Internet sekarang terasa sangat personal. Padahal banyak hal yang muncul di layar setiap hari sebenarnya sudah dipilih lebih dulu oleh sistem yang bekerja diam-diam di belakang aplikasi.

Dulu orang membuka internet untuk mencari sesuatu. Sekarang, banyak orang justru merasa internet sudah tahu apa yang ingin mereka lihat bahkan sebelum mereka mencarinya.

Video muncul sendiri di timeline. Beranda media sosial terasa cocok dengan suasana hati. Konten yang baru dibicarakan tiba-tiba lewat di layar. Kadang terasa kebetulan, kadang juga terasa sedikit mengganggu.

Fenomena itu bukan sepenuhnya perasaan berlebihan. Platform digital modern memang menggunakan algoritma dan sistem rekomendasi berbasis data untuk menentukan konten mana yang paling mungkin membuat pengguna bertahan lebih lama.

Apa yang ditonton, disukai, dibagikan, dihentikan beberapa detik, sampai yang dilewati cepat sekalipun, semuanya dibaca sebagai pola.

Penulis Eli Pariser dalam The Filter Bubble [2011] pernah menjelaskan bahwa internet modern perlahan membuat setiap orang hidup dalam 'gelembung informasi' masing-masing. Algoritma menyaring konten berdasarkan kebiasaan pengguna, sehingga manusia semakin sering melihat hal-hal yang mirip dengan apa yang sebelumnya mereka sukai.

Akibatnya, internet tidak lagi terasa sama bagi setiap orang.

Baca Juga: AI Terbaik Itu yang Paling Pintar, atau yang Paling Membuat Kita Nyaman?

Algoritma Sekarang Tidak Hanya Membaca Minat, Tapi Juga Menjaga Perhatian Manusia

Media sosial modern dibangun di atas perhatian. Semakin lama seseorang berada di aplikasi, semakin besar nilai yang dihasilkan platform tersebut. Karena itu, algoritma tidak bekerja secara acak. Sistem akan terus mempelajari jenis konten yang paling efektif membuat seseorang bertahan menatap layar lebih lama.

Pakar teknologi Tristan Harris pernah menjelaskan bahwa banyak aplikasi digital dirancang untuk bersaing memperebutkan perhatian manusia. Notifikasi, rekomendasi video, hingga infinite scroll dibuat agar pengguna terus kembali membuka aplikasi tanpa sadar berapa lama waktu yang sudah lewat.

Hal itu membuat pengalaman menggunakan internet terasa semakin personal sekaligus semakin sulit dilepaskan.

Di sisi lain, algoritma juga perlahan membentuk cara orang melihat dunia. Ketika seseorang terus-menerus melihat jenis opini tertentu, konten tertentu, atau gaya hidup tertentu, semua itu bisa terasa seperti kenyataan umum yang terjadi di mana-mana.

Padahal yang muncul di layar sebenarnya hanyalah potongan dunia yang dipilihkan berdasarkan kebiasaan digital pengguna itu sendiri.

Baca Juga: Kenapa AI Sering Memilih Konten yang Tidak Kita Sadari?

Manusia Modern Semakin Jarang Mencari, Karena Konten Sudah Datang Lebih Dulu

Perubahan besar internet hari ini bukan hanya soal teknologi yang semakin canggih, tetapi juga perubahan perilaku manusia saat menerima informasi. Dulu orang aktif mencari berita, artikel, atau hiburan lewat mesin pencari. Sekarang, banyak orang cukup membuka aplikasi lalu membiarkan algoritma memilihkan semuanya.

Profesor Harvard Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism [2019] menjelaskan bahwa aktivitas digital manusia kini menjadi sumber data yang terus dipelajari untuk memprediksi perilaku pengguna. Semakin sering seseorang menggunakan platform tertentu, semakin akurat sistem membaca kebiasaan dan ketertarikannya.

Karena itu, banyak konten yang terasa 'pas' sebenarnya muncul bukan karena kebetulan.

Internet modern perlahan berubah dari ruang pencarian menjadi ruang rekomendasi. Mesin tidak lagi hanya membantu manusia menemukan informasi, tetapi mulai menentukan informasi mana yang paling mungkin dilihat lebih dulu.

Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang merasa internet seperti mengenal dirinya terlalu baik. Sebab di balik layar yang terlihat sederhana, ada sistem yang terus bekerja membaca kebiasaan manusia setiap hari, lalu memilihkan apa yang kemungkinan besar akan mereka tonton berikutnya. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.