulai punya AI favoritnya sendiri. Namun pertanyaannya, sebenarnya kita memilih AI berdasarkan apa?

Sebagian orang memilih karena hasilnya terasa paling akurat. Sebagian lain memilih karena tampilannya nyaman digunakan. Ada juga yang merasa cocok karena gaya jawabannya lebih santai atau lebih mudah dipahami.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia ternyata tidak selalu memilih teknologi hanya berdasarkan kecanggihan. Ada faktor psikologis yang ikut bekerja di dalamnya.

Profesor psikologi dan ekonomi perilaku Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow [2011] menjelaskan bahwa manusia sering mengambil keputusan berdasarkan rasa familiar dan kenyamanan mental, bukan semata logika yang paling objektif.

Hal ini juga terlihat dalam cara orang memilih AI. Banyak pengguna merasa suatu AI 'lebih pintar', padahal yang sebenarnya terjadi adalah AI tersebut terasa lebih cocok dengan cara berpikir mereka.

Baca Juga: Kenapa AI Sering Memilih Konten yang Tidak Kita Sadari?

AI yang Terasa Nyaman Sering Lebih Mudah Dipercaya

Salah satu hal yang jarang disadari adalah hubungan antara kenyamanan dan kepercayaan. Ketika sebuah AI memberi jawaban dengan gaya yang terasa akrab, pengguna cenderung lebih mudah menerima jawabannya.

Dalam buku The Man Who Lied to His Laptop [2010], profesor komunikasi dari Stanford University, Clifford Nass menjelaskan bahwa manusia secara alami memperlakukan teknologi seperti makhluk sosial. Cara bicara, nada respons, bahkan gaya bahasa dapat memengaruhi tingkat kepercayaan pengguna terhadap sistem digital.

Karena itu, AI yang terasa 'ramah' sering dianggap lebih membantu dibanding AI yang sebenarnya lebih akurat tapi terasa kaku.

Fenomena ini semakin terlihat sejak hadirnya AI berbasis percakapan. Banyak orang mulai menggunakan AI bukan hanya untuk mencari informasi, tapi juga untuk berdiskusi, meminta saran, bahkan menemani saat merasa kesepian.

Di sisi lain, kondisi ini juga menimbulkan tantangan baru. Ketika rasa nyaman menjadi faktor utama, pengguna bisa lebih sulit membedakan mana jawaban yang benar-benar akurat dan mana yang hanya terdengar meyakinkan.

Itulah sebabnya banyak ahli teknologi mulai mengingatkan pentingnya literasi AI. Kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya soal bisa mengetik pertanyaan, tapi juga memahami bagaimana sistem itu bekerja dan apa keterbatasannya.

Baca Juga: Konten yang Kita Lihat Bukan Kebetulan, Ada Sistem yang Memilihkannya

Memilih AI Tidak Selalu Soal Teknologi, Tapi Juga Tentang Diri Kita

Cara seseorang memilih AI sering mencerminkan kebutuhan dan kebiasaan pribadinya sendiri. Ada orang yang menyukai AI cepat karena ritme hidupnya serba terburu-buru. Ada yang lebih suka AI dengan jawaban detail karena ingin merasa lebih dipahami.

Peneliti teknologi Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together [2011] menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan teknologi sering berkembang menjadi hubungan emosional yang kompleks. Teknologi bukan lagi sekadar alat, tapi mulai memengaruhi cara manusia membangun rasa nyaman dan keterhubungan.

Karena itu, memilih AI terbaik sebenarnya bukan perkara sederhana. Teknologi yang dianggap ideal oleh satu orang belum tentu terasa cocok bagi orang lain. Ada AI yang unggul dalam logika dan data. Ada yang lebih baik dalam kreativitas. Ada pula yang terasa lebih hangat saat digunakan untuk berdiskusi panjang.

Semakin berkembang teknologi AI, semakin jelas bahwa manusia tidak hanya mencari sistem yang pintar. Banyak orang ternyata juga mencari pengalaman yang terasa nyaman, mudah dipahami, dan tidak membuat lelah saat digunakan.

Mungkin itu sebabnya perdebatan soal 'AI terbaik' tidak pernah benar-benar selesai. Karena yang sedang dinilai bukan hanya teknologinya, tapi juga bagaimana manusia merasa saat menggunakannya. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.