Beberapa tahun terakhir, dunia seperti bergerak ke arah yang lebih terbuka. Dokumen-dokumen yang dulu tersembunyi mulai muncul ke publik, dan informasi yang sebelumnya sulit diakses kini bisa ditemukan dengan lebih mudah.
Kasus seperti Epstein Files, Wikileaks, hingga berbagai kebocoran data global menjadi bukti bahwa batas antara yang tersembunyi dan yang diketahui semakin tipis. Secara teori, ini seharusnya menjadi perkembangan yang positif. Semakin banyak yang dibuka, semakin dekat publik pada kebenaran.
Namun, yang terjadi justru terasa berbeda. Alih-alih membuat publik lebih percaya, keterbukaan ini sering memunculkan pertanyaan baru. Bahkan dalam banyak situasi, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin besar pula rasa curiga yang muncul. Transparansi tak lagi langsung berarti kejelasan.
Baca Juga: Kita Cepat Sekali Menghakimi, Tapi Lambat Memahami
Ketika Informasi Dibuka, Tapi Tidak Sepenuhnya Terasa Utuh
Salah satu hal yang berubah adalah cara publik memaknai keterbukaan. Dulu, informasi yang muncul cenderung terbatas dan melewati proses yang panjang. Apa yang disampaikan terasa lebih terstruktur dan lebih mudah dipercaya.
Sekarang, informasi datang dalam jumlah besar, dengan kecepatan yang sulit diikuti. Dokumen bisa dibuka, tapi tidak selalu disertai konteks yang lengkap. Potongan informasi beredar tanpa narasi yang utuh, dan publik harus menyusunnya sendiri.
Dalam kasus seperti Epstein Files atau Wikileaks, publik tidak hanya melihat apa yang dibuka. Mereka juga mulai mempertanyakan apa yang tidak dibuka. Apakah semua sudah disampaikan, atau masih ada bagian yang sengaja ditahan.
Julian Assange, pendiri Wikileaks, pernah mengatakan, “If wars can be started by lies, peace can be started by truth.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya keterbukaan. Namun dalam praktiknya, kebenaran yang dibuka tanpa konteks justru tidak selalu membawa kejelasan.
Dari sini, rasa percaya tidak hanya bergantung kepada jumlah informasi. Tapi pada apakah informasi itu terasa lengkap dan dapat dipahami.
Baca Juga: Monas dan DPR, Ketika Perjuangan Buruh Berjalan di Dua Arah
Antara Transparansi dan Cara Publik Membacanya
Masalahnya mungkin bukan pada transparansi itu sendiri. Tapi pada bagaimana transparansi tersebut hadir di hadapan publik. Informasi yang terlalu banyak, tanpa struktur yang jelas, sering kali justru menciptakan kebingungan.
Dalam komunikasi, kejelasan tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tapi juga oleh cara pesan itu disusun. Tanpa konteks, tanpa alur, dan tanpa penjelasan yang memadai, informasi kehilangan arah.
Saya melihat, di sinilah jarak mulai terbentuk. Bukan karena publik menolak fakta, tapi karena cara fakta itu hadir tidak memberi pegangan yang cukup untuk dipahami.
Lingkungan digital memperkuat kondisi ini. Informasi tersebar cepat, opini muncul lebih dulu, dan klarifikasi sering datang terlambat. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya menerima informasi, tapi juga mengisi celah dengan asumsi mereka sendiri.
Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus di dalam negeri. Mulai dari kebocoran data publik hingga kasus hukum besar yang berkembang di ruang media, publik sering mendapatkan potongan informasi yang berbeda-beda dari berbagai sumber.
Dalam beberapa kasus, narasi yang muncul tidak selalu konsisten. Ada versi yang berubah, ada penjelasan yang datang bertahap, dan ada bagian yang terasa tidak pernah benar-benar dijelaskan. Dari sini, yang muncul bukan hanya pertanyaan tentang kasusnya, tapi juga tentang kejelasan informasi itu sendiri.
Baca Juga: Satu Kalimat Bisa Menenangkan, Tapi Juga Bisa Memperkeruh Segalanya
Ketika Mengetahui Tidak Lagi Berarti Memahami
Ada satu perubahan yang terasa cukup mendasar. Mengetahui sesuatu tidak lagi otomatis berarti memahami.
Dokumen bisa dibuka, data bisa tersedia, tapi tanpa konteks yang cukup, semua itu tidak selalu membentuk pemahaman yang utuh. Bahkan dalam beberapa situasi, semakin banyak yang diketahui, semakin sulit untuk melihat gambaran besarnya.
Yuval Noah Harari pernah mengatakan bahwa di era informasi, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan data, tapi kemampuan untuk memahami dan menyaringnya. Ketika informasi terlalu banyak, manusia justru lebih mudah kehilangan arah.
Kepercayaan tidak hanya dibangun darapa yang disampaikan. Tapi dari apakah informasi tersebut membantu publik merasa mengerti. Karena yang dicari bukan hanya fakta. Tapi makna dari fakta tersebut.
Mungkin inilah yang membuat situasi hari ini terasa berbeda. Kita hidup di era di mana keterbukaan semakin luas, tapi rasa percaya tidak selalu ikut tumbuh. Bukan karena tidak ada yang dibuka. Tapi karena apa yang dibuka belum tentu membuat semuanya terasa jelas.
Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya apa yang sudah diketahui. Tapi apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lihat? []
Eva Evilia/KK