Oleh Liora Maheswari

Beberapa waktu lalu saya duduk di sebuah kafe dan memperhatikan meja-meja di sekitar. Tidak ada kejadian luar biasa. Orang-orang datang, mengobrol, memesan makanan, lalu pulang. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya. Sebelum sajian makanan disantap, hampir semua orang mengeluarkan ponsel terlebih dahulu.

Saya tidak sedang mengkritik mereka. Dan harus jujur, saya juga pernah melakukannya. Saya pernah memotret secangkir kopi yang terlihat cantik. Saya pernah mengabadikan langit sore yang warnanya kebetulan sedang bagus. Saya juga pernah membagikan potongan-potongan kecil dari hidup saya kepada orang lain melalui media sosial.

Karena itu, tulisan ini bukan tentang orang yang terlalu banyak membuat konten. Tulisan ini juga bukan tentang ajakan untuk meninggalkan media sosial atau berhenti mendokumentasikan hidup. Yang membuat saya penasaran justru sesuatu yang lain. Saya mulai bertanya-tanya apakah cara kita mengalami sebuah peristiwa ikut berubah ketika hampir setiap peristiwa memiliki kemungkinan untuk dibagikan kepada orang lain.

Pertanyaan itu terus muncul ketika saya melihat kehidupan sehari-hari. Orang datang ke konser sambil mengangkat ponsel. Orang berlibur sambil memikirkan foto yang akan dipilih untuk diunggah. Orang menghadiri sebuah acara sambil merekam sebagian besar jalannya acara tersebut. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun saya sering bertanya dalam hati, kapan sebuah pengalaman mulai berubah menjadi bahan yang siap dipublikasikan?

Baca Juga: Apa yang Membuat Sebuah Generasi Diingat? 

Ketika Mengalami dan Mendokumentasikan Menjadi Satu Hal

Manusia sebenarnya selalu menyimpan kenangan. Jauh sebelum ada internet, orang membuat album foto keluarga, menyimpan kartu pos, menulis buku harian, atau mengumpulkan benda-benda yang mengingatkan mereka pada peristiwa tertentu. Keinginan untuk mengabadikan momen bukanlah sesuatu yang baru.

Yang berubah adalah kecepatan dan skalanya. Dulu sebuah foto mungkin hanya dilihat oleh keluarga atau sahabat dekat. Hari ini satu unggahan dapat dilihat oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang. Sesuatu yang dulu bersifat pribadi kini dapat menjadi bagian dari ruang publik hanya dalam hitungan detik.

Perubahan itu secara perlahan juga mengubah cara kita memandang pengalaman. Ketika seseorang berada di sebuah tempat yang indah, ia tidak hanya memikirkan apa yang sedang ia lihat. Kadang ia juga memikirkan bagaimana tempat itu akan terlihat di layar ponsel. Ketika seseorang menikmati makanan yang menarik, ia tidak hanya menikmati rasanya. Kadang ia juga memikirkan bagaimana makanan itu akan terlihat ketika diunggah.

Saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut selalu buruk. Banyak orang justru merasa senang karena dapat berbagi pengalaman dengan keluarga, teman, atau komunitas yang memiliki minat yang sama. Media sosial juga memungkinkan seseorang menemukan inspirasi, pengetahuan, dan hubungan yang sebelumnya sulit dijangkau.

Namun di saat yang sama, saya merasa ada pertanyaan yang layak diajukan. Apakah proses mendokumentasikan sesuatu ikut memengaruhi cara kita menjalani sesuatu itu sendiri? Ketika perhatian kita terbagi antara mengalami dan membagikan, apakah kedua hal tersebut selalu berjalan seimbang?

Mungkin jawabannya berbeda untuk setiap orang. Ada yang mampu menikmati momen sekaligus mendokumentasikannya tanpa masalah. Ada pula yang sesekali merasa bahwa sebagian perhatiannya justru tersita untuk memikirkan bagaimana sebuah pengalaman akan terlihat setelah dipublikasikan.

Baca Juga: Budaya yang Masih Dipikul Anak Muda

Kehadiran dan Keterlihatan Tidak Selalu Sama

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah bagaimana media sosial mengubah cara kita memahami keberadaan. Dulu seseorang dianggap hadir karena ia benar-benar berada di sebuah tempat atau mengalami sebuah peristiwa. Hari ini, kehadiran sering terasa belum lengkap sebelum ada jejak digital yang menyertainya.

Saya sering melihat orang kembali dari perjalanan panjang dan pertanyaan pertama yang muncul justru bukan tentang apa yang mereka rasakan. Pertanyaannya seringkali tentang foto, video, atau unggahan yang mereka buat selama perjalanan tersebut. Tanpa sadar, dokumentasi kadang menjadi bukti bahwa sebuah pengalaman benar-benar terjadi.

Mungkin karena itulah banyak orang merasa perlu terus memperbarui media sosial mereka. Bukan semata-mata karena ingin pamer atau mencari perhatian, tetapi karena kehidupan digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial itu sendiri. Dalam banyak situasi, apa yang dibagikan kepada publik ikut membentuk bagaimana seseorang dilihat oleh lingkungan sekitarnya.

Saya memahami alasan itu. Kita hidup di zaman ketika keterlihatan memiliki nilai yang nyata. Kreator konten membangun karier dari sana. Pelaku usaha membangun pelanggan dari sana. Profesional membangun jaringan dari sana. Bahkan hubungan sosial sehari-hari sering berlangsung melalui ruang digital yang sama.

Tapi, semakin lama saya mengamati fenomena ini, semakin saya merasa bahwa kehadiran dan keterlihatan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa terlihat oleh sangat banyak orang tanpa benar-benar hadir dalam pengalaman yang sedang dijalaninya. Sebaliknya, seseorang bisa hadir sepenuhnya dalam sebuah momen tanpa merasa perlu menunjukkan momen tersebut kepada siapa pun.

Saya tidak tahu apakah ada jawaban yang benar untuk persoalan ini. Saya juga tidak yakin bahwa kita harus memilih salah satunya. Dunia sudah berubah, dan media sosial telah menjadi bagian dari cara manusia berkomunikasi. Yang mungkin perlu dijaga hanyalah kesadaran bahwa tidak semua pengalaman harus segera diubah menjadi sesuatu yang dapat dibagikan.

Kadang-kadang sebuah percakapan terasa cukup berharga untuk dinikmati oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Kadang-kadang sebuah perjalanan terasa cukup bermakna tanpa harus terus-menerus direkam. Kadang-kadang sebuah pemandangan terasa lebih indah ketika dilihat langsung daripada melalui layar yang sedang berusaha mengabadikannya.

Mungkin yang hilang ketika semua hal harus menjadi konten bukanlah pengalaman itu sendiri. Pengalaman tersebut tetap terjadi. Yang perlahan berkurang adalah kesempatan untuk berada sepenuhnya di dalam momen tersebut tanpa memikirkan bagaimana momen itu akan terlihat di mata orang lain.

Dan mungkin itulah pertanyaan yang sesekali layak kita simpan. Bukan apakah kita harus berhenti membuat konten, melainkan apakah kita masih memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengalami sesuatu sebelum mulai menceritakannya. []

Bandung, 19 Juni 2026