Oleh Rommy Rimbarawa
Belakangan ini, kita kembali diingatkan oleh serangkaian kabar yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Berbagai laporan dan kajian menyebutkan bahwa harimau Sumatra dan badak Sumatra menghadapi ancaman kepunahan yang semakin nyata.
Bersamaan dengan itu, muncul pula peringatan bahwa ribuan spesies di Indonesia kini berada dalam status terancam, menjadikan negeri yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia justru sedang menghadapi salah satu krisis ekologis terbesar dalam sejarahnya.
Berita seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Hampir setiap tahun kita mendengar kabar tentang satwa yang populasinya terus menurun, hutan yang semakin menyempit, atau habitat yang berubah menjadi kawasan permukiman dan industri. Anehnya, berita-berita itu seringkali hanya bertahan beberapa hari di ruang publik. Setelah itu, perhatian kita berpindah ke isu lain yang lebih ramai diperbincangkan.
Padahal, kepunahan tidak mengenal jeda. Ia terus berlangsung, bahkan ketika kita berhenti membicarakannya.
Mungkin karena itulah saya merasa ada yang perlu kita renungkan bersama. Yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya nasib harimau Sumatra atau badak Sumatra. Yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan kita sendiri. Sebab ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusialah yang pada akhirnya akan hidup dengan segala konsekuensinya.
Selama ini kita sering melihat satwa liar sebagai sesuatu yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Harimau ada di hutan. Badak hidup di kawasan konservasi. Orangutan berada di pulau lain. Seolah-olah kehidupan mereka tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan kita yang tinggal di kota, bekerja di kantor, atau menjalani rutinitas harian.
Padahal, hubungan itu jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan.
Baca Juga: Ketika Bertani Tak Lagi Menjanjikan, Masih Bisakah Kita Bicara Ketahanan Pangan?
Kepunahan Tidak Dimulai Saat Satwa Terakhir Mati
Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika membicarakan kepunahan. Kita menganggap kepunahan sebagai sebuah peristiwa. Seolah-olah ia terjadi pada hari ketika individu terakhir dari suatu spesies menghilang dari muka bumi.
Padahal, kepunahan adalah sebuah proses yang berlangsung sangat lama. Ia dimulai ketika hutan mulai dipotong sedikit demi sedikit. Ketika jalur jelajah satwa terpecah oleh jalan dan permukiman. Ketika perburuan dianggap sebagai persoalan kecil. Ketika kawasan konservasi semakin terisolasi. Ketika manusia terus mengambil lebih banyak ruang tanpa menyisakan ruang yang cukup bagi kehidupan lain.
Artinya, ketika hari ini kita membaca prediksi bahwa harimau atau badak Sumatra bisa punah beberapa dekade mendatang, sesungguhnya kita sedang membaca hasil dari keputusan-keputusan yang telah dibuat bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun sebelumnya.
Ironisnya, manusia hampir selalu bereaksi ketika kerusakan sudah berada di depan mata. Kita baru sibuk menghitung jumlah satwa yang tersisa ketika populasinya tinggal sedikit. Kita baru berbicara tentang penyelamatan ketika pilihan yang tersedia semakin sempit.
Barangkali memang begitulah sifat manusia. Kita seringkali baru menyadari nilai sesuatu ketika ia hampir hilang. Namun, alam tidak bekerja seperti itu.
Ekosistem tidak bisa dipulihkan hanya dengan rasa penyesalan. Hutan yang telah hilang membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk kembali menjalankan fungsi ekologisnya. Populasi satwa yang terlanjur runtuh tidak serta-merta pulih hanya karena perhatian publik sedang meningkat.
Lebih dari itu, hilangnya satu spesies hampir tidak pernah berhenti pada spesies itu sendiri. Alam adalah jaringan yang saling terhubung. Predator menjaga keseimbangan populasi mangsa. Tumbuhan bergantung pada satwa untuk membantu penyebaran biji. Serangga menyerbuki tanaman yang kemudian menjadi sumber pangan manusia. Ketika satu mata rantai melemah, mata rantai lain perlahan ikut terdampak.
Karena itu, membicarakan kepunahan sebenarnya bukan hanya membicarakan satwa. Kita sedang membicarakan kemampuan alam untuk terus menopang kehidupan manusia.
Baca Juga: Mengapa Kita Selalu Menghitung Isi Perut Bumi, tetapi Jarang Menghitung Isi Kehidupan di Atasnya?
Kita Tidak Mewarisi Alam dari Nenek Moyang, Kita Meminjamnya dari Anak Cucu
seringkali kita memandang konservasi sebagai urusan para peneliti, aktivis lingkungan, atau petugas taman nasional. Seolah-olah selama masih ada lembaga yang bekerja menjaga hutan, persoalan itu tidak berkaitan dengan kehidupan kita.
Pandangan seperti ini justru membuat kita lupa bahwa hampir seluruh kebutuhan dasar manusia berasal dari ekosistem yang sehat. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, tanah yang menghasilkan pangan, hingga kestabilan iklim yang memungkinkan kita hidup dengan nyaman, semuanya bergantung pada keseimbangan alam yang sama.
Ketika keanekaragaman hayati terus berkurang, yang melemah bukan hanya jumlah spesies. Ketahanan hidup kita sendiri ikut terkikis sedikit demi sedikit. Krisis pangan, berkurangnya sumber air bersih, meningkatnya risiko penyakit yang berasal dari perubahan ekosistem, hingga semakin seringnya bencana ekologis bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Semua saling berkaitan.
Karena itu, saya selalu merasa bahwa istilah ‘menyelamatkan satwa’ seringkali terdengar kurang tepat. Seolah-olah manusialah yang menjadi penyelamat utama. Padahal, dalam banyak hal, justru alam yang selama ini menyelamatkan manusia. Hutan menyerap karbon yang kita hasilkan. Mangrove melindungi pesisir dari abrasi. Hutan hujan menjaga siklus air yang menopang pertanian. Satwa liar menjaga keseimbangan yang memungkinkan semua proses itu terus berlangsung.
Mungkin yang perlu kita selamatkan bukan hanya harimau atau badak, tetapi juga cara kita memandang hubungan dengan alam.
Selama kita masih melihat alam semata sebagai sumber daya yang bisa terus diambil tanpa batas, ancaman kepunahan akan selalu kembali muncul dengan nama spesies yang berbeda. Hari ini harimau. Besok badak. Lusa mungkin satwa lain yang bahkan belum pernah kita kenal.
Lalu suatu hari nanti, yang kita hadapi bukan lagi daftar satwa yang hilang, melainkan daftar kebutuhan hidup yang semakin sulit dipenuhi.
Mungkin itulah sebabnya berita tentang ancaman kepunahan seharusnya tidak berhenti sebagai kabar tentang dunia satwa. Berita itu adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana kita memperlakukan rumah yang selama ini menopang kehidupan kita sendiri.
Sebab ketika harimau kehilangan hutannya, badak kehilangan habitatnya, dan ribuan spesies lain kehilangan tempat untuk bertahan hidup, sesungguhnya alam sedang menyampaikan satu pesan yang sangat sederhana kepada manusia.
Bumi tidak sedang meminta kita mengasihaninya. Bumi hanya sedang mengingatkan bahwa masa depan manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari masa depan seluruh kehidupan yang hidup bersamanya.
Dan mungkin, ancaman terbesar yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah kemungkinan bahwa harimau atau badak akan punah. Ancaman terbesar adalah ketika kita menganggap kepunahan mereka sebagai masalah yang hanya milik mereka, padahal yang perlahan ikut menghilang adalah fondasi kehidupan yang selama ini membuat kita tetap dapat menyebut bumi sebagai rumah. []
Bandung, 30 Juli 2026