Dulu istilah buzzer terdengar seperti sesuatu yang jauh dan terorganisir. Orang membayangkan sekelompok akun yang bekerja menggiring opini, memainkan narasi, lalu membuat sebuah isu terlihat lebih besar atau lebih benar dibanding kenyataannya.
Sekarang situasinya terasa lebih rumit. Karena hari ini, hampir semua orang di internet perlahan melakukan hal yang mirip. Bukan selalu karena dibayar, bukan juga karena bagian dari kelompok tertentu, tetapi karena kultur media sosial modern memang mendorong manusia untuk terus membentuk persepsi.
Orang membuat caption untuk mengarahkan cara orang lain memahami sebuah peristiwa. Orang memotong video agar terlihat mendukung sudut pandang tertentu. Orang memilih potongan informasi yang paling cocok dengan emosinya sendiri, lalu menyebarkannya seolah itu keseluruhan cerita. Dan anehnya, semua itu sekarang terasa normal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa internet modern tak lagi hanya dipenuhi buzzer profesional. Ia mulai dipenuhi manusia yang sama-sama ingin memengaruhi arah percakapan, meski dengan cara dan skala berbeda.
Pakar media digital Whitney Phillips menjelaskan bahwa budaya internet modern membuat praktik amplification dan framing menjadi bagian dari perilaku sehari-hari pengguna media sosial. Ketika perhatian menjadi mata uang utama internet, banyak orang terdorong untuk ikut membentuk arus percakapan agar tidak tenggelam.
Mungkin itu sebabnya internet hari ini terasa semakin bising, bahkan ketika semua orang merasa dirinya hanya sedang 'berpendapat.'
Baca Juga: Benarkah Konten yang Kita Lihat Tiap Hari Ternyata Sudah Dipilihkan Mesin?
Sekarang Semua Orang Ingin Mengarahkan Cara Orang Lain Memahami Sesuatu
Media sosial membuat manusia tak lagi sekadar berbagi informasi. Setiap unggahan sekarang hampir selalu membawa sudut pandang tertentu, bahkan ketika tampilannya terlihat santai atau personal.
Seseorang mengunggah video dengan musik tertentu agar penonton merasakan emosi tertentu. Ada yang memilih diksi dramatis supaya opininya lebih mudah menyebar. Ada juga yang sengaja memakai potongan konteks paling menguntungkan agar publik cepat berpihak. Semua itu sebenarnya adalah bentuk framing.
Masalahnya, framing sekarang bukan lagi teknik komunikasi yang hanya dipakai media besar atau aktor politik. Ia sudah menjadi bahasa sehari-hari internet.
Fanbase melakukannya. Influencer melakukannya. Akun anonim melakukannya. Bahkan netizen biasa pun perlahan ikut memakai pola yang sama tanpa sadar. Akibatnya, publik semakin sulit membedakan mana percakapan organik, mana opini personal, dan mana narasi yang memang sedang diarahkan.
Profesor komunikasi George Lakoff menjelaskan bahwa framing bekerja dengan cara membentuk bagaimana manusia memahami realitas sebelum mereka sempat memproses informasi secara penuh. Ketika sebuah isu sudah dibingkai dengan emosi tertentu, publik cenderung melihatnya melalui sudut pandang yang sama. Dan media sosial mempercepat proses itu dengan sangat agresif.
Algoritma internet modern lebih menyukai konten yang memancing respons cepat. Konten yang membuat marah, memicu debat, atau memperkuat identitas kelompok biasanya bergerak lebih jauh dibanding percakapan yang tenang dan ambigu. Akibatnya, banyak orang akhirnya merasa harus ikut menggiring agar suaranya tetap terlihat.
Baca Juga: Sekarang Bukan Cuma Manusia yang Membaca Artikel Kita [Lalu Siapa?]
Internet Hari Ini Membuat Semua Orang Takut Tenggelam
Menariknya, fenomena ini tidak selalu lahir dari niat buruk. Banyak orang sebenarnya hanya ingin didengar, ingin dianggap relevan, atau ingin memastikan sudut pandangnya tidak kalah oleh arus besar di media sosial.
Namun, ketika semua orang terus berusaha membentuk opini sekaligus mempertahankan posisinya sendiri, internet perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar mendengar.
Setiap isu cepat berubah menjadi kubu. Setiap perdebatan segera dipenuhi asumsi tentang 'pihak mana' seseorang berada. Bahkan sekarang, berbeda pendapat sedikit saja bisa langsung dianggap bagian dari operasi tertentu.
Akibatnya, publik mulai hidup dalam suasana curiga yang melelahkan. Orang tak lagi hanya membaca opini. Mereka juga sibuk menebak: siapa yang bermain, siapa yang menggiring, siapa yang punya agenda, dan siapa yang sedang membangun citra.
Peneliti budaya digital Zeynep Tufekci menjelaskan bahwa platform media sosial modern menciptakan lingkungan komunikasi yang sangat mudah dimanipulasi oleh logika viralitas dan penguatan kelompok. Dalam kondisi seperti itu, emosi dan identitas sering bergerak lebih cepat dibanding proses memahami informasi secara utuh.
Mungkin itu sebabnya internet sekarang terasa jauh lebih ramai dibanding beberapa tahun lalu, tetapi sekaligus terasa semakin sulit dipercaya. Karena problemnya mungkin bukan lagi soal ada atau tidaknya buzzer profesional. Bisa jadi masalah yang lebih besar adalah ketika semua orang mulai merasa harus terus menggiring agar tidak kalah dalam percakapan digital yang bergerak tanpa henti.
Dan ketika semua sibuk framing, internet perlahan berubah bukan menjadi ruang memahami, melainkan arena memperebutkan perhatian. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.