Oleh Adrian Damar
Ada satu nasihat yang selama bertahun-tahun diwariskan dari generasi ke generasi: Carilah pekerjaan yang aman.
Nasihat itu terdengar masuk akal. Orangtua menginginkan anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih stabil daripada yang mereka alami. Sekolah dan perguruan tinggi dibangun dengan keyakinan bahwa pendidikan akan membuka jalan menuju pekerjaan yang baik. Banyak orang memilih jurusan, mengejar sertifikasi, bahkan menentukan arah hidup berdasarkan harapan untuk memperoleh pekerjaan yang dianggap aman. Masalahnya, dunia yang melahirkan nasihat itu mungkin sudah tidak sama lagi.
Hari ini, berita tentang pemutusan hubungan kerja datang hampir setiap bulan. Perusahaan teknologi yang dulu dianggap masa depan melakukan efisiensi besar-besaran. Media yang pernah menjadi institusi berpengaruh satu per satu mengecil, bergabung, atau menutup operasinya. Berbagai profesi yang dulu terlihat stabil mulai menghadapi perubahan akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Situasi seperti itu membuat banyak orang bertanya-tanya. Jika perusahaan besar bisa melakukan PHK, jika industri mapan bisa terguncang, dan jika teknologi dapat mengubah cara kerja dalam waktu singkat, apakah pekerjaan yang aman masih benar-benar ada? Pertanyaan itu memang tidak nyaman. Namun mungkin justru karena tidak nyaman, ia layak dipikirkan.
Baca Juga: Ketika Diplomasi Kunjungan ke Luar Negeri Tak Berhasil Dikemas Jadi Cerita Publik
Dunia Kerja Sedang Berubah Lebih Cepat daripada yang Kita Bayangkan
Selama beberapa dekade, banyak orang membangun gambaran yang cukup sederhana tentang karier. Mereka belajar, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan, lalu bertahan di jalur yang relatif sama selama bertahun-tahun. Tidak semua orang mengalami perjalanan yang mulus, tetapi setidaknya ada peta yang cukup jelas untuk diikuti. Hari ini peta itu mulai terlihat kabur.
Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan sekitar 22 persen pekerjaan global akan mengalami perubahan signifikan hingga tahun 2030. Laporan yang sama juga memperkirakan akan ada jutaan pekerjaan yang hilang dan jutaan pekerjaan baru yang muncul akibat perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, transisi energi, dan berbagai faktor lainnya.
Data tersebut tidak berarti manusia akan kehabisan pekerjaan. Namun, data itu menunjukkan sesuatu yang lain. Dunia kerja tidak sedang diam.
Yang sering membuat banyak orang cemas bukan hanya ancaman kehilangan pekerjaan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakpastian. Banyak profesi yang hari ini terlihat menjanjikan belum tentu memiliki bentuk yang sama sepuluh tahun dari sekarang. Bahkan beberapa pekerjaan yang saat ini sedang tumbuh mungkin belum pernah ada sepuluh tahun yang lalu.
Fenomena itu membuat konsep keamanan menjadi semakin rumit. Dahulu seseorang merasa aman karena bekerja di perusahaan besar atau berada dalam industri tertentu. Hari ini ukuran itu tidak lagi selalu berlaku.
Perusahaan bisa berubah strategi. Industri bisa mengalami disrupsi. Teknologi bisa mengubah cara kerja. Kebijakan ekonomi global dapat memengaruhi pasar tenaga kerja di berbagai negara sekaligus. Dalam kondisi seperti itu, keamanan tidak lagi sesederhana memilih tempat bekerja yang dianggap paling stabil.
Boleh jadi itulah sebabnya banyak orang tetap merasa cemas meskipun sudah memiliki pekerjaan. Mereka bukan hanya khawatir kehilangan penghasilan. Mereka khawatir kehilangan kepastian.
Baca Juga: Bangsa Ini Gemar Mengganti Nama, Tapi Takut Mengubah Isinya
Salahkah Kita Mencari Keamanan?
Ada kemungkinan bahwa selama ini banyak orang mencari keamanan di tempat yang salah. Bukan karena pekerjaan tidak penting. Pekerjaan tetap menjadi sumber penghidupan yang sangat penting bagi sebagian besar orang. Namun ketika dunia berubah terlalu cepat, menggantungkan seluruh rasa aman pada satu pekerjaan atau satu perusahaan menjadi semakin berisiko.
Sejarah sebenarnya penuh dengan contoh seperti itu. Banyak perusahaan besar yang dulu dianggap tidak tergoyahkan kini tinggal menjadi catatan bisnis. Banyak profesi yang pernah berjaya kemudian mengecil karena perubahan teknologi dan perilaku masyarakat. Bahkan negara-negara dengan ekonomi kuat pun tidak kebal terhadap gelombang perubahan global.
Jika demikian, apa yang masih bisa dianggap aman? Mungkin jawabannya bukan pekerjaan. Mungkin yang lebih layak dibangun adalah kemampuan.
Kemampuan belajar. Kemampuan beradaptasi. Kemampuan berkomunikasi. Kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan memahami teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Kemampuan-kemampuan itu tidak terikat pada satu perusahaan. Ia tidak berhenti ketika sebuah industri mengalami penurunan. Ia bisa dibawa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu perubahan zaman ke perubahan berikutnya.
Hal yang sama berlaku untuk reputasi dan jaringan. Banyak peluang kerja hari ini lahir bukan semata-mata dari iklan lowongan pekerjaan, melainkan dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun. Orang cenderung mempercayai mereka yang memiliki rekam jejak baik, mampu bekerja sama, dan terus menunjukkan kemampuan untuk berkembang.
Mungkin karena itu, pertanyaan tentang pekerjaan yang aman perlu digeser sedikit. Alih-alih bertanya, "Pekerjaan apa yang paling aman?", mungkin pertanyaan yang lebih relevan hari ini adalah, "Bagaimana saya tetap bernilai ketika dunia terus berubah?" Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya besar.
Pertanyaan pertama membuat seseorang sibuk mencari perlindungan dari perubahan. Pertanyaan kedua mendorong seseorang mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan.
Tak ada jawaban yang benar-benar mudah untuk kondisi ekonomi dan dunia kerja hari ini. Banyak orang menghadapi tantangan yang nyata. Persaingan semakin ketat. Teknologi berkembang cepat. Biaya hidup meningkat. Ketidakpastian global terus bermunculan dari berbagai arah.
Namun, mungkin ada satu kenyataan yang perlu diterima dengan jujur. Dunia kerja modern tidak lagi menawarkan sebanyak dulu jaminan yang bersifat permanen. Dan mungkin itu bukan sepenuhnya kabar buruk.
Sebab ketika keamanan tak lagi bisa sepenuhnya dititipkan kepada perusahaan, jabatan, atau industri tertentu, manusia dipaksa kembali melihat sesuatu yang lebih mendasar. Mereka mulai bertanya tentang kemampuan apa yang perlu dibangun. Pengetahuan apa yang perlu dipelajari. Karakter seperti apa yang perlu diperkuat.
Selama bertahun-tahun, banyak orang mencari pekerjaan yang dapat menjamin masa depan. Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang merasa cemas hari ini. Bukan karena mereka gagal menemukan pekerjaan tersebut, melainkan karena pekerjaan seperti itu semakin sulit ditemukan.
Namun jika pekerjaan yang benar-benar aman memang semakin langka, bukan berarti masa depan harus terlihat suram. Bisa jadi itu hanya tanda bahwa keamanan sedang berpindah tempat.
Bukan lagi berada di perusahaan tempat kita bekerja. Melainkan pada kemampuan kita untuk terus belajar, beradaptasi, dan tetap memiliki nilai di tengah dunia yang tidak pernah berhenti berubah. []