Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai kabar yang membuat dunia terasa semakin berat. Perang, konflik politik, krisis ekonomi, korupsi, bencana, pemutusan hubungan kerja, hingga berbagai bentuk ketidakpastian seolah datang tanpa jeda dan memenuhi ruang perhatian publik.

Di Indonesia, suasana seperti itu juga mudah ditemukan. Media sosial dipenuhi keluhan tentang biaya hidup, pekerjaan, pendidikan, pelayanan publik, dan berbagai persoalan yang membuat banyak orang merasa masa depan tidak lagi secerah yang dibayangkan. Tidak sedikit pula yang memandang berbagai survei tentang optimisme atau tingkat kepuasan publik dengan rasa skeptis karena dianggap tidak selalu selaras dengan pengalaman yang mereka rasakan sehari-hari.

Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diajukan. Jika dunia benar-benar terasa seburuk itu, mengapa begitu banyak orang masih terus merencanakan masa depan?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan paradoks yang menarik. Sebab di tengah berbagai kabar buruk yang terus mengalir, manusia tetap menikah, membangun keluarga, membuka usaha, menanam pohon, menyekolahkan anak, menolong sesama, dan membuat berbagai keputusan yang hanya mungkin dilakukan oleh orang yang masih percaya bahwa masa depan layak diperjuangkan.

Harapan ternyata tidak selalu muncul dalam bentuk pernyataan optimistis. Sering kali ia hadir dalam bentuk tindakan yang sangat biasa.

Baca Juga: Bangsa yang Terlalu Lelah untuk Marah

Manusia Ternyata Tidak Hidup dari Kabar Saja

Banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki hubungan yang cukup rumit dengan harapan. Mereka bisa merasa pesimis terhadap dunia secara umum, tetapi tetap optimistis terhadap kehidupan pribadi mereka sendiri.

Fenomena itu terlihat dalam berbagai survei internasional. Ipsos Global Advisor dalam sejumlah risetnya menemukan bahwa banyak responden mengaku khawatir terhadap kondisi ekonomi, politik, dan arah dunia secara umum. Namun pada saat yang sama, sebagian besar tetap percaya bahwa kehidupan mereka sendiri masih dapat menjadi lebih baik di masa depan.

Paradoks tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik. Ketika berbicara tentang dunia, manusia sering melihat berbagai persoalan yang tampak sangat besar dan sulit dikendalikan. Namun ketika berbicara tentang hidupnya sendiri, mereka masih melihat ruang untuk bertindak, berusaha, dan membuat perubahan.

Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah berbagai kekhawatiran tentang ekonomi global, jutaan orang tetap membangun usaha baru setiap tahun. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 65 juta pelaku UMKM yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Jumlah sebesar itu tidak lahir dari pesimisme. Setiap usaha yang dibuka pada dasarnya adalah bentuk keyakinan bahwa masih ada peluang yang layak diperjuangkan.

Fenomena serupa terlihat dalam kehidupan keluarga. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari satu juta pernikahan masih tercatat setiap tahun di Indonesia. Di tengah berbagai kekhawatiran tentang biaya hidup, pendidikan, dan masa depan, jutaan orang tetap membuat keputusan besar untuk hidup bersama dan membangun keluarga.

Keputusan seperti itu tidak selalu lahir karena keadaan sedang ideal. Banyak yang justru melakukannya ketika situasi terasa tidak pasti. Namun ketidakpastian tidak otomatis menghilangkan harapan. Dalam banyak kasus, manusia memilih melangkah karena percaya bahwa masa depan tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai dibangun.

Barangkali karena itu, harapan tidak pernah benar-benar bergantung pada jumlah kabar baik yang diterima seseorang. Ia lebih sering tumbuh dari keyakinan bahwa hidup masih memiliki kemungkinan.

Baca Juga: Kenapa Hari Raya Qurban Masih Terasa Hangat di Tengah Dunia yang Semakin Individual?

Harapan Mungkin Lebih Kuat daripada yang Kita Kira

Salah satu data yang menarik untuk dibaca datang dari World Giving Index yang diterbitkan oleh Charities Aid Foundation. Dalam laporan tahun 2024, Indonesia kembali menempati peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia. Ini adalah tahun ketujuh berturut-turut Indonesia berada di posisi tersebut.

Fakta tersebut terasa menarik karena muncul di tengah suasana publik yang sering dipenuhi keluhan dan ketidakpuasan. Jika seseorang hanya membaca media sosial setiap hari, ia mungkin akan mengira masyarakat semakin individualistis dan semakin tidak peduli kepada sesama. Namun data menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Di luar ruang digital, masih banyak orang yang membantu tanpa diminta. Masih banyak yang berdonasi. Masih banyak yang menjadi relawan. Masih banyak yang meluangkan waktu dan tenaga untuk orang lain tanpa berharap menjadi berita utama.

Kenyataan itu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato besar atau slogan optimistis. Harapan sering kali hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang membuat kehidupan sosial tetap berjalan. Ketika seseorang membantu korban kecelakaan, mengajar anak-anak di daerah terpencil, mendampingi lansia, atau sekadar membantu tetangga yang kesulitan, ia sedang memperlihatkan bahwa kepercayaan kepada sesama belum hilang.

Di sisi lain, skeptisisme terhadap institusi memang menjadi fenomena yang semakin terlihat di banyak negara, termasuk Indonesia. Berbagai survei tentang kepuasan publik atau tingkat kepercayaan terhadap pejabat seringkali memicu perdebatan karena tidak selalu sejalan dengan suasana percakapan yang berkembang di masyarakat. Di ruang digital, kritik dan kekecewaan terhadap berbagai kebijakan sering kali terdengar jauh lebih keras dibandingkan angka-angka yang dirilis dalam survei resmi.

Namun, justru di situlah perbedaan penting perlu dipahami. Harapan tidak selalu sama dengan kepercayaan kepada institusi. Seseorang bisa saja kecewa terhadap pemerintah, pesimis terhadap politik, atau skeptis terhadap berbagai janji publik. Namun pada saat yang sama, ia tetap bekerja keras, membangun keluarga, membantu sesama, dan mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Dengan kata lain, harapan masyarakat seringkali bertahan bukan karena mereka percaya semua masalah akan selesai. Harapan bertahan karena mereka percaya hidup tetap harus dijalani.

Mungkin itulah yang membuat manusia mampu melewati berbagai zaman yang penuh ketidakpastian. Sejarah selalu dipenuhi perang, krisis ekonomi, konflik sosial, dan berbagai bentuk kesulitan lainnya. Namun di setiap generasi, selalu ada orang yang memilih membangun sesuatu. Selalu ada yang membuka sekolah, menanam pohon, mendirikan usaha, membuat karya, dan menolong orang lain.

Kabar buruk memang penting untuk diketahui. Ia membantu masyarakat memahami risiko, mengawasi kekuasaan, dan mengenali berbagai persoalan yang perlu diperbaiki. Namun kehidupan manusia tidak pernah hanya ditopang oleh kabar buruk.

Jika demikian, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah mengapa dunia terasa penuh masalah. Pertanyaan yang lebih menarik adalah mengapa begitu banyak orang tetap memilih berharap meskipun mengetahui berbagai masalah itu ada.

Jawabannya mungkin sederhana. Karena jauh sebelum manusia memiliki statistik, survei, atau media sosial, mereka sudah belajar bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh keadaan hari ini. Ada sesuatu dalam diri manusia yang terus mendorong mereka untuk membayangkan hari esok yang lebih baik. Dan selama dorongan itu masih ada, harapan tampaknya akan tetap bertahan, bahkan di tengah kabar buruk yang datang tanpa henti. [][Tim Kedaikata]