Banyak orang masih merasa konten yang muncul di media sosial terjadi secara spontan dan acak. Padahal semakin lama, internet modern justru bekerja dengan cara yang sangat terukur dalam memilih apa yang muncul di hadapan setiap penggunanya.
Fenomena ini terlihat dari hal-hal kecil yang sering dianggap kebetulan. Seseorang baru membicarakan kopi, lalu beberapa jam kemudian linimasanya dipenuhi video tentang coffee shop. Ada orang yang sedang merasa sedih, lalu terus mendapat konten melankolis selama berhari-hari. Bahkan kadang pengguna merasa algoritma seperti 'mengerti' suasana hatinya lebih cepat dibanding orang di sekitarnya.
Padahal yang bekerja sebenarnya bukan intuisi manusia. Yang bekerja adalah sistem pembacaan perilaku digital yang terus mengumpulkan pola dari apa yang ditonton, disukai, dilewati, dicari, sampai berapa lama seseorang berhenti di satu video tertentu.
Peneliti budaya digital Prof. José van Dijck pernah mengingatkan bahwa platform digital modern tidak sekadar menjadi tempat manusia melihat informasi. Platform sekarang bekerja sebagai sistem yang terus mengamati, mempelajari, lalu menyusun ulang pengalaman digital penggunanya berdasarkan data perilaku yang dikumpulkan setiap saat.
Mungkin itu sebabnya banyak konten yang terlihat 'random' sebenarnya sudah sangat dipersonalisasi oleh mesin.
Baca Juga: Masalah Internet Hari Ini Bukan Lagi Buzzer yang Buzzing, Tapi Semua Orang Sibuk Framing
Algoritma Tidak Membaca Pikiran, Tapi Membaca Pola
Kalau dipikir-pikir, media sosial modern sebenarnya tidak benar-benar tahu siapa manusia di balik layar. Algoritma tidak memahami kesedihan, humor, nostalgia, atau rasa takut seperti manusia memahaminya. Namun mesin sangat ahli membaca pola perilaku dalam jumlah besar dan mengubahnya menjadi prediksi yang sangat akurat.
Ketika seseorang sering berhenti lebih lama di video tertentu, sistem menganggap itu sebagai sinyal ketertarikan. Ketika seseorang berulang kali melihat konten bertema tertentu meski tidak memberi like, algoritma tetap mencatatnya sebagai pola perhatian. Lama-lama, mesin mulai membangun versi digital tentang siapa diri pengguna berdasarkan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Masalahnya, banyak orang tidak benar-benar sadar bahwa dirinya sedang dibaca terus-menerus oleh sistem seperti itu. Karena prosesnya terasa sangat halus dan berlangsung diam-diam di belakang layar. Pengguna merasa sedang memilih konten secara bebas, padahal pada saat yang sama sistem juga sedang memilih jenis dunia digital apa yang paling mungkin membuat pengguna bertahan lebih lama.
Profesor media Douglas Rushkoff pernah membahas bahwa platform digital modern dirancang bukan sekadar untuk memberi informasi, tetapi untuk mempertahankan perhatian manusia selama mungkin. Karena itu, algoritma akan terus mempelajari pola emosi, rasa penasaran, dan kebiasaan pengguna agar interaksi tidak cepat berhenti.
Dan mungkin di situlah perubahan besar internet modern mulai terasa. Manusia tidak lagi hanya mencari konten, tetapi perlahan hidup di dalam arus konten yang sudah dipilihkan secara personal oleh mesin.
Baca Juga: Sekarang Bukan Cuma Manusia yang Membaca Artikel Kita [Lalu Siapa?]
Kita Mulai Merasa Sedang Menemukan Sesuatu, Padahal Sedang Diarahkan
Menariknya, personalisasi algoritma sering dibuat terasa sangat natural. Pengguna merasa menemukan video secara tidak sengaja, menemukan lagu baru secara spontan, atau menemukan opini tertentu karena sedang penasaran membacanya. Padahal banyak dari semua itu sebenarnya muncul karena sistem memprediksi kemungkinan ketertarikan pengguna sebelumnya.
Akibatnya, manusia modern mulai hidup dalam pengalaman digital yang semakin berbeda satu sama lain. Dua orang bisa memakai aplikasi yang sama, tetapi menerima dunia yang nyaris sepenuhnya berbeda di layar mereka. Konten politiknya berbeda, humor yang muncul berbeda, keresahan yang diperlihatkan berbeda, bahkan rasa takut yang terus diulang algoritma juga bisa berbeda.
Fenomena itu membuat internet perlahan berubah dari ruang publik bersama menjadi ruang personal yang dibangun khusus untuk masing-masing individu. Mesin terus menyusun pengalaman digital agar terasa paling relevan, paling menarik, dan paling sulit ditinggalkan oleh setiap pengguna secara personal.
Pakar teknologi dan masyarakat Shoshana Zuboff pernah menyoroti bahwa ekonomi digital modern bekerja dengan cara mengubah pengalaman manusia menjadi data perilaku yang bisa diprediksi dan diarahkan. Dalam sistem seperti itu, perhatian manusia bukan lagi sekadar aktivitas biasa, tetapi menjadi sumber utama yang terus dipelajari dan diperdagangkan platform digital.
Mungkin itu sebabnya konten yang terlihat acak sekarang terasa sangat dekat dengan diri kita sendiri. Karena di era internet modern, 'random' sering kali bukan benar-benar acak. Ia hanyalah hasil dari mesin yang sudah terlalu lama memperhatikan manusia, sampai akhirnya tahu apa yang paling mungkin membuat seseorang berhenti, merasa tertarik, lalu terus tinggal di layar lebih lama. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.