Tulisan, gambar, dan video kini bisa dibuat dalam hitungan menit. Ketika semuanya semakin mudah diproduksi, perhatian manusia justru menjadi semakin sulit didapatkan.

Satu orang kini dapat melakukan pekerjaan yang dahulu membutuhkan beberapa kemampuan sekaligus. AI bisa membantu menulis artikel, membuat ilustrasi, menghasilkan suara, menyusun musik, sampai menciptakan video dari beberapa baris instruksi. Hambatan untuk membuat sesuatu telah turun dengan sangat cepat.

Akan tetapi, kemudahan tersebut membawa konsekuensi yang mulai terasa ketika membuka media sosial. Gambar semakin banyak, video tidak pernah habis, dan tulisan baru terus muncul tanpa sempat seluruhnya dibaca. Kita bukan lagi hidup dalam situasi kekurangan konten, melainkan berhadapan dengan kelimpahan yang sulit disaring.

Bahkan istilah AI slop semakin sering digunakan untuk menggambarkan konten buatan AI yang diproduksi dalam jumlah besar dengan perhatian terbatas terhadap kualitas, akurasi, atau cerita yang bermakna. Penelitian Jiaru Tang dan koleganya yang terbit di AI & Society pada Agustus 2026 menemukan praktik produksi video AI bervolume tinggi yang secara sengaja mengutamakan kecepatan, skala, dan peluang algoritmik.

Baca Juga: AI Semakin Pintar Menjawab. Manusia Justru Harus Semakin Pintar Bertanya.

Ketika Membuat Menjadi Murah, Menemukan yang Layak Justru Semakin Mahal

Generative AI sebenarnya membawa demokratisasi yang penting. Seseorang tidak lagi harus menjadi ilustrator untuk memvisualisasikan sebuah ide atau mempunyai perangkat produksi mahal untuk bereksperimen dengan video. Hambatan keterampilan dan biaya yang dahulu menghentikan banyak orang untuk berkarya menjadi jauh lebih rendah.

Masalah muncul ketika keuntungan tersebut bertemu dengan logika platform yang menghargai perhatian. Jika satu konten berpotensi mendapatkan penonton, biaya produksi yang rendah menciptakan insentif untuk membuat sepuluh, seratus, bahkan ribuan variasinya. Penelitian Tang dan koleganya menemukan kreator AI slop yang menggunakan produksi berjumlah besar, jaringan banyak akun, dan pengujian format untuk mengejar visibilitas serta monetisasi.

Tianxin Zou, profesor pemasaran di University of Florida, bersama koleganya meneliti persoalan ini melalui pemodelan ekonomi pasar konten. Menurut Zou, banjir konten berkualitas relatif rendah dapat memenuhi sistem rekomendasi sehingga konten yang benar-benar berkualitas menjadi semakin sulit ditemukan. AI dalam kondisi tersebut bukan hanya mengubah siapa yang mampu memproduksi, tetapi juga lingkungan tempat karya harus berebut perhatian.

Di sinilah paradoks baru muncul. Ketika membuat satu gambar membutuhkan berjam-jam, seseorang mempunyai alasan untuk mempertimbangkan apa yang hendak dibuat. Ketika seratus gambar dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, pertanyaannya bergeser dari “bisakah dibuat?” menjadi “mana yang pantas diperlihatkan?”

Wendra Wilendra, M.MT., AI Strategist, selama ini menempatkan kualitas keluaran AI dalam hubungan yang erat dengan kualitas arahan manusia. Ia menekankan bahwa AI membutuhkan konteks, tujuan, batas, dan contoh yang relevan agar hasilnya tidak sekadar bergerak mengikuti kemungkinan yang paling umum. Baginya, kemampuan membingkai persoalan merupakan bagian dari disiplin berpikir manusia ketika menggunakan AI.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan dalam produksi kreatif. AI dapat menghasilkan variasi hampir tanpa lelah, tetapi kemampuan menghasilkan banyak pilihan tidak otomatis menentukan pilihan mana yang mempunyai alasan untuk diterbitkan. Semakin besar kapasitas produksi, semakin penting keputusan manusia mengenai apa yang perlu dibuat, dipertahankan, diperbaiki, atau justru dibuang.

Baca Juga: AI Bisa Memberi Banyak Jawaban. Tapi Benarkah AI Tak Bisa Menentukan Mana yang Paling Penting?

Mungkin Kelangkaan Berikutnya Bukan Konten, Melainkan Kepedulian

Manusia tetap mempunyai jumlah jam yang sama dalam sehari. Kita tidak otomatis memperoleh lebih banyak waktu untuk membaca hanya karena AI dapat menghasilkan jutaan tulisan tambahan. Mata kita juga tidak mendapatkan tambahan waktu untuk melihat gambar atau menonton video hanya karena produksinya semakin cepat.

Akibatnya, persaingan konten perlahan berubah. Kelangkaannya bukan lagi semata-mata kemampuan menciptakan sesuatu, tetapi perhatian orang yang diharapkan melihatnya. Ketika setiap scroll menawarkan puluhan kemungkinan lain, kemampuan membuat seseorang berhenti menjadi semakin bernilai.

Penelitian terhadap pengguna Gen Z yang diterbitkan dalam International Journal of Human-Computer Studies pada 2025 memberikan petunjuk menarik. Dalam merespons video pendek buatan AI, peserta lebih memprioritaskan otentisitas emosional dan koherensi cerita daripada sekadar kebaruan atau hiburan. Mereka juga menunjukkan ketidaknyamanan terhadap beberapa aspek seperti suara dan ketidakjelasan mengenai siapa pembuat kontennya.

Studi lain dalam Journal of Business Research menemukan sesuatu yang serupa dalam konteks komunikasi pemasaran. Melalui tujuh eksperimen, Colleen Kirk dan Julian Givi menemukan bahwa pesan emosional yang diketahui dibuat AI dapat menurunkan respons positif dan loyalitas dibandingkan pesan yang ditulis manusia, dengan persepsi autentisitas menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskannya. Efek tersebut tidak sama pada komunikasi yang sifatnya lebih faktual.

Temuan-temuan itu tidak berarti manusia selalu menolak karya AI. Yang mulai terlihat justru kebutuhan membedakan antara AI sebagai alat penciptaan dan produksi otomatis tanpa alasan yang cukup kuat bagi orang lain untuk memperhatikannya. Sebuah ilustrasi yang dibuat menggunakan AI tetap dapat membawa gagasan, humor, perspektif, atau keputusan kreatif manusia yang jelas.

Masalahnya muncul ketika kemampuan menghasilkan diperlakukan sebagai alasan untuk menerbitkan semuanya. Seratus variasi yang dapat dibuat tidak berarti seratus variasi tersebut perlu masuk ke linimasa orang lain. Kemampuan baru membutuhkan kemampuan lain yang mungkin terdengar kuno: memilih.

Di sini pekerjaan manusia mungkin justru bertambah, bukan menghilang. Seseorang perlu menentukan tujuan, memilih hasil terbaik, mengoreksi kesalahan, memastikan konteks, membangun cerita, dan mempertanyakan apakah konten tersebut memberikan sesuatu yang belum diberikan ribuan konten sebelumnya. AI mempercepat bagian produksi, tetapi tidak menghapus kebutuhan terhadap penilaian.

Fenomena AI slop bahkan memperlihatkan bahwa sebagian produksi konten kini dapat diarahkan terutama untuk bekerja terhadap metrik platform. Kajian Jernej Markelj dan Jakko Kemper pada 2026 menggambarkan estetika AI slop sebagai sesuatu yang berorientasi operasional: konten dibuat bukan terutama untuk merepresentasikan makna, melainkan untuk bekerja sebagai sinyal yang mengejar engagement.

Mungkin itu pula yang membuat sebagian orang mulai merasa jenuh. Bukan semata-mata karena mereka mengetahui sebuah gambar atau video dibuat AI, melainkan karena terlalu banyak hal terasa dibuat hanya karena sekarang bisa dibuat. Teknologi telah menjawab persoalan produksi lebih cepat daripada kita menjawab pertanyaan tentang apa yang benar-benar layak diproduksi.

AI tidak membuat kreativitas kehilangan nilai. Ia justru mengubah lokasi nilai tersebut. Ketika kemampuan menghasilkan konten semakin mudah dimiliki siapa saja, kemampuan memilih gagasan, memberi konteks, mempunyai sudut pandang, dan mengetahui kapan sesuatu cukup berharga untuk diterbitkan menjadi semakin penting.

Barangkali era AI tidak akan kekurangan orang yang mampu membuat sesuatu. Kita mungkin justru akan kekurangan orang yang bersedia berhenti sebelum menekan tombol publikasi dan bertanya: apakah ini benar-benar perlu hadir di dunia? Sebab ketika semua orang dapat menghasilkan lebih banyak, tantangan terbesar bukan lagi membuat konten, tetapi membuat sesuatu yang masih membuat manusia ingin peduli. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.