Oleh Liora Maheswari 

Ada kasus yang membuat orang terkejut bukan hanya karena peristiwanya, tetapi karena tempatnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kabar penyekapan di Bandung ramai dibicarakan, banyak orang mungkin langsung bertanya tentang pelaku, korban, dan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Namun, setelah rasa kaget pertama mereda, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah mengganggu. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu serius bisa berlangsung di sebuah lingkungan tanpa segera diketahui orang-orang di sekitarnya?

Pertanyaan itu perlu diajukan dengan hati-hati. Tulisan ini tidak sedang menyalahkan tetangga, warga sekitar, atau siapa pun yang mungkin tidak mengetahui apa yang terjadi. Banyak peristiwa buruk memang berlangsung di ruang tertutup, disembunyikan dengan rapi, dan tidak selalu meninggalkan tanda yang mudah dibaca oleh orang luar.

Namun, pertanyaan itu tetap penting untuk direnungkan. Sebab ia membawa kita pada hal yang lebih luas daripada satu kasus. Ia membuat kita bertanya tentang kehidupan bertetangga hari ini, terutama di kota-kota yang semakin sibuk, semakin tertutup, dan semakin membuat orang menjaga jarak satu sama lain.

Baca Juga: Apa yang Hilang Ketika Semua Hal Harus Jadi Konten? 

Kita Tinggal Berdekatan, Tapi Tidak Selalu Hidup Berdekatan

Dulu, kehidupan bertetangga seringkali terbentuk karena orang saling melihat dalam kegiatan sehari-hari. Orang menyapu halaman pada pagi hari, duduk di teras pada sore hari, atau saling menyapa ketika lewat di depan rumah. Dari hal-hal kecil seperti itu, orang perlahan mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumahnya.

Hari ini, cara hidup banyak orang berubah. Banyak rumah berpagar tinggi, banyak penghuni langsung masuk ke dalam rumah setelah pulang kerja, dan banyak orang lebih sering bertemu tetangganya di grup pesan singkat daripada dalam percakapan langsung. Di apartemen, rumah kontrakan, atau perumahan padat, seseorang bisa tinggal bertahun-tahun di satu tempat tanpa benar-benar mengenal orang yang tinggal hanya beberapa meter darinya.

Perubahan itu tidak selalu lahir dari ketidakpedulian. Kadang orang memang lelah setelah bekerja seharian. Kadang orang merasa sungkan untuk bertanya terlalu jauh. Kadang pula kita takut dianggap mencampuri urusan orang lain jika terlalu memperhatikan kehidupan tetangga.

Masalahnya, jarak yang awalnya dibuat untuk menghormati privasi bisa perlahan berubah menjadi jarak sosial yang terlalu lebar. Kita tak lagi tahu siapa yang jarang keluar rumah karena memang nyaman di dalam, siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang mengalami tekanan, atau siapa yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Banyak hal yang dulu mungkin cepat terlihat oleh lingkungan, hari ini bisa lebih mudah tersembunyi di balik pintu yang selalu tertutup.

Kita juga pernah melihat contoh lain yang membuat masyarakat bertanya tentang hal serupa. Dalam sejumlah kasus ekstrem, pelaku kekerasan, teror, atau tindakan berbahaya sering disebut tampak biasa di mata lingkungan sekitarnya. Mereka bisa terlihat sebagai orang yang tinggal, bekerja, beribadah, atau berlalu-lalang seperti warga lain, sampai suatu peristiwa besar membuat orang baru menyadari bahwa ada sisi kehidupan yang selama ini tidak terlihat.

Kasus bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar Bandung pada 2022, misalnya, sempat membuat publik kembali membicarakan soal bagaimana seseorang dapat hidup di tengah lingkungan sosial sambil membawa niat yang sangat berbahaya. Polisi ketika itu menyebut pelaku terafiliasi dengan jaringan ekstremis, dan peristiwa tersebut menewaskan pelaku serta satu anggota polisi, sekaligus melukai sejumlah orang lain. Peristiwa seperti itu bukan alasan untuk mencurigai tetangga sendiri secara berlebihan, tetapi menjadi pengingat bahwa kehidupan yang tampak biasa dari luar tidak selalu berarti sepenuhnya kita pahami.

Baca Juga: Apa yang Membuat Sebuah Generasi Diingat?

Antara Peduli dan Mencampuri Urusan Orang

Di titik ini, batasnya memang tidak selalu mudah. Kita tidak ingin kembali pada kebiasaan mengawasi kehidupan orang lain secara berlebihan. Tidak ada orang yang nyaman hidup di lingkungan yang setiap geraknya dibicarakan, setiap tamunya dicurigai, dan setiap pilihannya dijadikan bahan komentar.

Namun, peduli tidak sama dengan mencampuri urusan orang. Peduli bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengenali siapa yang tinggal di sekitar rumah, menyapa ketika bertemu, atau cukup peka ketika ada sesuatu yang tampak tidak biasa. Peduli juga bisa berarti berani bertanya dengan cara yang sopan ketika mendengar suara kekerasan, melihat anak yang tampak terus-menerus ketakutan, atau menyadari ada penghuni yang lama tidak terlihat.

Kehidupan bertetangga yang sehat mungkin memang membutuhkan keseimbangan. Kita perlu menghormati privasi orang lain, tetapi tidak sampai kehilangan kepekaan. Kita perlu memberi ruang bagi setiap orang untuk hidup tenang, tetapi juga tidak menutup mata ketika ada tanda-tanda bahaya di sekitar kita.

Dalam banyak kasus, masyarakat tidak gagal karena tidak punya rasa peduli. Kadang masyarakat gagal membaca keadaan karena hubungan sosialnya sudah terlalu tipis. Orang bisa tinggal sangat dekat secara fisik, tetapi terlalu jauh secara emosional untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan baik.

Mungkin inilah tantangan kehidupan kota hari ini. Kita membangun rumah yang lebih nyaman, tetapi sering kali dengan pintu yang lebih tertutup. Kita punya lebih banyak cara untuk berkomunikasi, tetapi belum tentu lebih mengenal orang-orang yang hidup di sekitar kita.

Karena itu, pertanyaan “benarkah kita mengenal tetangga kita?” tidak perlu dijawab dengan rasa bersalah. Pertanyaan itu lebih baik dijadikan pengingat kecil tentang cara kita hidup bersama. Sebab lingkungan yang aman tidak hanya dibangun oleh pagar, kamera pengawas, atau laporan resmi, tetapi juga oleh hubungan sosial yang cukup hangat untuk membuat orang saling memperhatikan.

Kita tidak perlu mengetahui seluruh isi hidup tetangga. Kita juga tidak perlu menjadi orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Namun mungkin kita perlu mengenal mereka sedikit lebih baik daripada sekadar tahu warna pagar rumahnya, jenis kendaraannya, atau suara pintunya ketika ditutup pada malam hari.

Sebab kadang-kadang, yang membuat sebuah lingkungan menjadi aman bukan karena semua orang saling mengawasi. Yang membuatnya lebih aman adalah karena masih ada cukup banyak orang yang bersedia saling menyadari keberadaan satu sama lain. []

Bandung, 23 Juni 2026