Bagi banyak orang, kanker sering langsung dikaitkan dengan rasa sakit, rumah sakit, dan perjuangan besar melawan penyakit. Padahal di balik itu, ada banyak hal kecil yang sering dirasakan penderita kanker tetapi sulit benar-benar dijelaskan kepada orang lain.
Setelah seseorang didiagnosis kanker, hidup biasanya berubah sangat cepat. Jadwal pengobatan berubah, tubuh mulai bereaksi berbeda, dan lingkungan sekitar perlahan ikut memperlakukan mereka dengan cara yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Sebagian orang mendapat perhatian yang sangat besar. Namun anehnya, perhatian itu kadang tetap tidak membuat mereka merasa benar-benar dipahami.
Karena dalam banyak kasus, yang melelahkan bukan hanya penyakitnya. Ada rasa takut yang datang diam-diam, ada perubahan hidup yang sulit dijelaskan, dan ada tekanan untuk terus terlihat kuat di tengah keadaan yang sebenarnya tidak mudah.
Dikutip dari buku After Breast Cancer [2008], Psikolog kesehatan Dr. Hester Hill Schnipper menjelaskan bahwa banyak pasien kanker mengalami kelelahan emosional yang tidak selalu terlihat dari luar. Orang lain sering fokus pada pengobatan fisik, sementara perubahan psikologis dan sosial yang dialami pasien justru berjalan lebih panjang dan lebih sunyi.
Akibatnya, tidak sedikit penderita kanker yang merasa harus menghadapi banyak hal sendirian meski dikelilingi banyak orang.
Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Dirasakan Penderita Hipertensi?
Banyak Penderita Kanker Ingin Didengar, Bukan Terus Diberi Nasihat
Ketika seseorang terkena kanker, lingkungan sekitar biasanya langsung bereaksi cepat. Ada yang memberi semangat, ada yang mengirim rekomendasi pengobatan, dan ada juga yang tanpa sadar terus membandingkan pengalaman pasien dengan cerita orang lain.
Niatnya mungkin baik. Namun bagi sebagian penderita kanker, terlalu banyak nasihat justru bisa terasa melelahkan.
Ada momen ketika seseorang sebenarnya hanya ingin didengar tanpa harus terus dianggap “harus kuat”. Ada hari-hari ketika tubuh terasa sangat lelah, tetapi mereka tetap merasa perlu tersenyum agar keluarga tidak ikut khawatir.
Psikiater dan penulis Dr. Elisabeth Kübler-Ross pernah menjelaskan bahwa pasien dengan penyakit serius sering mengalami tekanan emosional yang kompleks karena mereka tidak hanya menghadapi kondisi tubuhnya, tetapi juga respons sosial dari lingkungan sekitarnya. Perasaan takut, marah, bingung, atau sedih sering bercampur menjadi sesuatu yang sulit diungkapkan dengan sederhana.
Karena itu, banyak penderita kanker akhirnya lebih memilih diam dibanding harus terus menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Baca Juga: Tidur 8 Jam Sekarang Terasa Mewah buat Banyak Orang
Tubuh yang Berubah Kadang Membuat Seseorang Merasa Asing dengan Dirinya Sendiri
Pengobatan kanker sering membawa perubahan fisik yang besar. Rambut rontok, berat badan berubah, tubuh terasa cepat lelah, dan aktivitas sederhana yang dulu mudah dilakukan bisa tiba-tiba terasa berat.
Perubahan itu tidak selalu mudah diterima. Ada orang yang perlahan merasa kehilangan versi dirinya yang dulu karena tubuhnya tidak lagi terasa sama seperti sebelumnya.
Masalahnya, banyak perubahan itu terjadi di depan mata orang lain. Tatapan iba, komentar soal kondisi fisik, atau pertanyaan yang terus diulang kadang membuat penderita kanker semakin sadar bahwa dirinya sedang dipandang berbeda.
Profesor psikologi sosial Brené Brown dalam berbagai penelitiannya tentang kerentanan emosional menjelaskan bahwa manusia sangat membutuhkan rasa diterima ketika berada dalam kondisi paling rapuh. Ketika seseorang terus merasa dikasihani atau diperlakukan terlalu berbeda, muncul rasa kehilangan kendali atas identitas dirinya sendiri.
Mungkin itu sebabnya sebagian penderita kanker sebenarnya tidak selalu ingin diperlakukan secara istimewa. Banyak dari mereka justru ingin tetap dianggap sebagai manusia biasa yang masih punya kehidupan, humor, keinginan, dan identitas di luar penyakitnya.
Baca Juga: Cuaca Panas Bikin Orang Lebih Gampang Marah dan Lelah?
Kadang yang Dibutuhkan Bukan Kata-Kata Besar, Tapi Kehadiran yang Tenang
Dalam situasi seperti kanker, tidak semua hal bisa diperbaiki lewat kalimat motivasi. Ada kondisi ketika seseorang hanya butuh ditemani tanpa harus terus diberi nasihat atau dipaksa terlihat optimis setiap saat. Kadang hal sederhana seperti mendengarkan, membantu tanpa banyak bicara, atau tetap memperlakukan mereka dengan normal justru terasa jauh lebih berarti.
Psikolog klinis Dr. David Kessler pernah menjelaskan bahwa saat manusia menghadapi rasa takut dan ketidakpastian besar, kehadiran emosional sering lebih penting daripada jawaban yang sempurna. Banyak orang tidak membutuhkan solusi instan, tetapi membutuhkan rasa bahwa mereka tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Mungkin itu yang sering sulit dipahami dalam melihat penderita kanker. Mereka bukan hanya sedang melawan penyakit di tubuhnya, tetapi juga sedang berusaha menjaga dirinya tetap utuh di tengah rasa takut, perubahan hidup, dan perhatian yang kadang datang terlalu ramai sekaligus terlalu jauh memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.