Beberapa waktu terakhir, istilah ‘Godzilla El Niño’ mulai sering muncul di media sosial dan pemberitaan global. Istilah ini terdengar seperti nama film, besar, berisik, dan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi semakin hari, panas yang terasa di siang hari mulai membuat istilah itu terdengar tidak sepenuhnya asing.
Di banyak kota, udara terasa lebih gerah dari biasanya. Siang jadi lebih menyengat, malam tidak benar-benar dingin, dan orang mulai lebih cepat merasa lelah meski aktivitasnya tidak berubah banyak. Yang menarik, banyak orang mulai menganggap ini sebagai hal normal.
Padahal, berbagai lembaga cuaca global dan nasional justru berkali-kali mengingatkan bahwa perubahan suhu ekstrem bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. BMKG beberapa kali menyampaikan bahwa Indonesia sedang menghadapi peningkatan suhu akibat kombinasi fenomena iklim global dan kondisi atmosfer regional.
Menurut saya, yang membuat situasi ini menarik bukan hanya soal panasnya. Tapi soal bagaimana manusia perlahan terbiasa terhadap perubahan yang sebenarnya cukup serius.
Baca Juga: Kita Sering Bilang “Nanti Saja”, Tapi Sebenarnya Menunda Apa?
Ketika Panas Ekstrem Mulai Terasa Dekat
Fenomena El Niño sebenarnya bukan hal baru. Secara sederhana, El Niño adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global. Dampaknya bisa berupa penurunan curah hujan, kekeringan, hingga peningkatan suhu di banyak wilayah.
Namun istilah ‘Godzilla El Niño’ muncul karena beberapa peneliti melihat potensi El Niño dengan intensitas yang jauh lebih besar dibanding biasanya. Media internasional mulai menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kemungkinan dampaknya yang luas dan ekstrem.
BMKG dalam beberapa pernyataannya juga mengingatkan bahwa suhu panas di Indonesia dapat meningkat akibat dinamika iklim global. Bahkan dalam beberapa periode, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah sempat menembus angka yang terasa tidak nyaman bagi masyarakat.
Masalahnya, perubahan seperti ini sering tidak terasa dramatis di awal. Tidak ada suara alarm besar. Tidak ada tanda yang langsung terlihat mengkhawatirkan. Yang ada hanya rasa gerah yang perlahan menjadi bagian dari keseharian.
Orang mulai membeli kipas tambahan. Pendingin ruangan lebih lama dinyalakan. Aktivitas luar ruangan dihindari pada jam tertentu. Semuanya terlihat seperti penyesuaian kecil, padahal sebenarnya itu tanda bahwa kondisi sedang berubah.
Baca Juga: Semakin Banyak yang Dibuka, Kenapa Kita Semakin Tidak Percaya?
Manusia Cepat Beradaptasi, Tapi Belum Tentu Siap
Saya rasa, manusia punya kemampuan yang luar biasa untuk beradaptasi. Ketika cuaca berubah, manusia menyesuaikan. Ketika suhu naik, pola hidup ikut berubah. Namun adaptasi tidak selalu berarti kesiapan.
Contoh paling sederhana terlihat dari cara orang memandang panas ekstrem hari ini. Banyak yang mulai menganggap cuaca sangat panas sebagai sesuatu yang “memang lagi musimnya”. Kalimat seperti “memang sekarang lagi panas-panasnya” terdengar biasa, bahkan sering diucapkan sambil tertawa kecil.
Padahal, Organisasi Meteorologi Dunia [WMO] berkali-kali menyampaikan bahwa peningkatan suhu global bukan sekadar variasi cuaca biasa. Ada perubahan iklim yang membuat fenomena panas ekstrem menjadi lebih sering dan lebih intens.
Profesor Petteri Taalas, mantan Sekretaris Jenderal WMO, pernah mengatakan bahwa gelombang panas kini menjadi ‘the new normal’ di banyak wilayah dunia akibat perubahan iklim global. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup mengganggu. Karena jika panas ekstrem menjadi normal baru, artinya manusia sedang bergerak menuju kondisi yang sebelumnya dianggap tidak normal.
Di Indonesia sendiri, BMKG juga pernah mengingatkan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara cuaca panas harian biasa dan dampak perubahan iklim jangka panjang. Dua hal ini sering bercampur dalam percakapan publik.
Akibatnya, banyak orang melihat panas ekstrem hanya sebagai gangguan sesaat. Padahal, efek jangka panjangnya jauh lebih besar, mulai dari kesehatan, produktivitas, hingga ketahanan pangan.
Baca Juga: Monas dan DPR, Ketika Perjuangan Buruh Berjalan di Dua Arah
Ketika Lingkungan Berubah, Tapi Gaya Hidup Tetap Sama
Hal lain yang menarik adalah cara hidup manusia modern yang justru sering memperparah situasi. Kota semakin padat, ruang hijau semakin berkurang, dan penggunaan energi terus meningkat.
Saya melihat, ada ironi kecil di sini. Ketika suhu semakin panas, manusia merespons dengan penggunaan pendingin yang lebih besar. Padahal, konsumsi energi yang terus meningkat juga ikut memberi tekanan pada lingkungan.
Fenomena ini membuat manusia seperti terjebak dalam lingkaran yang terus berulang. Lingkungan berubah, manusia menyesuaikan dengan cara yang kadang justru mempercepat perubahan itu sendiri.
Profesor Katharine Hayhoe, ilmuwan iklim dari Texas Tech University, pernah menjelaskan bahwa perubahan iklim sering terasa jauh karena manusia lebih fokus pada kenyamanan harian dibanding pola jangka panjang.
“It’s not an environmental issue. It’s a human issue.” — Katharine Hayhoe
Kalimat itu terasa relevan dengan situasi hari ini. Karena yang sedang berubah bukan hanya suhu udara. Tapi cara manusia hidup di dalamnya. Saya rasa, mungkin yang paling berbahaya dari perubahan seperti ini bukan panasnya sendiri. Tapi ketika manusia mulai terlalu terbiasa.
Ketika cuaca ekstrem tidak lagi mengejutkan, ketika suhu tinggi hanya dianggap bagian dari musim, dan ketika rasa tidak nyaman terus diterima sebagai hal biasa. Karena bisa jadi, perubahan besar tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang pelan-pelan, lewat hal-hal kecil yang terus diulang setiap hari.
Dan mungkin, pertanyaan yang perlu mulai dipikirkan bukan lagi apakah cuaca sedang berubah. Tapi apakah manusia benar-benar menyadari seberapa jauh perubahan itu sudah berjalan. []

Rommy Rimbarawa/KK