Oleh Rommy Rimbarawa
Beberapa waktu terakhir, kita kembali melihat tambang menjadi perbincangan di berbagai ruang. Ada yang berbicara tentang hilirisasi nikel sebagai jalan menuju negara maju. Ada yang memperdebatkan aktivitas pertambangan di pulau-pulau kecil. Ada pula yang mempertanyakan bagaimana sebuah kawasan yang selama ini dikenal karena keindahan alamnya perlahan berubah menjadi wilayah eksploitasi.
Perdebatan itu hampir selalu bergerak ke arah yang sama. Berapa besar cadangan mineralnya? Berapa nilai investasinya? Berapa devisa yang akan dihasilkan? Berapa lapangan kerja yang tercipta?
Semua pertanyaan itu tentu saja penting. Tetapi setiap kali mengikuti diskusi tentang tambang, saya selalu merasa ada satu pertanyaan lain yang jarang benar-benar diajukan. Ketika kita menghitung isi perut bumi dengan begitu rinci, mengapa kita begitu jarang menghitung kehidupan yang sudah lebih dulu tumbuh di atasnya?
Barangkali karena kehidupan memang lebih sulit dihitung daripada mineral.
Baca Juga: Ketika Aturan Hanya Berlaku untuk Sebagian Orang
Angka Selalu Lebih Mudah Dibicarakan
Ketika pemerintah mengumumkan proyek pertambangan baru, data yang muncul hampir selalu berupa angka. Nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah. Produksi diproyeksikan mencapai jutaan ton. Ekspor diperkirakan meningkat. Kontribusi terhadap produk domestik bruto dihitung dengan berbagai model ekonomi.
Semua itu diperlukan. Sebuah negara memang harus mengetahui manfaat ekonomi dari sumber daya yang dimilikinya. Indonesia juga memiliki posisi yang sangat penting dalam peta pertambangan dunia. Cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 42 persen dari cadangan nikel global. Batu bara, tembaga, emas, bauksit, hingga timah juga menjadi komoditas strategis yang menopang ekspor nasional.
Sulit membayangkan Indonesia berbicara tentang hilirisasi industri, kendaraan listrik, atau transisi energi tanpa membahas tambang. Namun demikian, angka memiliki satu sifat yang unik. Ia mampu menjelaskan nilai ekonomi dengan sangat presisi, tetapi seringkali kesulitan menjelaskan nilai kehidupan.
Bagaimana cara menghitung harga sebuah mata air yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan satu kampung?
Bagaimana cara memberi angka pada hutan yang menjadi ruang hidup satwa liar sekaligus tempat masyarakat mencari penghidupan?
Bagaimana menghitung rasa kehilangan ketika sebuah bukit yang menjadi bagian dari masa kecil seseorang berubah menjadi lubang tambang?
Ekonomi memiliki caranya sendiri untuk mengukur manfaat. Sementara kehidupan seringkali tidak.
Baca Juga: Giorgiana Rosas dan Pesona Hidup yang Terlihat Utuh
Tambang Tidak Pernah Datang ke Tempat yang Kosong
Dalam banyak pemberitaan, wilayah tambang sering digambarkan sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan mineral. Kalimat itu benar. Tetapi ada satu hal lain yang juga benar: tambang hampir tidak pernah datang ke tempat yang benar-benar kosong.
Di sana mungkin sudah ada desa yang berdiri selama puluhan tahun. Ada petani yang mengenal musim lebih baik daripada kalender. Ada nelayan yang memahami arah angin tanpa perlu melihat aplikasi cuaca. Ada masyarakat adat yang menjaga hubungan dengan tanah bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas mereka.
Ketika aktivitas pertambangan dimulai, yang berubah bukan hanya bentang alam. Cara hidup masyarakat ikut berubah.
Sebagian memperoleh pekerjaan baru. Sebagian membuka usaha yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Infrastruktur mulai dibangun. Jalan menjadi lebih baik. Aktivitas ekonomi meningkat.
Namun pada saat yang sama, ada pula yang kehilangan lahan, kehilangan ruang hidup, atau harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk beradaptasi. Dua kenyataan itu dapat hadir bersamaan. Karena itu, melihat tambang hanya dari satu sisi hampir selalu membuat kita kehilangan sebagian cerita.
Baca Juga: Senjata Pemusnah Massal Itu Bernama Microplastic
Dunia Tetap Membutuhkan Mineral
Saya juga tidak ingin jatuh pada kesimpulan sederhana bahwa semua tambang adalah sesuatu yang buruk. Faktanya, dunia modern berdiri di atas mineral.
Telepon genggam yang kita gunakan setiap hari membutuhkan nikel, tembaga, dan berbagai logam lainnya. Kendaraan listrik yang sering disebut sebagai bagian dari masa depan energi juga lahir dari hasil pertambangan. Panel surya, jaringan listrik, baterai penyimpanan energi, hingga pusat data yang menopang kecerdasan buatan sama-sama bergantung pada hasil bumi yang diambil dari bawah permukaan tanah.
Ironisnya, semakin dunia ingin bergerak menuju energi yang lebih bersih, kebutuhan terhadap beberapa jenis mineral justru semakin meningkat. Artinya, perdebatan tentang tambang tidak bisa disederhanakan menjadi memilih antara pembangunan atau lingkungan.
Kita membutuhkan keduanya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana memastikan kebutuhan terhadap mineral tidak membuat kehidupan di atasnya menjadi sesuatu yang dianggap bisa diganti begitu saja.
Baca Juga: Air yang Terlihat Bersih Belum Tentu Aman
Mungkin yang Kurang Bukan Tambangnya
Selama ini, setiap kali muncul konflik mengenai pertambangan, kita sering terjebak pada dua kubu yang saling berhadapan. Satu pihak berbicara tentang investasi, pertumbuhan ekonomi, hilirisasi, dan masa depan industri nasional. Pihak lain berbicara tentang kerusakan lingkungan, pencemaran, hilangnya hutan, dan nasib masyarakat sekitar.
Padahal mungkin persoalannya tidak sesederhana memilih salah satu. Persoalan yang sesungguhnya mungkin terletak pada cara kita mengambil keputusan.
Apakah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan benar-benar dilibatkan sejak awal? Apakah dampak lingkungan dinilai secara terbuka dan diawasi secara konsisten? Apakah keuntungan ekonomi yang dihasilkan juga kembali dalam bentuk pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat? Apakah reklamasi benar-benar dilakukan setelah aktivitas tambang berakhir, atau hanya menjadi janji di atas dokumen?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering jauh lebih menentukan daripada sekadar berapa ton mineral yang berhasil diangkat setiap tahun. Karena keberhasilan sebuah proyek pertambangan tidak hanya diukur dari banyaknya sumber daya yang berhasil diekstraksi. Ia juga diukur dari kualitas kehidupan yang ditinggalkan setelah aktivitas itu selesai.
Baca Juga: Apakah Semua Orang Indonesia Harus Makan Nasi?
Warisan Apa yang Ingin Kita Tinggalkan?
Bangsa-bangsa yang kaya sumber daya alam sering menghadapi dilema yang sama. Sumber daya memberikan peluang besar untuk mempercepat pembangunan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak selalu otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Perbedaannya sering terletak pada tata kelola.
Negara yang mampu mengelola sumber daya dengan baik biasanya tidak hanya menghitung nilai mineral yang dijual hari ini. Mereka juga menghitung apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya ketika cadangan itu suatu saat habis.
Indonesia tentu membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia juga membutuhkan industri yang kuat agar tidak terus-menerus menjadi pengekspor bahan mentah. Semua itu merupakan tujuan yang penting.
Namun, dalam setiap keputusan mengenai tambang, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita simpan lebih lama. Bukan hanya berapa banyak yang berhasil kita ambil dari dalam bumi. Melainkan juga, kehidupan seperti apa yang masih dapat tumbuh di atas tanah yang sama setelah semua itu selesai.
Karena jika kita tak berhenti melihat hanya dengan sebelah mata, sebuah gunung tidak hanya menyimpan nikel, emas, atau batu bara. Ia juga menyimpan mata air, hutan, cerita, ingatan, dan kehidupan manusia yang selama ini tumbuh bersamanya. Jika semua yang kita hitung hanyalah isi perut bumi, sementara kehidupan di atasnya terus berkurang tanpa pernah benar-benar masuk ke dalam perhitungan, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan hanya cara kita menambang, melainkan juga cara kita memaknai arti sebuah pembangunan. []
Bandung, 7 Juli 2026