Banyak orang merasa bahwa konten yang muncul di media sosial atau platform digital adalah hasil dari pilihan mereka sendiri. Kita merasa bebas menentukan apa yang ingin dilihat, dibaca, atau ditonton. Padahal, ada sistem yang terus bekerja di belakang layar untuk menentukan apa yang muncul lebih dulu di hadapan kita.
Sistem itu bekerja melalui algoritma dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Dengan mempelajari kebiasaan pengguna, AI mampu memprediksi konten apa yang kemungkinan besar akan menarik perhatian kita.
Masalahnya, proses ini sering berlangsung tanpa benar-benar kita sadari. Kita hanya melihat hasil akhirnya: rekomendasi video, artikel, atau unggahan yang terasa ‘cocok’ dengan minat kita.
Baca Juga: Konten yang Kita Lihat Bukan Kebetulan, Ada Sistem yang Memilihkannya
AI Tidak Hanya Membaca Kebiasaan, Tapi Juga Membentuknya
Banyak orang mengira AI hanya bekerja secara pasif, seolah sekadar membaca apa yang kita sukai. Padahal, dalam praktiknya, sistem ini juga ikut membentuk pola konsumsi kita.
Ketika seseorang sering berinteraksi dengan jenis konten tertentu, algoritma akan terus memperkuat pola tersebut. Akibatnya, pengguna semakin sering melihat tema yang mirip, hingga perlahan merasa bahwa itulah hal yang paling relevan atau paling menarik.
Profesor komunikasi dan peneliti media, Shoshana Zuboff, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism [2019], menjelaskan bagaimana platform digital mengumpulkan dan memanfaatkan perilaku pengguna untuk memprediksi sekaligus memengaruhi tindakan mereka.
“You are not the product. You are the abandoned carcass.”
Kutipan ini menggambarkan bagaimana perhatian dan perilaku manusia menjadi bagian penting dalam model bisnis digital modern.
Dalam konteks AI, konten yang muncul bukan lagi sekadar hasil pencarian biasa. Ia merupakan hasil kalkulasi sistem yang dirancang untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin.
Baca Juga: AI yang Kita Pakai, Hasil Pilihan Sendiri, atau Karena Semua Orang Pakai?
Ketika Pilihan Terasa Alami, Padahal Sudah Diarahkan
Salah satu alasan kenapa sistem ini terasa sulit disadari adalah karena rekomendasi yang diberikan terlihat sangat natural. Konten yang muncul terasa dekat dengan minat kita, sehingga jarang dipertanyakan.
Psikolog sekaligus peneliti perilaku digital, Adam Alter, dalam bukunya Irresistible [2017], membahas bagaimana teknologi dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna melalui pola kebiasaan yang terus diulang.
Menurut Alter, manusia cenderung merasa nyaman dengan sesuatu yang familiar. Ketika AI terus menyajikan pola yang serupa, otak akan menganggap pengalaman itu sebagai sesuatu yang aman dan menyenangkan.
Muncullah fenomena echo chamber, ketika seseorang terus berada dalam lingkaran informasi yang serupa tanpa banyak terpapar sudut pandang lain. AI memang membantu kita menemukan informasi lebih cepat. Namun, tanpa kesadaran yang cukup, kita juga bisa terjebak dalam pola konsumsi yang semakin sempit.
Bukan berarti teknologi ini sepenuhnya buruk. Sistem rekomendasi tetap memberi kemudahan dan efisiensi dalam mengakses informasi. Yang menjadi penting adalah memahami bahwa apa yang kita lihat di layar tidak selalu muncul secara netral.
Ada sistem yang memilih, menyusun, dan memprioritaskan konten tertentu berdasarkan berbagai pertimbangan. Semakin kita memahami cara kerja ini, semakin besar peluang kita untuk menggunakan teknologi secara lebih sadar, bukan sekadar mengikuti arus yang sudah diarahkan. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.