Oleh Liora Maheswari

Ada satu pertanyaan sederhana yang belakangan ini sering muncul di kepala saya. Kapan terakhir kali kita benar-benar beristirahat?

Saya tidak sedang bertanya tentang liburan ke luar kota atau cuti panjang. Saya juga tidak sedang berbicara tentang tidur delapan jam setiap malam. Yang saya maksud jauh lebih sederhana dari itu. Kapan terakhir kali kita menjalani satu hari tanpa merasa harus memikirkan pekerjaan, membalas pesan, membuka email, atau sekadar mengecek notifikasi karena takut ada sesuatu yang terlewat?

Entah sejak kapan, beristirahat jadi sesuatu yang terasa sulit dilakukan dengan utuh. Tubuh kita mungkin sudah berada di rumah. Laptop sudah ditutup. Jam kerja sudah selesai. Namun, pikiran kita masih berkeliling ke banyak tempat. Ada pesan dari grup kantor yang belum dibalas. Ada email yang baru masuk. Ada tugas yang harus diselesaikan besok pagi. Bahkan ketika semua itu sebenarnya bisa menunggu, kita sering merasa tidak benar-benar bisa melepaskannya.

Barangkali, kita tidak sedang kekurangan waktu untuk beristirahat. Kita sedang kehilangan kemampuan untuk benar-benar berhenti.

Baca Juga: Benarkah Kita Mengenal Tetangga Kita? 

Dunia yang Selalu Terhubung Tidak Mengenal Kata Selesai

Teknologi membuat hidup kita jauh lebih mudah dalam banyak hal. Kita bisa bekerja dari mana saja, mengirim dokumen dalam hitungan detik, menghadiri rapat tanpa harus datang ke kantor, bahkan menyelesaikan banyak urusan hanya melalui telepon genggam.

Tetapi kita tahu, setiap kemudahan hampir selalu membawa konsekuensinya sendiri. Dulu, pulang dari kantor seringkali benar-benar berarti selesai bekerja. Telepon kantor tidak ikut masuk ke ruang keluarga. Rekan kerja tidak bisa menghubungi kita setiap saat. Jika ada pekerjaan yang belum selesai, besar kemungkinan pekerjaan itu memang menunggu sampai esok pagi. Hari ini, batas itu semakin kabur.

Sebuah notifikasi WhatsApp bisa datang saat makan malam. Email muncul menjelang tidur. Kalender digital mengingatkan rapat esok hari bahkan ketika kita sedang menikmati akhir pekan. Semua itu mungkin hanya membutuhkan beberapa menit perhatian. Masalahnya, perhatian manusia tidak bekerja seperti sakelar yang bisa dimatikan dan dinyalakan sesuka hati.

Begitu pikiran kembali masuk ke urusan pekerjaan, tubuh memang tetap duduk di sofa rumah. Tetapi ketenangan yang seharusnya hadir saat beristirahat perlahan ikut menghilang.

Baca Juga: Apa yang Hilang Ketika Semua Hal Harus Jadi Konten? 

Kita Mulai Merasa Bersalah Ketika Tidak Produktif

Saya juga melihat perubahan lain yang menarik. Sekarang, banyak orang merasa harus selalu melakukan sesuatu.

Kalau sedang tidak bekerja, kita merasa perlu belajar. Kalau tidak belajar, kita merasa perlu membaca. Kalau tidak membaca, kita merasa perlu mengikuti webinar. Kalau tidak mengikuti webinar, kita merasa setidaknya harus membuka media sosial untuk mencari informasi yang mungkin berguna.

Seolah-olah setiap waktu luang harus menghasilkan sesuatu. Padahal, tidak semua waktu harus produktif.

Ada waktu yang memang seharusnya dibiarkan kosong. Ada sore yang tidak perlu diisi dengan target. Ada malam yang tidak perlu dipenuhi daftar pekerjaan baru. Ada akhir pekan yang tidak harus selalu menjadi kesempatan untuk mengejar ketertinggalan selama lima hari sebelumnya.

Ironisnya, justru ketika kita terus memaksa diri untuk produktif, kemampuan kita menikmati waktu senggang semakin berkurang. Istirahat perlahan berubah menjadi aktivitas yang harus dijadwalkan. Bahkan ketika jadwal itu tiba, kita masih sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan setelah selesai beristirahat.

Baca Juga: Apa yang Membuat Sebuah Generasi Diingat?

Beristirahat Bukan Kemewahan

Mungkin kita perlu mengubah cara memandang istirahat. Sering kita menganggap istirahat sebagai hadiah setelah bekerja keras. Padahal tubuh dan pikiran memerlukan istirahat bukan karena kita berhasil menyelesaikan semua pekerjaan, melainkan karena memang begitulah cara manusia bekerja.

Tak ada mesin yang dapat terus menyala tanpa henti. Apalagi manusia. Banyak penelitian tentang kesehatan mental menunjukkan bahwa waktu istirahat yang cukup membantu menjaga konsentrasi, kualitas pengambilan keputusan, serta kesehatan emosional. Orang yang memiliki kesempatan memulihkan diri justru cenderung mampu bekerja lebih baik dibandingkan mereka yang terus memaksa diri tanpa jeda.

Akan tetapi, budaya hari ini sering memberi pesan yang berbeda. Kita mengagumi orang yang selalu sibuk. Kita memuji mereka yang bekerja sampai larut malam. Kita menganggap jadwal yang penuh sebagai tanda keberhasilan. Tanpa sadar, kita mulai percaya bahwa semakin lelah seseorang, semakin besar pula nilai dirinya.

Padahal kelelahan bukanlah penghargaan. Ia adalah sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian.

Baca Juga: Pekerjaan yang Aman [Mungkin] Sudah Tidak Ada 

Mungkin Kita Perlu Belajar Berhenti

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pekerjaan tidak penting. Saya juga memahami bahwa banyak orang bekerja keras bukan karena ingin terlihat sibuk, tetapi karena memang memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi.

Namun, mungkin ada satu hal kecil yang perlu kita pelajari kembali.Bahwa berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Menutup laptop pada waktunya bukan berarti tidak profesional. Tidak langsung membalas pesan kerja pada malam hari bukan berarti tidak peduli.

Meluangkan waktu bersama keluarga tanpa terus-menerus melihat layar ponsel bukan berarti kita kehilangan kesempatan. Barangkali, justru di saat-saat seperti itulah kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa hidup tidak hanya terdiri dari pekerjaan.

Ada percakapan yang layak didengarkan tanpa terganggu notifikasi. Ada makan malam yang lebih nikmat ketika ponsel tidak terus berada di tangan. Ada anak yang mungkin hanya ingin didengar cerita sekolahnya. Ada pasangan yang ingin berbincang tanpa kita sesekali melirik layar. Ada diri kita sendiri yang sesungguhnya sudah lama meminta waktu untuk diam.

Mungkin kita memang tidak bisa mematikan dunia yang terus bergerak dua puluh empat jam sehari. Teknologi akan terus berkembang. Pekerjaan akan selalu datang silih berganti. Notifikasi mungkin tidak akan pernah benar-benar berhenti.

Namun kita masih memiliki satu pilihan yang tidak bisa diambil oleh siapapun selain diri kita sendiri. Pilihan untuk sesekali mengatakan bahwa hari ini cukup sampai di sini.

Karena, beristirahat bukan berarti kita berhenti menjadi orang yang bertanggung jawab. Beristirahat adalah cara kita menjaga agar esok hari masih memiliki tenaga, perhatian, dan hati yang utuh untuk menjalani kehidupan. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus meminta kita bergerak lebih cepat, kemampuan untuk benar-benar beristirahat justru menjadi salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana. []

Bandung, 5 Juli 2026