Rasa nyeri muncul di kepala secara tiba-tiba. Kadang hanya terasa seperti tekanan ringan. Namun di waktu lain, sakitnya begitu kuat hingga sulit beraktivitas.
Banyak orang sering menyebut semua sakit kepala sebagai migrain. Padahal dalam dunia medis, migrain memiliki karakteristik yang berbeda dari sakit kepala biasa.
Memahami perbedaan keduanya penting agar seseorang dapat mengenali kondisi tubuhnya dengan lebih tepat. Penanganannya pun bisa berbeda, tergantung jenis sakit kepala yang dialami.
Sakit kepala biasa sering muncul karena faktor sederhana seperti kurang tidur, kelelahan, atau dehidrasi. Sementara migrain biasanya melibatkan proses neurologis yang lebih kompleks.
Baca Juga: Kenapa Leher dan Pundak Mudah Tegang?
Ciri Khas Migrain yang Perlu Dikenali
Migrain biasanya tak hanya menghadirkan rasa nyeri di kepala. Banyak penderita merasakan sensasi berdenyut yang cukup kuat, sering kali hanya pada satu sisi kepala.
Selain rasa nyeri, migrain juga dapat disertai gejala lain seperti mual, sensitif terhadap cahaya, atau sensitif terhadap suara. Pada beberapa orang, migrain bahkan diawali dengan gangguan visual yang dikenal sebagai aura.
Profesor neurologi Dr. Peter Goadsby dari King’s College London menjelaskan bahwa migrain merupakan gangguan neurologis yang melibatkan aktivitas saraf dan pembuluh darah di otak. Dikutip dari The Guardian, ia menyebut migrain sebagai "kondisi biologis yang nyata, bukan sekadar sakit kepala berat".
Durasi migrain juga cenderung lebih lama. Serangannya dapat berlangsung selama beberapa jam hingga lebih dari satu hari jika tidak ditangani.
Baca Juga: Tanda Tubuh Kurang Cairan Saat Berpuasa
Sakit Kepala Biasa dan Pemicu yang Sering Terjadi
Sakit kepala tipe tegang atau tension headache adalah jenis yang paling umum. Rasa nyerinya biasanya terasa seperti tekanan di sekitar dahi atau belakang kepala.
Kondisi ini sering dipicu oleh stres, kelelahan otot leher, kurang minum, atau terlalu lama menatap layar komputer. Intensitasnya biasanya lebih ringan dibanding migrain.
Menurut penjelasan yang dikutip dari Healthline, sakit kepala tipe tegang jarang disertai mual atau gangguan penglihatan seperti yang sering terjadi pada migrain.
Meski begitu, sakit kepala tetap perlu diperhatikan jika muncul terlalu sering atau semakin intens. Mengatur pola tidur, menjaga hidrasi, dan mengelola stres dapat membantu mengurangi frekuensinya.
Memahami sinyal tubuh menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan. Ketika seseorang mulai mengenali perbedaan antara migrain dan sakit kepala biasa, penanganan yang tepat juga menjadi lebih mudah dilakukan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]