Oleh Liora Maheswari
Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah kabar yang membanggakan. Desak Made Rita Kusuma Dewi kembali mengharumkan nama Indonesia setelah menjadi yang tercepat pada nomor women's speed dalam ajang IFSC World Cup Krakow 2026 di Polandia. Di kompetisi yang sama, bersama Antasyafi Robby, ia juga mempersembahkan medali perak pada nomor mixed speed relay.
Media sosial segera dipenuhi ucapan selamat. Foto-fotonya beredar di berbagai platform. Nama Desak kembali menjadi perbincangan. Tak lama kemudian, muncul potongan wawancara ketika ia menyampaikan bahwa dukungan yang diterimanya sebagai atlet masih belum seperti yang diharapkan. Kalimat itu memicu diskusi yang tidak kalah ramai dibandingkan pemberitaan tentang medali emas yang baru saja ia raih.
Sebagian orang membela Desak. Sebagian lain merasa pernyataan itu kurang tepat disampaikan di tengah euforia kemenangan. Namun, setelah membaca berbagai tanggapan tersebut, saya justru teringat pada pertanyaan lain yang terasa lebih sederhana.
Mengapa kita baru mengingat seorang atlet ketika ia menang?
Baca Juga: Mengapa Kita Semakin Sulit Benar-Benar Beristirahat?
Podium Selalu Lebih Ramai daripada Tempat Latihan
Saya membayangkan perjalanan seorang atlet.
Mereka bangun ketika sebagian besar orang masih tidur. Mereka berlatih berjam-jam setiap hari. Mereka menjaga pola makan, mengatur waktu istirahat, menahan cedera, melewati kegagalan demi kegagalan, lalu kembali mengulang latihan yang sama keesokan harinya. Semua itu berlangsung bertahun-tahun.
Tetapi, selama proses tersebut berjalan, berapa banyak dari kita yang benar-benar mengikuti perjalanan mereka? Kita jarang mengetahui jadwal pertandingan mereka. Kita tidak hafal kompetisi yang mereka ikuti. Kita tidak tahu kapan mereka gagal, kapan mereka cedera, atau kapan mereka hampir menyerah.
Baru saat lagu “Indonesia Raya” berkumandang di podium, perhatian itu datang beramai-ramai. Mungkin memang begitulah cara perhatian bekerja. Ia sering tertarik kepada hasil, bukan proses.
Baca Juga: Benarkah Kita Mengenal Tetangga Kita?
Fenomena yang Berulang
Desak bukan atlet pertama yang mengalaminya. Beberapa tahun lalu, Lalu Muhammad Zohri mendadak dikenal seluruh Indonesia setelah jadi juara dunia atletik junior. Sebelumnya, tak banyak orang yang mengikuti perjalanan latihannya.
Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menjadi pembicaraan nasional setelah meraih emas Olimpiade Tokyo. Sebelum momen itu, bulu tangkis putri Indonesia tidak selalu memperoleh sorotan sebesar ketika mereka akhirnya berdiri di podium tertinggi.
Veddriq Leonardo, Eko Yuli Irawan, Windy Cantika Aisah, hingga banyak atlet dari cabang olahraga lain juga mengalami pola yang hampir sama. Nama mereka menjadi akrab di telinga masyarakat setelah prestasi besar berhasil diraih.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara, perhatian publik memang cenderung mengikuti kemenangan. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Mengapa perjalanan panjang yang melahirkan kemenangan sering tak memperoleh perhatian yang sama?
Baca Juga: Apa yang Hilang Ketika Semua Hal Harus Jadi Konten?
Kita Menyukai Kisah yang Sudah Selesai
Mungkin jawabannya ada pada cara manusia menikmati cerita. Kita menyukai akhir yang membahagiakan. Seorang atlet yang berdiri di podium menghadirkan rasa bangga yang mudah dirasakan. Ada medali, ada bendera, ada lagu kebangsaan, ada momen yang jelas untuk dirayakan.
Perjalanan menuju ke sana jauh lebih sunyi. Latihan setiap pagi tidak viral. Cedera tidak menjadi berita utama. Kekalahan di babak awal sering lewat begitu saja.
Padahal kemenangan yang kita rayakan hari ini sebenarnya dibangun oleh ribuan hari yang tidak pernah menjadi perhatian siapa pun. Ketika seorang atlet akhirnya berhasil, kita sering merasa baru mengenalnya. Padahal bisa jadi, ia telah mengabdikan belasan tahun hidupnya untuk olahraga yang sama.
Baca Juga: Apa yang Membuat Sebuah Generasi Diingat?
Perhatian yang Datang Terlambat
Saya tidak berpikir masyarakat sengaja mengabaikan atlet. Begitu pula pemerintah, sponsor, media, maupun dunia usaha. Masing-masing memiliki keterbatasan dan pertimbangannya sendiri.
Tetapi ada satu hal yang layak direnungkan bersama. Perhatian yang datang setelah kemenangan tentu tetap berarti. Ucapan selamat selalu menyenangkan. Apresiasi tetap penting. Dukungan setelah prestasi juga patut diberikan.
Meski begitu, apakah perhatian itu akan memiliki makna yang lebih besar jika sebagian darinya hadir jauh sebelum podium tercapai?
Mungkin yang dibutuhkan seorang atlet bukan hanya karangan bunga setelah menang. Mungkin yang juga mereka perlukan adalah keyakinan, sejak awal, bahwa perjuangan mereka memang dianggap penting. Karena tidak semua perjalanan akan berakhir dengan medali emas.
Namun, setiap atlet tetap menjalani latihan dengan kesungguhan yang sama.
Baca Juga: Budaya yang Masih Dipikul Anak Muda
Bukan Hanya Tentang Atlet
Semakin lama saya memikirkan hal ini, semakin saya merasa bahwa pola tersebut tidak hanya terjadi di dunia olahraga. Kita sering baru mengenal seorang penulis setelah bukunya jadi best seller. Kita memperhatikan seorang musisi setelah lagunya viral. Kita membicarakan seorang ilmuwan setelah penemuannya mendapat penghargaan.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lebih mudah memberi tepuk tangan kepada keberhasilan daripada menemani proses panjang yang melahirkannya. Padahal hampir semua pencapaian besar dibangun di tempat-tempat yang sepi.
Di ruang latihan, di meja belajar, di bengkel kerja, di laboratorium. Juga di ruang-ruang yang jarang disorot kamera. Mungkin memang lebih mudah merayakan hasil daripada menemani proses. Tetapi jika perhatian hanya datang ketika seseorang sudah berhasil, kita sedang melewatkan bagian yang paling manusiawi dari sebuah perjuangan.
Ketika Desak Made Rita Kusuma Dewi berbicara tentang dukungan yang menurutnya masih belum memadai, publik tentu bebas memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang setuju, ada pula yang tidak. Tapi sebelum kita sibuk memperdebatkan kalimat tersebut, mungkin ada baiknya kita mengajukan satu pertanyaan yang lebih tenang.
Selama ini, seberapa sering kita benar-benar hadir ketika para atlet masih berada jauh dari podium?
Karena, medali memang diraih dalam hitungan detik. Namun perjalanan menuju medali hampir selalu dibangun oleh tahun-tahun yang panjang, sunyi, dan sering kali luput dari perhatian kita. Mungkin, jika ada sesuatu yang perlu kita ubah sebagai masyarakat, bukan hanya cara kita merayakan kemenangan, melainkan juga kesediaan kita menghargai perjuangan jauh sebelum lagu kebangsaan diperdengarkan. []
Bandung, 8 Juli 2026