Oleh Liora Maheswari
Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan di grup WhatsApp keluarga. Isinya kabar tentang sebuah peristiwa yang baru saja terjadi.
Belum sempat saya membaca seluruh isi pesannya, anggota grup yang lain sudah mulai meneruskannya ke grup yang berbeda. Tak lama kemudian, ada yang bertanya apakah kabar tersebut benar. Ada pula yang mengirimkan tautan berita dari media yang isinya sedikit berbeda dengan pesan pertama.
Pemandangan seperti itu rasanya semakin akrab dalam kehidupan kita.
Begitu mendengar sesuatu, dorongan pertama yang muncul seringkali bukan memeriksa kebenarannya, melainkan membagikannya kepada orang lain. Ada kepuasan kecil ketika kita menjadi orang pertama yang membawa sebuah kabar. Seolah-olah, semakin cepat kita menyampaikan informasi, semakin besar pula nilai yang kita miliki di hadapan orang lain.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu ingin menjadi orang pertama yang mengabarkan sesuatu? Bukankah yang lebih penting adalah memastikan kabar itu benar?
Baca Juga: Mengapa Kita Baru Mengingat Atlet Ketika Mereka Menang?
Cepat Menjadi Mata Uang Baru
Perubahan cara kita memperoleh informasi ikut mengubah cara kita memperlakukan informasi itu sendiri.
Dulu, kabar datang melalui surat kabar, radio, atau siaran televisi yang memiliki jeda waktu. Ada proses peliputan, verifikasi, penyuntingan, lalu penyiaran. Hari ini, informasi bergerak hampir tanpa jeda. Sebuah video dapat menyebar ke jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Satu unggahan media sosial bisa menjadi bahan pembicaraan nasional sebelum media arus utama selesai melakukan konfirmasi.
Kecepatan membawa banyak manfaat. Kita dapat mengetahui bencana lebih cepat, memperoleh informasi penting dalam waktu singkat, dan saling membantu ketika terjadi keadaan darurat. Tetapi kecepatan juga menghadirkan godaan baru. Kita mulai merasa bahwa jadi yang pertama lebih penting daripada menjadi yang paling akurat.
Dorongan itu bukan hanya dimiliki oleh media atau kreator konten. Kita pun mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mendengar kabar tentang teman, tetangga, artis, pejabat, atau peristiwa yang sedang ramai, tangan kita sering kali lebih cepat menekan tombol forward daripada bertanya, "Apakah informasi ini sudah benar?"
Baca Juga: Mengapa Kita Semakin Sulit Benar-Benar Beristirahat?
Ada Perasaan Ingin Jadi Orang yang Tahu Lebih Dulu
Psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dan dianggap bernilai oleh lingkungannya. Salah satu cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan itu adalah menjadi pembawa informasi.
Orang yang pertama kali membawa kabar sering dianggap lebih tahu. Ia menjadi pusat perhatian, meski hanya sesaat. Di era media sosial, perasaan itu bahkan diperkuat oleh berbagai bentuk apresiasi digital. Unggahan yang cepat memperoleh lebih banyak perhatian. Akun yang lebih dahulu mengabarkan sebuah peristiwa sering dianggap lebih mengikuti perkembangan.
Tanpa disadari, informasi berubah menjadi semacam perlombaan. Masalahnya, perlombaan semacam ini tidak selalu memberi hadiah kepada mereka yang paling teliti. Seringkali, justru mereka yang paling cepat memperoleh perhatian lebih dulu.
Akibatnya, proses memeriksa sumber, mencari konteks, atau menunggu penjelasan tambahan terasa seperti sesuatu yang memperlambat langkah. Padahal dalam banyak situasi, jeda itulah yang membedakan informasi dengan rumor.
Barangkali kita pernah mengalami sendiri. Sebuah kabar beredar begitu cepat, lalu beberapa jam kemudian muncul klarifikasi bahwa sebagian isinya keliru. Ada foto yang ternyata diambil bertahun-tahun sebelumnya. Ada video yang dipotong sehingga maknanya berubah. Ada kutipan yang ternyata tidak pernah benar-benar diucapkan oleh orang yang disebut-sebut.
Sayangnya, klarifikasi hampir selalu berjalan lebih lambat daripada kabar pertama.
Baca Juga: Benarkah Kita Mengenal Tetangga Kita?
Yang Kita Butuhkan Mungkin Bukan Informasi Lebih Banyak
Saya tidak berpikir persoalannya terletak pada teknologi. Teknologi hanya mempercepat sesuatu yang memang sudah ada dalam diri manusia. Sejak dulu, orang senang bercerita. Sejak dulu pula kabar berpindah dari satu orang ke orang lain. Yang berubah adalah kecepatannya.
Hari ini, satu kesalahan dapat menyebar ke ribuan orang sebelum sempat diperbaiki. Satu dugaan dapat membentuk opini sebelum fakta-fakta lengkap tersedia. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan paling berharga mungkin bukan lagi kemampuan memperoleh informasi paling cepat.
Kemampuan yang semakin penting justru kesediaan untuk berhenti sejenak. Berhenti sebelum membagikan, sebelum menyimpulkan, sebelum ikut memperpanjang sebuah cerita yang belum tentu benar.
Saya sering membayangkan bagaimana jika setiap orang memberi jeda beberapa menit sebelum meneruskan sebuah kabar. Mungkin tidak semua informasi palsu akan berhenti. Namun setidaknya kita memberi kesempatan kepada akal sehat untuk bekerja lebih dulu daripada dorongan sesaat.
Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, jeda sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, dalam urusan informasi, jeda bisa menjadi bentuk tanggung jawab.
Kita memang tidak selalu bisa jadi orang yang pertama mengetahui sesuatu. Kita juga tidak harus jadi orang yang pertama menyampaikan semuanya kepada orang lain. Barangkali yang lebih kita perlukan adalah jadi orang yang dapat dipercaya ketika menyampaikan sebuah kabar.
Karena perhatian yang datang akibat menjadi yang tercepat biasanya hanya bertahan sebentar. Sebaliknya, kepercayaan dibangun jauh lebih lama. Ia tumbuh setiap kali orang lain merasa bahwa apa yang kita sampaikan telah melewati kehati-hatian, bukan sekadar keinginan untuk menjadi yang pertama.
Mungkin itulah yang mulai terasa langka hari ini. Bukan informasi, melainkan kesabaran untuk memastikan bahwa informasi yang kita bagikan memang layak dipercaya. Dan jika kita harus memilih antara menjadi orang yang paling cepat atau menjadi orang yang paling dapat dipercaya, saya rasa pilihan kedua akan memberi manfaat yang jauh lebih panjang, bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang menerima setiap kabar dari kita. []
Bandung 12 Juli 2026