Oleh Eva Evilia

Ada seorang teman yang sangat piawai berbicara di depan banyak orang. Ketika menjadi pembicara dalam sebuah seminar, ia mampu menjelaskan topik yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Ia tahu kapan harus bercanda, kapan harus serius, dan bagaimana membuat audiens tetap memperhatikan sampai acara selesai.

Suatu hari, ia diminta menulis artikel tentang materi yang baru saja ia sampaikan. Saya pikir itu akan menjadi pekerjaan yang mudah. Bukankah isinya sama? Ternyata tidak.

Beberapa hari kemudian, ia mengaku baru berhasil menulis dua halaman. Itu pun berkali-kali dihapus dan ditulis ulang karena merasa tidak puas. Ia bahkan berkata, "Kalau disuruh ngomong dua jam, saya sanggup. Tapi kalau disuruh nulis dua halaman, rasanya jauh lebih sulit."

Di sisi lain, saya juga mengenal seorang penulis yang mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang sangat jernih. Kalimat-kalimatnya mengalir, idenya runtut, dan pembacanya mudah mengikuti alur pikirannya. Tetapi ketika diminta berbicara di depan forum, ia justru terlihat gugup. Kalimatnya terputus-putus. Ide yang di atas kertas terasa begitu jelas, mendadak sulit keluar dari mulutnya.

Dulu saya mengira salah satu dari mereka hanya kurang latihan. Sekarang saya mulai berpikir bahwa mungkin memang cara mereka berpikir berbeda.

Baca Juga: Makan Bergizi Gratis: Saat Niat Baik Bertemu Kenyataan Rumit

Berbicara dan Menulis Menggunakan Jalan yang Tidak Sama

Sering kali kita menganggap komunikasi sebagai satu kemampuan yang utuh. Orang yang pandai berkomunikasi seolah seharusnya otomatis pandai berbicara, pandai menulis, pandai presentasi, dan pandai menjelaskan apa pun. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Berbicara dan menulis memang sama-sama menggunakan kata-kata, tetapi keduanya bekerja dengan cara yang berbeda. Ketika berbicara, kita berhadapan dengan manusia lain secara langsung. Kita bisa melihat ekspresi wajahnya, mendengar intonasi suaranya, menangkap kapan ia mulai bingung, dan segera mengubah cara menjelaskan jika diperlukan. Berbicara memberi ruang untuk spontanitas. Kalimat yang kurang tepat masih bisa diperbaiki pada kalimat berikutnya. Bahkan jeda, senyum, atau gerakan tangan sering kali ikut membantu menyampaikan makna.

Menulis tidak memiliki semua itu. Tulisan harus berdiri sendiri. Ia tidak bisa mengandalkan ekspresi wajah penulisnya. Ia tidak dapat menjelaskan ulang ketika pembaca salah memahami maksudnya. Karena itu, menulis menuntut ketelitian yang berbeda. Penulis perlu memilih kata dengan lebih hati-hati, menyusun logika dengan lebih rapi, dan membayangkan bagaimana pembaca akan memahami setiap kalimat tanpa kehadirannya.

Mungkin karena itulah banyak orang yang sangat nyaman berbicara justru merasa kesulitan ketika harus menulis. Sebaliknya, banyak penulis memilih diam lebih lama ketika diminta berbicara karena mereka terbiasa menyusun pikiran sebelum mengungkapkannya.

Baca Juga: Kita Semakin Cepat Menanggapi, Semakin Lambat Memahami 

Ada Orang yang Berpikir Sambil Berbicara

Semakin lama mengamati orang-orang di sekitar saya, semakin saya percaya bahwa manusia memiliki cara berpikir yang berbeda-beda. Ada orang yang baru menemukan idenya ketika mulai berbicara.

Mereka mungkin belum memiliki susunan kalimat yang benar-benar utuh di dalam kepala. Namun begitu percakapan dimulai, gagasan-gagasan itu muncul sedikit demi sedikit. Pertanyaan dari lawan bicara membantu mereka melihat sudut pandang baru. Respons yang mereka terima membuat pikirannya terus berkembang.

Mereka bukan sedang berbicara setelah selesai berpikir. Mereka justru sedang berpikir melalui pembicaraan itu sendiri.

Sebaliknya, ada orang yang membutuhkan keheningan sebelum berbicara. Mereka merasa perlu merapikan ide di dalam kepala lebih dahulu. Mereka lebih nyaman menuangkan gagasan melalui tulisan karena tulisan memberi kesempatan untuk berhenti, menghapus, memperbaiki, lalu menyusun kembali kalimat yang terasa belum tepat.

Bukan berarti salah satu lebih baik daripada yang lain. Mereka hanya menggunakan jalan yang berbeda untuk sampai pada tujuan yang sama.

Baca Juga: Dunia Terasa Semakin Buruk, Atau Kita Terlalu Sering Membaca Kabar Buruk?

Mengapa Kita Sering Membandingkannya?

Yang membuat saya heran, kita sering tanpa sadar membandingkan dua kemampuan yang sebenarnya berbeda. Kita mudah berkata, "Dia ‘kan pintar ngomong, masa nggak bisa nulis?" Atau sebaliknya, "Dia penulis, masa presentasi aja nggak lancar?" Padahal kita jarang berkata kepada seorang pelari maraton, "Kalau bisa lari jauh, pasti bisa berenang."

Kita memahami bahwa olahraga memiliki cabang yang berbeda. Anehnya, ketika berbicara tentang komunikasi, kita sering menganggap semua kemampuan itu sama.

Padahal seorang penyiar radio menghabiskan bertahun-tahun melatih intonasi, artikulasi, improvisasi, dan kemampuan membaca suasana. Seorang penulis melatih hal yang berbeda. Ia belajar menyusun argumen, membangun alur, memilih diksi, dan menjaga ritme tulisan agar pembaca tidak kehilangan arah.

Keduanya sama-sama membutuhkan latihan. Keduanya sama-sama menuntut ketekunan. Hanya saja, bentuk latihannya tidak sama.

Baca Juga: Korupsi: Harapan yang Terus Dicuri Secuil demi Secuil 

Komunikasi Tidak Selalu Berbentuk Suara

Mungkin inilah yang kadang terlupakan. Tujuan komunikasi bukanlah membuat semua orang pandai berbicara di depan publik atau menghasilkan tulisan yang indah. Tujuan komunikasi adalah membuat gagasan sampai kepada orang lain dengan cara yang paling utuh.

Ada orang yang mampu melakukannya melalui pidato. Ada yang melakukannya melalui buku. Ada yang lebih mudah menjelaskan sesuatu dalam percakapan empat mata daripada di atas panggung. Ada pula yang memilih menyampaikan pikirannya melalui artikel karena merasa itulah cara yang paling jujur.

Barangkali, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari kemampuan mana yang lebih hebat. Yang lebih penting adalah mengenali bagaimana pikiran kita bekerja.

Jika kita termasuk orang yang lebih mudah berpikir melalui percakapan, mungkin kita memang perlu lebih banyak berdiskusi. Jika kita merasa ide-ide justru menjadi jelas ketika mulai menulis, mungkin itulah cara terbaik bagi kita untuk menyampaikan sesuatu.

Mengenali cara berpikir sendiri bukan berarti berhenti belajar kemampuan yang lain. Justru dengan memahami kecenderungan itu, kita bisa berlatih tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

Karena mungkin persoalannya bukan kita tidak pandai berkomunikasi. Mungkin kita hanya sedang menggunakan jalan yang berbeda.

Dan bukankah di ujungnya, komunikasi bukan soal siapa yang paling fasih berbicara atau paling indah menulis? Komunikasi adalah tentang bagaimana sebuah pikiran menemukan jalannya menuju pikiran orang lain. Ada yang menempuh jalan itu melalui suara. Ada pula yang memilih melewatinya dengan tulisan. Selama pesannya sampai dengan jujur dan utuh, kedua jalan itu sama-sama berharga. []

Bandung, 6 Juli 2026