Ada banyak kalimat kecil yang terdengar biasa dalam keseharian. Salah satunya adalah “nanti saja”. Kalimat yang terlihat ringan, sederhana, dan sering diucapkan tanpa banyak dipikirkan.
“Nanti saja olahraga.”
“Nanti saja balas chat.”
“Nanti saja tidur lebih awal.”
“Nanti saja mulai.”
Awalnya terasa tidak masalah. Semua masih bisa dilakukan besok, minggu depan, atau saat keadaan terasa lebih siap. Namun tanpa sadar, kalimat kecil ini perlahan menjadi pola yang terus berulang.
Dan yang menarik, sering yang ditunda bukan hanya aktivitasnya.
Baca Juga: Semakin Banyak yang Dibuka, Kenapa Kita Semakin Tidak Percaya?
Ketika Menunda Menjadi Kebiasaan yang Tidak Terasa
Dalam banyak situasi, menunda terlihat seperti hal yang normal. Apalagi ketika yang ditunda bukan sesuatu yang mendesak. Dari sini, “nanti saja” terasa seperti keputusan kecil yang tidak akan memberi dampak besar.
Contoh paling sederhana bisa dilihat dari kebiasaan tidur. Banyak orang tahu tubuhnya lelah, tapi tetap memilih scrolling beberapa menit lagi sebelum tidur. Awalnya hanya sebentar, lalu berubah menjadi satu jam tanpa terasa.
Hal serupa juga terjadi pada kebiasaan lain. Ingin mulai olahraga, ingin membaca buku, atau ingin memperbaiki pola hidup, tapi semuanya terus bergeser ke waktu yang belum jelas.
Psikolog Tim Pychyl, yang banyak meneliti tentang procrastination, menjelaskan bahwa menunda sering bukan soal malas. Menurutnya, banyak orang menunda karena ingin menghindari rasa tidak nyaman dalam jangka pendek.
“Procrastination is an emotion regulation problem, not a time management problem.” — Tim Pychyl
Artinya, ketika seseorang berkata “nanti saja”, sering yang sedang dihindari bukan aktivitasnya. Tapi rasa berat, malas, lelah, atau ketidaknyamanan yang muncul ketika harus memulai. Masalahnya, rasa tidak nyaman itu jarang benar-benar hilang. Ia hanya dipindahkan ke waktu lain.
Baca Juga: Monas dan DPR, Ketika Perjuangan Buruh Berjalan di Dua Arah
Yang Ditunda Kadang Bukan Pekerjaan, Tapi Diri Sendiri
Hal yang lebih menarik adalah banyak penundaan terjadi pada hal-hal yang sebenarnya berkaitan langsung dengan diri sendiri. Istirahat ditunda, kesehatan ditunda, bahkan kebahagiaan kecil pun sering ikut ditunda.
Ada orang yang terus bekerja tanpa jeda karena merasa belum waktunya beristirahat. Ada juga yang terus menunggu waktu ‘lebih longgar’ untuk mulai hidup lebih sehat, padahal waktu itu tidak pernah benar-benar datang.
Dalam kehidupan modern, produktivitas sering terasa lebih penting daripada jeda. Dari sini, banyak orang merasa bersalah ketika berhenti sejenak.
Dr. Brené Brown pernah menjelaskan bahwa manusia modern sering mengaitkan nilai dirinya dengan seberapa banyak yang berhasil dilakukan. Ketika terlalu sibuk mengejar sesuatu, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan dirinya sendiri.
Fenomena ini membuat penundaan terasa semakin kompleks. Karena yang ditunda bukan lagi sekadar aktivitas kecil, tapi perhatian terhadap diri sendiri. Di titik tertentu, seseorang bisa terlihat sangat sibuk, tapi terus menunda hal-hal yang sebenarnya paling penting untuk dirinya.
Baca Juga: Loneliness Epidemic: Kita Tidak Sendiri, Tapi Kenapa Tetap Merasa Sendiri?
Menunggu Waktu yang Tepat yang Tidak Pernah Datang
Banyak orang percaya bahwa mereka akan mulai ketika waktunya tepat. Ketika pekerjaan lebih ringan, ketika kondisi lebih stabil, atau ketika motivasi terasa lebih besar. Padahal, dalam banyak kasus, waktu yang benar-benar ideal hampir tidak pernah datang.
Contoh nyatanya terlihat pada kebiasaan sederhana seperti memulai olahraga ringan. Banyak orang merasa harus punya waktu kosong, perlengkapan lengkap, atau energi penuh untuk mulai. Akhirnya, rencana itu terus tertunda karena standar awalnya terlalu besar.
James Clear dalam Atomic Habits menjelaskan bahwa perubahan besar lebih sering dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Bukan dari motivasi besar yang datang sesekali.
“You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.” — James Clear
Masalahnya, saya melihat, banyak orang terlalu fokus pada momen besar untuk memulai. Padahal, hidup sering berubah lewat keputusan kecil yang dilakukan sekarang, bukan nanti. “Nanti saja” perlahan jadi jebakan yang terasa nyaman. Ia tidak terlihat berbahaya, tapi diam-diam membuat banyak hal terus tertunda tanpa arah yang jelas.
Mungkin tidak semua penundaan itu buruk. Come on. Ada hal-hal yang memang perlu waktu, perlu dipikirkan, dan tidak harus dilakukan terburu-buru.
Namun, akui saja, ada juga penundaan yang sebenarnya hanya membuat kita semakin jauh dari apa yang ingin dijalani. Karena bisa jadi, yang selama ini ditunda bukan hanya olahraga, bukan hanya tidur lebih awal, atau bukan hanya membalas pesan seseorang.
Tapi hidup yang sebenarnya sudah lama ingin mulai dijalani. Anda punya pendapat lain? []

Adrian Damar/KK